TASIKMALAYA | TD – Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Pondok Pesantren Suryalaya memperingati milad ke-40 melalui Sidang Senat Terbuka dalam rangka Tasyakur Binikmat, Sabtu (5/9/2026).
Mengusung tema “Dari IAILM untuk Ummat: 40 Tahun Dedikasi, Inovasi, dan Peradaban”, puncak peringatan berlangsung di Gedung Sukriya Bakti, Kampus Latifah Mubarokiyah, Pondok Pesantren Suryalaya, Kabupaten Tasikmalaya.
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., dan Wakil Bupati Tasikmalaya, H. Asep Sopari Al-Ayubi, S.P., M.I.P.
Turut hadir Pangersa Umi, Hj. Yoyoh Sopiah bersama keluarga besar Pondok Pesantren Suryalaya, Ketua Umum Yayasan Serba Bakti Drs. H. Denny H. Gandasapoetra, MM., Rektor IAILM Dr. H. Asep Salahudin, M.Ag., jajaran senat, pimpinan lembaga di lingkungan pesantren, civitas akademika serta ratusan tamu undangan.
Delapan Hari Diisi Agenda Ilmiah dan Sosial
Peringatan milad ke-40 IAILM tidak hanya dipusatkan pada Sidang Senat Terbuka. Selama delapan hari, berbagai kegiatan ilmiah, olahraga, sosial, dan pengembangan kapasitas digelar untuk menyemarakkan momentum empat dekade perjalanan kampus.
Sejumlah agenda tersebut antara lain reuni akbar, turnamen bola voli tingkat siswa menengah se-Tasikmalaya dan Ciamis, bedah buku bunga rampai Menjelajah Zaman Merawat Iman, turnamen bulu tangkis, seminar internasional “Digital Sufism: The Transformation of the Tareka in the Cyber Era” yang diikuti sekitar 500 peserta secara hibrid, workshop kewirausahaan, santunan anak yatim, hingga bedah buku puisi karya penyair Malaysia.
Rangkaian kegiatan itu menjadi ruang refleksi sekaligus upaya memperkuat kontribusi IAILM dalam bidang pendidikan, sosial, intelektual, dan kebudayaan.
Direktur Diktis Soroti Kurikulum Cinta
Dalam orasinya pada Sidang Senat Terbuka, Direktur Diktis Kemenag RI Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., menekankan pentingnya implementasi “Kurikulum Cinta” yang digagas Menteri Agama RI.
Menurutnya, pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga harus menanamkan kecintaan atau mahabbah kepada Allah SWT.
“Ketika cinta kepada Sang Khalik sudah tertanam dengan baik, akan lahir kecintaan kepada sesama manusia, alam, dan seluruh makhluk Allah,” demikian pokok pesan yang disampaikan dalam orasinya.
Ia menilai nilai-nilai tersebut memiliki relevansi kuat dengan tradisi pendidikan dan keteladanan yang berkembang di Pondok Pesantren Suryalaya, termasuk ajaran yang diwariskan Pangersa Abah Anom, Syekh Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin RA.
Rektor: Empat Dekade Menjaga Khidmat Pendidikan
Sementara itu, Rektor IAILM Dr. H. Asep Salahudin, M.Ag., mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang institusi pendidikan yang didirikan Pangersa Abah Anom pada 5 September 1986 tersebut.
Menurutnya, perjalanan selama empat dekade tidak terlepas dari dukungan Yayasan Serba Bakti, para pendiri, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh pihak yang terus menjaga keberlangsungan IAILM di tengah perubahan zaman.
Ia juga menyampaikan sejumlah harapan civitas akademika, mulai dari peningkatan fasilitas ruang kelas, perluasan akses beasiswa, hingga aspirasi jangka panjang untuk mentransformasikan IAILM menjadi universitas.
Harapan tersebut, kata Rektor, menjadi bagian dari ikhtiar yang ditawasulkan pada momentum milad di hadapan Direktur Diktis Kemenag RI dan Wakil Bupati Tasikmalaya.
Momentum tersebut semakin istimewa karena bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Milad Pondok Pesantren Suryalaya ke-121.
Pondok Pesantren Suryalaya sendiri berdiri pada 5 September 1905, sehingga memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia.
Agama dan Negara dalam Satu Nafas
Dalam pidato rektoralnya, Asep Salahudin juga mengangkat pesan kebangsaan yang diwariskan Pangersa Abah Anom mengenai pentingnya hubungan harmonis antara agama dan negara.
Ia mengutip pesan:
“Kudu taat ka agama jeung nagara duanana kaulaan samistina.”
Pesan tersebut dimaknai sebagai ajakan untuk menaati agama dan negara secara proporsional. Dalam konteks tersebut, agama menjadi sumber nilai bagi kehidupan berbangsa, sementara negara hadir memberikan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat dan umat.
Dorong IAILM Tetap Kokoh di Era Digital
Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya, KH. Akhmad Masykur Firdaus A.R., S.I.Kom., melalui sambutan yang dibacakan H. Sufi Halwani, SE., MM., menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi IAILM selama 40 tahun dalam mengemban amanah pendidikan.
Ia berharap momentum milad menjadi energi baru bagi seluruh civitas akademika untuk terus berinovasi, memperkuat keikhlasan, serta meningkatkan ikhtiar dalam mencetak ulama dan cendekiawan yang mumpuni.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Serba Bakti Drs. H. Denny H. Gandasapoetra, MM., menegaskan pentingnya menjaga identitas kepesantrenan di tengah percepatan digitalisasi global.
Menurutnya, IAILM harus mampu menjadi salah satu benteng akhlaqul karimah, dengan kecerdasan intelektual mahasiswa tetap berjalan seiring dengan kedalaman spiritual dan dzikir.
Yayasan Serba Bakti, kata dia, berkomitmen mendorong peningkatan sarana dan prasarana serta memperkuat tata kelola perguruan tinggi agar IAILM mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri sebagai lembaga pendidikan berbasis pesantren.
Perkuat Sinergi Pendidikan, Pemerintah, dan Kementerian
Kehadiran Direktur Diktis Kemenag RI dan Wakil Bupati Tasikmalaya dalam Sidang Senat Terbuka menjadi bagian penting dari upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi keagamaan Islam, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.
Sinergi tersebut diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kapasitas intelektual, spiritual, dan akhlak.
Puncak peringatan Milad ke-40 IAILM Suryalaya ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan, kemajuan, dan keberlangsungan perjuangan pendidikan di lingkungan IAILM dan Pondok Pesantren Suryalaya.
Doa juga dipanjatkan agar keberkahan dan karomah para guru mursyid TQN Suryalaya, Syekh KH. Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad RA. dan Syekh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin RA., senantiasa menyertai seluruh civitas akademika IAILM Suryalaya. (NS)