Fenomena Tang Ping di China: Ketika Rebahan Dianggap Ancaman bagi Negara

waktu baca 9 menit
Sabtu, 18 Jul 2026 14:50 26 Nazwa

OPINI | TD – Oleh Prof. Yolanda Masnita Siagian. 

Today I don’t feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don’t feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
‘Cause today, I swear, I’m not doing anything, uh

I’m gonna kick my feet up, then stare at the fan
Turn the TV on, throw my hand in my pants
Nobody’s gon’ tell me I can’t, nah
I’ll be lounging on the couch, just chilling in my snuggie
Click to MTV, so they can teach me how to dougie
‘Cause in my castle, I’m the freaking man
(Bruno Mars).

Bruno Mars dengan Lazy songnya terfikir tentang fenomena dari Negara Tirai Bambu (Tiongkok). Bruno Mars sendiri adalah penyanyi pop, penulis lagu, produser, dan multi-instrumentalis Amerika yang telah meraih 11 Grammy Awards.

Dalam kaitan ini, ada satu cerita yang menurut saya lucu sekaligus agak menyedihkan kalau dipikir-pikir lagi. Suatu hari di tahun 2021, seorang pemuda dari Provinsi Sichuan, namanya Luo Huazhong, memutuskan berhenti dari pekerjaan pabriknya. Dia lalu naik sepeda sejauh lebih dari 1.600 kilometer menuju Tibet, tanpa rencana besar apa pun.

Sesampainya di sana, dia sadar satu hal sederhana: ternyata dia bisa tetap hidup cuma dengan kerja serabutan seadanya, tanpa harus ngoyo mengejar karier, rumah, atau status sosial seperti yang selama ini dituntut orang-orang di sekitarnya.

Dia lalu menulis semacam manifesto singkat di sebuah forum daring. Judulnya kira-kira “rebahan itu keadilan”. Isinya, kalau saya sederhanakan, semacam pertanyaan balik ke masyarakat: buat apa terus lari di roda hamster kalau ujung-ujungnya cuma bikin capek dan tidak pernah benar-benar sampai ke mana-mana.

Postingan itu meledak. Dan dari situ lahirlah istilah yang sekarang menjadi salah satu kata paling ikonik dari generasi muda China: tang ping (躺平), atau kalau diterjemahkan langsung, “berbaring rata”, lebih akrab kita kenal sebagai “lying flat”.

Saya suka menyebut ini sebagai kebalikan dari jouhatsu. Kalau di Jepang orang menghilang secara fisik dari kehidupan sosial, di China orang-orang muda ini memilih tetap ada, tetap kelihatan, tapi berhenti berpartisipasi secara penuh dalam permainan yang menurut mereka sudah curang sejak awal.

Roda Hamster Bernama 996

Untuk paham kenapa tang ping bisa menyebar secepat itu, kita perlu kenalan dulu dengan satu istilah yang jadi biang keladinya: budaya kerja “996”. Angka ini bukan kode rahasia, artinya sesederhana jadwal kerja jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari dalam seminggu.

Bayangkan saja, itu berarti nyaris tidak ada waktu buat hidup di luar kantor, ’nggak’ ada waktu buat pacaran serius, tidak ada waktu buat istirahat yang cukup, apalagi buat sekadar duduk santai menikmati hidup.

Yang bikin lebih parah, jam kerja begitu panjang pun ternyata tidak menjamin apa-apa. Harga properti di kota-kota besar China melonjak jauh melampaui kemampuan gaji generasi muda.

Persaingan kerja jadi begitu ketat sampai muncul istilah tersendiri buat menggambarkannya: neijuan (内卷) yang sering diterjemahkan sebagai “involusi” — situasi di mana semua orang berlomba semakin keras, tapi hasil yang didapat justru semakin kecil, karena semua orang lain juga berlomba dengan kerasnya yang sama.

Ibarat balapan yang semua pesertanya lari makin cepat, tapi garis finisnya ikut mundur menjauh, dan dari situlah lahir kelelahan kolektif. Bukan cuma capek fisik, tapi capek psikologis karena merasa segala usaha tidak pernah cukup dan tidak pernah benar-benar dihargai.

Generasi yang orang tuanya dulu diajari bahwa kerja keras pasti berbuah rumah, mobil, dan status, sekarang menyadari bahwa janji itu makin sulit ditepati, berapa pun keras mereka berusaha.

Jadi ”tang ping” lahir bukan sebagai gerakan protes yang teriak-teriak turun ke jalan. Dia lebih seperti bisikan kolektif yang pelan tapi menyebar luas: “Kalau begini caranya, mending saya berhenti ikut lomba.”

Kerja seadanya buat cukup makan. Tidak terburu-buru mengejar promosi. Tidak buru-buru nikah. Tidak maksa beli rumah. Dan yang penting, mengurangi keinginan buat belanja hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Kenapa Bikin Ekonom dan Pemasar Gelisah?

Di titik inilah cerita ini jadi menarik buat dibahas dari sudut pandang yang agak berbeda dari sekadar psikologi generasi. Coba pikirkan begini: seluruh mesin ekonomi modern, dan seluruh disiplin pemasaran yang kita kenal, dibangun di atas satu asumsi dasar yang jarang dipertanyakan, bahwa manusia pada dasarnya selalu ingin lebih.

Ingin rumah lebih besar, mobil lebih baru, gadget lebih canggih, status lebih tinggi. Seluruh strategi pemasaran, dari iklan sampai program loyalitas, pada akhirnya berdiri di atas asumsi ini: keinginan manusia itu nyaris tidak terbatas, tugas pemasar cuma mengarahkan keinginan itu ke produk tertentu.

Tang ping menantang asumsi itu secara langsung. Ketika sekelompok besar konsumen, dan yang penting, ini konsumen muda, kelompok usia yang biasanya jadi motor pertumbuhan ekonomi jangka panjang sengaja memutuskan untuk mengurangi keinginan mereka, seluruh mesin itu jadi pincang.

Muncul istilah baru yang mulai dipakai untuk menggambarkan gaya hidup ini: “Low-desire lifestyle”, gaya hidup rendah keinginan. Dan kalau ditarik ke bahasa pemasaran, ini sama saja dengan pasar yang total addressable market-nya (istilah untuk “total ukuran pasar yang bisa disasar”) justru menyusut dari dalam.

Bukan karena orangnya berkurang, tapi karena keinginan orangnya yang berkurang. Ini beda banget dengan resesi ekonomi biasa, di mana orang sebenarnya masih ingin belanja tapi tidak punya uang.

Tang ping lebih mengerikan buat pemasar karena ini soal keinginan yang memang sengaja dipadamkan. Orang yang tadinya jadi target sempurna buat iklan properti, asuransi pendidikan anak, mobil keluarga, sekarang justru bangga bilang “Saya ’nggak’ butuh itu semua.”

Bayangkan strategi marketing yang biasanya dibangun di atas rasa takut ketinggalan (FOMO) atau dorongan status sosial, tiba-tiba berhadapan dengan generasi yang bilang, “Saya sudah ’nggak’ peduli lagi dengan status.”

Ketika Negara Sendiri Jadi Pemain Pasar

Nah, ini bagian yang menurut saya paling menarik dari seluruh cerita tang ping. Biasanya kalau ada tren konsumen bergeser, pihak yang bereaksi paling cepat adalah perusahaan. Mereka meriset ulang, mengubah strategi kampanye, dan mencari segmen baru. Tapi dalam kasus tang ping, pihak yang paling gelisah justru negara.

Kenapa? Karena ekonomi China dalam skala besar sangat bergantung pada konsumsi domestik yang terus tumbuh, plus tenaga kerja muda yang terus produktif, menikah, punya anak, dan pada akhirnya jadi konsumen jangka panjang untuk properti dan berbagai kebutuhan keluarga.

Ketika sebagian besar generasi muda justru memilih menahan diri secara kolektif, ini bukan cuma soal selera pribadi, tapi ancaman langsung terhadap mesin pertumbuhan negara.

Presiden Xi Jinping sendiri pernah menyinggung soal ini secara terbuka, mendorong pentingnya menjaga mobilitas sosial dan menghindari apa yang disebutnya sebagai stagnasi kelas sosial serta sikap “involusi dan rebahan”.

Dan yang lebih ekstrem lagi terjadi belum lama ini. Pada akhir April 2026 Kementerian Keamanan Negara China merilis pernyataan resmi yang menyebut narasi tang ping sebagai bentuk upaya “infiltrasi ideologis”, dituduh sengaja disebarkan oleh kekuatan asing untuk melemahkan semangat generasi muda China dari dalam.

Coba resapi sejenak betapa luar biasanya ini. Sebuah sikap personal, memilih kerja seadanya, menunda nikah, tidak mau membeli rumah yang tadinya cuma dianggap tren media sosial yang agak nyeleneh, sekarang dibingkai serius sebagai ancaman keamanan negara.

Ini menunjukkan betapa pentingnya “demand” bagi sebuah negara sampai-sampai penurunan keinginan berbelanja rakyatnya sendiri dianggap setara dengan ancaman dari luar.

Rebahan yang Terus Bermutasi

Menariknya, tang ping juga tidak berhenti sebagai satu istilah tunggal. Dari sana lahir varian-varian baru yang makin ekstrem sesuai dengan tingkat kelelahan generasinya.

Ada istilah bai lan (摆烂) yang kira-kira bisa diterjemahkan sebagai “biarkan saja membusuk”, semacam level lanjutan dari tang ping, lebih pasrah lagi, semacam “toh sudah rusak, ya sudah biarkan saja daripada capek-capek diperbaiki.”

Ada juga istilah run (润), yang bunyinya memang sengaja dipilih mirip kata bahasa Inggris “run”, sebuah kode halus buat keinginan kabur ke luar negeri sepenuhnya, bukan cuma menahan diri dari kompetisi, tapi benar-benar keluar dari sistemnya.

Kalau kita bandingkan dengan jouhatsu, ada garis merah menarik yang menghubungkan semuanya. Baik jouhatsu di Jepang maupun tang ping-bai lan-run di China, sama-sama lahir dari tekanan sosial yang sama beratnya: tuntutan untuk terus produktif, terus sukses, terus memenuhi ekspektasi keluarga dan masyarakat, tanpa ruang untuk gagal atau sekadar lelah.

Bedanya cuma di cara meresponsnya. Orang Jepang yang tertekan cenderung menghilang secara diam-diam dan individual, sementara anak muda China memilih bertahan di tempat tapi menarik diri secara kolektif dari partisipasi ekonomi dan sosial.

Pelajaran Buat yang Bergelut di Dunia Pemasaran

Kalau saya coba tarik benang merahnya, tang ping ini semacam pengingat keras buat siapa pun yang bekerja di dunia pemasaran atau bisnis: jangan pernah menganggap keinginan konsumen sebagai sesuatu yang otomatis dan konstan.

Selama ini banyak model bisnis dibangun dengan asumsi generasi berikutnya akan terus mengikuti pola konsumsi generasi sebelumnya: kerja keras, naik kelas sosial, beli rumah, beli mobil, punya keluarga, lalu ulangi siklusnya lagi ke anak-anaknya. Tang ping membuktikan asumsi itu bisa runtuh kalau tekanan hidupnya sudah melewati titik yang wajar.

Dan ada satu hal lagi yang menarik: reaksi negara terhadap tang ping justru menunjukkan sesuatu yang jarang kita sadari, yaitu bahwa negara sendiri sebenarnya berperilaku seperti pemain pasar raksasa.

Negara juga punya kepentingan supaya “demand” tetap tinggi, karena pertumbuhan ekonomi nasional pada akhirnya bergantung pada rakyatnya yang terus bekerja, terus berbelanja, terus punya anak yang nantinya jadi tenaga kerja dan konsumen baru lagi.

Begitu sebagian besar warganya justru memilih keluar dari siklus itu secara sukarela, negara jadi punya insentif yang sama seperti perusahaan yang kehilangan pelanggan: mencoba segala cara untuk mengembalikan keinginan itu, mulai dari pidato pejabat, sampai — dalam kasus paling ekstrem — membingkainya sebagai ancaman keamanan.

Penutup: Rebahan sebagai Bentuk Perlawanan Paling Sunyi

Kalau saya lihat lebih jauh, ada semacam ironi menarik di sini. Tang ping lahir dari kelelahan personal seorang pemuda yang cuma ingin naik sepeda ke Tibet dan hidup lebih tenang. Tapi karena dilakukan oleh cukup banyak orang secara bersamaan, tindakan personal yang kelihatannya sepele itu berubah jadi isu ekonomi nasional, bahkan isu keamanan negara.

Ini mengingatkan pada pembelajaran bahwa pasar dalam kasus ini bahkan negara sekalipun pada dasarnya sangat rapuh terhadap perubahan kolektif dalam keinginan manusia. Selama bertahun-tahun kita diajari bahwa yang menentukan arah ekonomi adalah kebijakan besar, suku bunga, atau investasi asing.

Tapi tang ping menunjukkan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan justru karena itu lebih mengganggu: kadang yang cukup untuk mengguncang sebuah sistem besar hanyalah cukup banyak orang biasa yang di saat bersamaan memutuskan untuk berhenti menginginkan apa pun.

Prof. Yolanda Masnita Siagian adalah Dekan FEB Universitas Trisakti. (*)

LAINNYA