Mahasiswa asal Amerika Serikat bersama dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) mengunjungi sentra pembuatan tempe di Kampung Bencongan RW 01, Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Jumat (26/6/2026), untuk mempelajari proses produksi tempe sebagai bagian dari program Summer Course. (Foto: Ist) TANGERANG | TD – Sebanyak sembilan mahasiswa dari Sandburg College dan Sauk College, Amerika Serikat, mengunjungi sentra pembuatan tempe dan keripik tempe di Kampung Bencongan RW 01, Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Jumat (26/6). Kunjungan yang didampingi dua orang pendamping serta dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) tersebut bertujuan memperkenalkan tempe sebagai produk pangan khas Indonesia yang memiliki nilai budaya, sejarah, dan potensi ekonomi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Summer Course yang diselenggarakan Sandburg College dan Sauk College bekerja sama dengan Faculty-Led Program Universitas Pelita Harapan (UPH) yang dikelola oleh Global Partnership and International Office (GPIO) dalam mata kuliah Bisnis Internasional. Program tersebut juga menjadi kelanjutan dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) sebagai wujud kontribusi UPH dalam pemberdayaan masyarakat.
Selama berada di Kampung Bencongan, para mahasiswa diajak melihat secara langsung proses produksi tempe di sentra milik Rohman, mulai dari pengolahan kedelai hingga menjadi tempe siap konsumsi. Kegiatan kemudian dilanjutkan ke sentra keripik tempe milik Triyono untuk mempelajari pengolahan produk turunan tempe yang memiliki nilai tambah.
Selain menyaksikan proses produksi, para mahasiswa mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab bersama para pelaku UMKM. Mereka memperoleh penjelasan mengenai proses pembuatan tempe, pengembangan produk olahan, hingga berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil dalam mempertahankan kualitas dan mengembangkan usahanya.
Menurut dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPH, Benny Aristo, S.T., MGSCM., Kampung Bencongan dipilih karena memiliki potensi yang sangat relevan sebagai lokasi pembelajaran.
“Lokasinya dekat dengan kampus, memiliki produk unggulan berupa tempe, dan selama ini telah menjadi lokasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dosen UPH. Selain itu, kawasan ini juga sedang digagas menjadi Kampung Tematik Wisata dan Edukasi Tempe, sehingga menjadi tempat yang tepat bagi mahasiswa untuk belajar langsung mengenai kolaborasi antara bisnis, masyarakat, dan budaya lokal,” ujarnya.
Program ini turut didampingi dosen Program Studi Manajemen FEB UPH, yakni Ir. Leroy Samy Uguy, M.A., Ph.D., Benny Aristo, S.T., MGSCM., dan Dr. Apriani Simatupang, S.E., M.M., bersama staf UPH yang berperan sebagai fasilitator dan penghubung dengan masyarakat.
Berdasarkan keterangan Ketua RW 01 Bencongan, Dadi, di kawasan tersebut saat ini terdapat sedikitnya 45 perajin tempe yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Keberadaan puluhan perajin tersebut menjadikan Kampung Bencongan sebagai salah satu sentra produksi tempe yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi berbasis UMKM.
Sebelumnya, Camat Kelapa Dua Dadang Sudrajat menggagas Kampung Bencongan RW 01 sebagai Kampung Tematik Wisata dan Edukasi Tempe. Menurutnya, kunjungan mahasiswa dari Amerika Serikat semakin menguatkan potensi kawasan tersebut sebagai destinasi pembelajaran yang mampu menarik perhatian masyarakat internasional.
“Ketertarikan mahasiswa asing untuk datang dan belajar langsung proses pembuatan tempe menjadi bukti bahwa Kampung Bencongan memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi. Dengan sedikitnya 45 perajin tempe yang masih aktif berproduksi, kawasan ini memiliki modal yang sangat kuat untuk dikembangkan sebagai Kampung Tematik Wisata dan Edukasi Tempe,” ujar Dadang.
Benny Aristo berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam memperkenalkan potensi lokal Indonesia kepada dunia internasional.
“Harapan kami, tempe dapat semakin dikenal sebagai bahan pangan mendunia dengan keunikan dan kekhasan yang tidak dimiliki negara lain. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa, sekaligus menjadi wadah bagi universitas untuk memberikan dampak konkret dalam pengembangan komunitas sekitar. Dengan terciptanya sinergi antara kampus dan masyarakat, kami berharap kegiatan ini dapat mendukung rencana Kampung Bencongan menjadi Kampung Tematik Wisata dan Edukasi Tempe, sehingga memberikan manfaat ganda, yaitu mempromosikan produk lokal sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia,” pungkas Benny. (*)