Kongres GSNI 2026, Ananta Wahana: Jangan Terjebak Politik Praktis, Perkuat Ideologi

waktu baca 3 menit
Jumat, 26 Jun 2026 10:29 58 Redaksi

SURABAYA | TD — Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) periode 1987–1990, Ananta Wahana, mengingatkan seluruh kader GSNI agar tidak terjebak dalam politik praktis yang bersifat dukung-mendukung. Menurutnya, penguatan ideologi dan kaderisasi harus menjadi prioritas utama organisasi dalam menjawab tantangan zaman. Pesan tersebut disampaikan Ananta untuk mengapresiasi pelaksanaan Kongres GSNI yang berlangsung di Surabaya pada 25–27 Juni 2026.

Ananta menilai kongres tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus meneguhkan kembali jati diri GSNI sebagai organisasi kader pelajar yang berorientasi pada pengabdian kepada bangsa.

“Di tengah situasi yang serba pragmatis, hilangnya tanggung jawab sosial dan minimnya pemahaman ideologi menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, kader GSNI jangan bersikap reaksioner dan jangan terlibat dalam politik praktis yang bersifat dukung-mendukung,” ujar Ananta, Jumat (26/6/2026).

Ia menegaskan, GSNI harus mampu menjadi wadah persemaian kader nasional yang melahirkan generasi muda berkarakter, berintegritas, serta memiliki komitmen terhadap kepentingan bangsa dan negara.

“GSNI harus menjadi wadah persemaian kader nasional. Organisasi ini harus hadir di mana-mana, tumbuh menjadi taman sari Nusantara yang melahirkan kader-kader terbaik bagi masa depan Indonesia,” katanya.

Menurut Ananta, sebagai organisasi yang menghimpun pelajar SMP dan SMA, GSNI juga harus menjadi kawah candradimuka bagi pembentukan karakter generasi muda Indonesia.

“GSNI harus menjadi kawah candradimuka bagi remaja dan siswa Indonesia yang tangguh, bermental pejuang, tidak mudah mengeluh, dan tidak menjadi generasi yang cengeng,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar GSNI tetap berpegang teguh pada slogan organisasi, yakni “Menari, Menyanyi, Belajar, Bekerja, dan Berjuang.” Menurutnya, slogan tersebut bukan sekadar semboyan, melainkan cerminan gerakan pelajar yang kreatif, produktif, dan memiliki semangat juang.

Ananta juga menekankan bahwa ideologi harus dipahami bukan hanya sebagai konsep berpikir, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat.

“GSNI harus terus belajar ideologi, karena ideologi bukan hanya menjadi cara berpikir, tetapi juga menjadi cara hidup,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengimbau para senior GSNI agar tidak memaksakan cara pandang generasi terdahulu kepada kader-kader muda. Menurutnya, setiap generasi memiliki tantangan dan ruang perjuangan yang berbeda sehingga perlu diberikan kebebasan untuk berinovasi.

“Biarkan GSNI berkembang sesuai tantangan zamannya. Generasi muda harus diberi ruang untuk berkreasi dan menemukan bentuk perjuangannya sendiri,” katanya.

Ananta juga mengingatkan kader-kader baru agar tidak terjebak dalam politik aliran yang dapat menghambat proses kaderisasi dan merusak persatuan organisasi.

Menutup pernyataannya, Ananta menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader dan senior yang telah bekerja keras membangkitkan kembali GSNI sejak organisasi itu lahir kembali pada 2018.

“Saya mengucapkan terima kasih atas segala usaha dan kerja keras dalam membangkitkan kembali GSNI sejak lahir kembali pada 2018. Semoga GSNI terus berkembang menjadi organisasi pelajar yang progresif, berideologi, berpihak kepada kepentingan rakyat, serta mampu melahirkan kader-kader bangsa yang siap mengabdi untuk Indonesia,” pungkasnya. (*)

LAINNYA