Benyamin Optimistis Tangsel Terus Tekan DBD, Gerakan Jumantik Jadi Senjata Utama

waktu baca 3 menit
Kamis, 25 Jun 2026 20:38 37 Nazwa

KOTA TANGSEL | TD – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berhasil mencatatkan nol kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak 2024 hingga pertengahan 2026. Capaian tersebut disebut menjadi hasil kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat melalui berbagai program pencegahan, salah satunya Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran aktif masyarakat dalam memantau dan memberantas sarang nyamuk di lingkungan masing-masing.

Hal itu disampaikan Benyamin saat menghadiri peringatan ASEAN Dengue Day (ADD) Kota Tangerang Selatan Tahun 2026 di Aula Blandongan, Puspemkot Tangsel, Kamis (25/6/2026). Kegiatan tersebut juga dihadiri Sekretaris Daerah Kota Tangsel Bambang Noertjahjo, jajaran perangkat daerah, tenaga kesehatan, serta para Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

“Sejak tahun 2024, 2025, dan sampai hari ini tingkat kematian akibat DBD itu sudah nol di Tangsel. Ini merupakan hasil berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat,” kata Benyamin.

Menurutnya, keberhasilan menekan angka kematian akibat DBD merupakan hasil kerja sama yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader kesehatan, hingga masyarakat terus bergerak bersama melakukan langkah-langkah pencegahan.

Benyamin menjelaskan, upaya pengendalian DBD di Tangsel telah dilakukan secara sistematis sejak lama. Bahkan, gerakan pemberantasan sarang nyamuk bermula dari inisiatif warga melalui pembentukan kelompok Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di wilayah Pamulang pada 2016.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kasus DBD tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya. Namun, pemerintah terus berupaya menekan jumlah kasus sekaligus mempertahankan capaian nol kematian akibat penyakit tersebut.

“Alhamdulillah saat ini angka keterjangkitan DBD di Tangsel terus cenderung menurun. Itu memang tidak bisa kita nolkan, hanya bisa kita batasi. Tetapi yang bisa kita nolkan adalah tingkat kematian akibat DBD,” ujarnya.

Untuk mempertahankan capaian tersebut, Pemkot Tangsel terus menggalakkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik. Program ini mengajak setiap keluarga secara rutin memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, seperti bak mandi, wadah penampungan air, hingga bagian bawah dispenser.

“Saya harapkan gerakan satu rumah satu Jumantik ini terus menjadi kebiasaan masyarakat dan tumbuh menjadi kesadaran bersama untuk memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk,” tegas Benyamin.

Selain itu, Pemkot Tangsel juga menjalankan program RW Bebas Jentik sebagai bentuk apresiasi bagi lingkungan yang berhasil menjaga wilayahnya bebas dari jentik nyamuk. Penilaian dilakukan melalui inspeksi mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Menurut Benyamin, program tersebut telah mendorong banyak wilayah semakin aktif melakukan pencegahan DBD. Bahkan, sejumlah RW telah memperoleh sertifikasi RW Bebas Jentik.

“Sudah banyak RW yang mendapatkan sertifikasi RW Bebas Jentik. Ini menjadi motivasi bagi wilayah lain agar semakin aktif melakukan pencegahan bersama terhadap penyakit DBD,” katanya.

Ke depan, capaian wilayah yang berhasil mempertahankan status bebas jentik akan menjadi bahan evaluasi bagi kecamatan maupun kelurahan yang masih memiliki tingkat temuan jentik cukup tinggi.

Benyamin optimistis upaya kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat akan terus menekan angka kasus DBD di Tangsel dalam beberapa tahun mendatang.

“Sekarang saja sudah lebih baik. Memang kalau bebas jentik nyamuk tidak, tetapi nol kematian akibat DBD angkanya terus kita tekan dan itu sangat mungkin,” pungkasnya. (Idris Ibrahim)

LAINNYA