OPINI | TD — Dalam tradisi keilmuan Islam, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan atau popularitas. Para ulama klasik meletakkan standar yang tinggi bagi seorang pemimpin. Imam Al-Jurjani dalam Kitab At-Ta’rifat mendefinisikan imam sebagai:
الإمام هو الذي له الرئاسة العامة في الدين والدنيا جميعًا
“Imam adalah orang yang memiliki kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia secara menyeluruh.”
Definisi singkat ini sesungguhnya mengandung makna yang sangat mendalam. Seorang pemimpin ideal harus mampu mengintegrasikan dua kompetensi utama sekaligus: kapasitas spiritual dan kecakapan manajerial. Ia tidak hanya dituntut memahami agama, menjaga nilai-nilai moral, serta menjadi teladan akhlak, tetapi juga harus memiliki kemampuan mengelola organisasi, membaca tantangan zaman, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Dalam perspektif ini, kepemimpinan ibarat seorang nakhoda kapal. Pengetahuan agamanya menjadi kompas moral yang menjaga arah perjalanan, sementara kecakapan mengelola urusan dunia menjadi kemudi yang memastikan kapal mampu berlayar menghadapi gelombang dan sampai ke tujuan dengan selamat.
Karakter kepemimpinan seperti itulah yang banyak dilekatkan pada sosok Gus Abdus Salam Sohib (Gus Salam). Sebagai ulama yang tumbuh dari lingkungan pesantren dan ditempa melalui proses panjang pengabdian di Nahdlatul Ulama, Gus Salam memiliki fondasi keilmuan dan spiritual yang kuat. Di sisi lain, pengalaman panjangnya dalam berbagai struktur organisasi NU membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan tata kelola yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan organisasi modern.
Komitmen Gus Salam untuk membesarkan NU lahir dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat dan organisasi saat ini. Karena itu, orientasi perjuangannya tidak dibatasi oleh kepentingan kelompok tertentu. Ia memilih berdiri di atas semua golongan, mengayomi seluruh elemen nahdliyin, serta menjadikan kemajuan NU sebagai tujuan bersama.
Belakangan, ada upaya yang kerap mengaitkan Gus Salam dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Padahal, kedekatan tersebut lebih merupakan hubungan historis dan ideologis yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan NU dan keluarga besar pendirinya. Hingga kini, Gus Salam tidak pernah menjadi bagian dari struktur PKB. Kehadirannya dalam sejumlah kegiatan partai pun tidak berbeda dengan para kiai dan tokoh masyarakat lainnya yang hadir karena undangan, bukan karena keterikatan struktural maupun kepentingan politik praktis.
Justru rekam jejak Gus Salam menunjukkan bahwa jalur pengabdiannya selama ini berfokus pada NU. Melalui berbagai amanah yang diemban dalam organisasi, ia telah menunjukkan kesungguhan dalam merawat tradisi, memperkuat kaderisasi, dan menjaga peran NU sebagai penopang kehidupan keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.
Dalam konteks itulah, banyak kalangan menilai Gus Salam memenuhi kriteria kepemimpinan yang dirumuskan para ulama: memahami persoalan agama sekaligus peka terhadap persoalan dunia. Ia memiliki kompas moral yang kokoh dan kemampuan mengelola dinamika organisasi yang kompleks.
Pada akhirnya, NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi milik semua warga nahdliyin, bukan milik satu kelompok atau kepentingan tertentu. Kepemimpinan yang mengayomi, mempersatukan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi jam’iyah dan jamaah. Semangat itulah yang tercermin dalam komitmen Gus Abdus Salam Sohib untuk berdiri di atas semua golongan demi kejayaan dan kemajuan Nahdlatul Ulama.
Penulis: H. Ahmad Imron (Gus Imron)
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falahiyah, Cisoka. Anggota DPRD Provinsi Banten Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. (*)