Ketika Harapan Menemukan Jalannya

waktu baca 4 menit
Minggu, 7 Jun 2026 08:16 50 Redaksi

KOLOM | TD — Nama saya tercantum sebagai calon mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Seharusnya itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup saya. Namun di balik rasa syukur tersebut, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran: bagaimana saya akan membayar biaya kuliah?

Saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah bekerja sebagai mitra Grab dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara ibu mengurus keluarga dan menjadi tempat saya berbagi cerita serta keluh kesah. Sejak kecil saya terbiasa melihat bagaimana kedua orang tua berjuang memenuhi kebutuhan keluarga di tengah berbagai keterbatasan. Karena itu, diterima di perguruan tinggi bukan hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga kekhawatiran.

Saya bahkan sempat mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan kuliah. Bukan karena kehilangan keinginan untuk belajar, melainkan karena takut menjadi beban bagi orang tua. Di tengah keraguan tersebut, keluarga, guru, dan orang-orang terdekat terus memberikan dukungan. Mereka meyakinkan saya bahwa pendidikan adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.

Keyakinan itulah yang mendorong saya mencari berbagai peluang beasiswa. Saya mendaftar ke sejumlah program, mulai dari KIP Kuliah hingga GrabScholar. Setiap formulir yang saya isi membawa harapan yang sama: menemukan jalan agar tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa menambah beban keluarga.

Saat itu, KIP Kuliah menjadi harapan terbesar saya. Saya menunggu hasil pengumuman dengan penuh keyakinan. Namun ketika hasilnya keluar, nama saya tidak tercantum sebagai penerima. Kekecewaan itu sempat membuat saya mempertanyakan bagaimana saya akan melanjutkan kuliah. Meski demikian, saya mencoba menerima kenyataan bahwa satu kegagalan tidak berarti seluruh kesempatan telah berakhir.

Beberapa waktu kemudian, saya menerima kabar bahwa saya lolos tahap administrasi Beasiswa GrabScholar dan berhak mengikuti tes online. Harapan yang sempat meredup kembali menyala.

Namun perjalanan menuju beasiswa tersebut ternyata tidak mudah.

Pada hari pelaksanaan tes, laptop yang saya gunakan berulang kali mengalami gangguan. Di saat yang sama, listrik di rumah padam sehingga koneksi internet menjadi tidak stabil. Saya memutuskan mencari tempat dengan jaringan yang lebih baik, tetapi hambatan lain kembali muncul. Motor yang saya gunakan tiba-tiba mogok di tengah perjalanan.

Saat itu saya sempat merasa lelah dan ingin menyerah. Rasanya setiap langkah yang saya ambil selalu dihadang persoalan baru. Namun saya terus mengingat tujuan awal saya: memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Setelah berbagai kendala tersebut teratasi, saya akhirnya berhasil menyelesaikan tes.

Saya mengira perjuangan telah selesai. Ternyata beberapa hari kemudian saya kembali dikejutkan oleh informasi bahwa data pengerjaan tes saya tidak masuk ke sistem. Nama saya dianggap tidak mengikuti tes.

Kabar itu tentu mengecewakan. Seluruh usaha yang telah saya lakukan seolah tidak tercatat. Beruntung, panitia memberikan kesempatan tes ulang bagi peserta yang mengalami kendala teknis. Kesempatan kedua itu tidak saya sia-siakan. Saya mempersiapkan semuanya dengan lebih matang dan memastikan seluruh kebutuhan tes telah siap.

Alhamdulillah, tes ulang berjalan lancar.

Tahap berikutnya adalah wawancara. Saya kembali meminta doa dan restu dari kedua orang tua sebelum mengikutinya. Dukungan mereka selalu menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Berkat suasana wawancara yang nyaman dan pewawancara yang ramah, saya dapat menjawab pertanyaan dengan lebih tenang dan percaya diri.

Setelah seluruh tahapan selesai, tibalah masa yang paling menegangkan: menunggu hasil akhir. Setiap hari saya memeriksa email dan informasi terbaru dengan perasaan campur aduk. Saya berharap, tetapi juga takut kembali kecewa.

Hingga akhirnya hari yang ditunggu datang.

Saya dinyatakan lolos sebagai Awardee Beasiswa GrabScholar 2024.

Saat membaca pengumuman tersebut, saya langsung sujud syukur. Air mata yang jatuh kali ini bukan karena kekecewaan, melainkan rasa syukur yang begitu besar. Perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian akhirnya menemukan jawabannya.

Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Beasiswa juga menghadirkan kepercayaan, tanggung jawab, dan motivasi untuk terus berkembang. Menjadi penerima GrabScholar mendorong saya untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan dengan sebaik-baiknya.

Selama menjalani perkuliahan, saya bergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Dari sana saya memperoleh pengalaman, relasi, dan pelajaran berharga yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas. Saya belajar bekerja sama, beradaptasi, serta mengembangkan potensi diri melalui berbagai kegiatan dan interaksi dengan banyak orang.

Dari perjalanan ini saya menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar, melainkan juga tentang proses bertumbuh. Keterbatasan ekonomi memang dapat menjadi tantangan, tetapi tidak harus menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Banyak jalan yang mungkin tidak terlihat pada awalnya, tetapi akan terbuka bagi mereka yang terus berusaha mencarinya.

Ketika mengingat kembali perjalanan sejak dinyatakan lolos SNBP hingga menjadi Awardee GrabScholar, saya memahami bahwa setiap hambatan membawa pelajaran tersendiri. Penolakan mengajarkan saya untuk tidak bergantung pada satu kesempatan. Berbagai kendala yang muncul mengajarkan saya untuk tetap tenang dan mencari solusi di tengah kesulitan.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa kegagalan tidak selalu menutup jalan. Terkadang, ia hanya mengarahkan kita menuju kesempatan yang lebih tepat. Ketika satu pintu tertutup, keberanian untuk terus mencoba sering kali menjadi kunci yang membuka pintu berikutnya.

Penulis: Alfiatur Rohmah
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA