Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi) KOLOM | TD — Saya tidak pernah hidup satu zaman dengan Soekarno. Ketika Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970, saya bahkan belum lahir. Seperti kebanyakan generasi yang tumbuh setelah masanya, saya mengenal dirinya melalui buku pelajaran, biografi, dokumentasi sejarah, artikel media massa, hingga rekaman pidato yang kini mudah ditemukan di berbagai platform digital.
Karena itu, hubungan saya dengan Soekarno pada awalnya hanyalah hubungan antara seorang pembaca dengan tokoh sejarah. Saya mengenalnya sebagai Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, presiden pertama yang disegani dunia, sekaligus orator ulung yang mampu menggerakkan jutaan orang melalui kata-katanya.
Namun, jika ditanya kapan saya benar-benar mulai mengenal Soekarno, jawabannya bukan ketika membaca buku sejarah. Saya mengenalnya melalui seorang guru.
Namanya Bambang Haryoko.
Bagi kami yang pernah menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Cisoka pada medio 1993–1996, ia bukan sekadar guru dan pembina Pramuka. Ia adalah sosok yang menanamkan kecintaan kepada bangsa melalui cara yang sederhana, tetapi membekas sangat lama.
Pada usia belasan tahun, konsep nasionalisme tentu masih terasa abstrak. Kami belum memahami makna kebangsaan sebagaimana yang diperdebatkan para akademisi atau politikus. Dunia kami saat itu hanyalah ruang kelas, lapangan sekolah, kegiatan Pramuka, serta lingkungan kampung tempat kami tumbuh.
Namun Kak Bambang mampu menjembatani dunia sederhana itu dengan gagasan-gagasan besar tentang Indonesia.
Ia tidak mengajarkan cinta tanah air melalui ceramah panjang. Ia tidak meminta kami menghafal teori-teori kebangsaan. Sebaliknya, ia memperkenalkannya melalui kebiasaan sehari-hari: disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kerja keras, dan kesungguhan dalam belajar.
Di tengah keterbatasan yang dimiliki sebagian besar siswa saat itu, nilai-nilai tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan kami.
Banyak dari kami berasal dari keluarga sederhana. Tidak sedikit yang tumbuh dengan berbagai keterbatasan ekonomi. Dalam situasi seperti itu, bermimpi besar sering kali terasa seperti sesuatu yang jauh dari jangkauan.
Karena itulah Kak Bambang kerap bercerita tentang Soekarno muda.
Ia mengisahkan bagaimana Bung Karno lahir bukan dari keluarga berada. Ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang hidup sederhana. Namun keadaan tidak membuat Soekarno menyerah pada nasib. Dengan semangat belajar yang tinggi, ia menempuh pendidikan hingga menjadi insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung.
Bagi kami, cerita itu bukan sekadar kisah sejarah.
Cerita itu adalah harapan.
Melalui kisah Bung Karno, kami belajar bahwa masa depan tidak ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan. Bahwa anak-anak dari kampung kecil pun berhak memiliki cita-cita besar. Bahwa pendidikan adalah jalan untuk memperluas kemungkinan hidup. Dan bahwa bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang berani melampaui keterbatasan yang mereka miliki.
Tanpa kami sadari, cerita-cerita itu menumbuhkan optimisme.
Kami mulai percaya bahwa kerja keras dapat mengubah keadaan. Kami mulai berani membayangkan masa depan yang sebelumnya terasa mustahil. Kami mulai memahami bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Hari ini, puluhan tahun setelah masa-masa itu berlalu, saya menyadari bahwa pelajaran terpenting yang diberikan Kak Bambang bukanlah tentang sejarah, melainkan tentang bagaimana gagasan besar dapat hidup melalui keteladanan.
Belakangan saya mengetahui bahwa kedekatannya dengan sosok Bung Karno bukanlah sesuatu yang sepenuhnya jauh. Ayah dan ibunya merupakan perwira Angkatan Darat pada masa Orde Lama. Lingkungan keluarganya membuat ia memiliki pengalaman yang relatif dekat dengan kehidupan Bung Karno dan keluarganya.
Namun, yang paling berkesan bagi saya bukanlah kedekatan historis tersebut.
Yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai yang diyakininya menjelma menjadi tindakan nyata.
Ia tidak hanya berbicara tentang kepemimpinan, tetapi menunjukkan bagaimana memimpin. Ia tidak hanya berbicara tentang pengabdian, tetapi menjalaninya sebagai seorang pendidik. Ia tidak hanya berbicara tentang nasionalisme, tetapi menghadirkannya dalam keseharian.
Dari sanalah saya memahami bahwa mengenal Soekarno tidak cukup hanya dengan mengagumi kebesarannya sebagai tokoh sejarah.
Mengenal Soekarno berarti memahami gagasan-gagasannya, lalu berusaha menghadirkannya dalam kehidupan nyata.
Di tengah era ketika keteladanan terasa semakin langka dan popularitas sering kali lebih dihargai daripada integritas, pelajaran itu menjadi semakin relevan. Kita menyaksikan bagaimana krisis kepemimpinan muncul di berbagai ruang kehidupan. Banyak orang memiliki jabatan, tetapi sedikit yang mampu menjadi teladan. Banyak yang pandai berbicara, tetapi tidak semuanya mampu menginspirasi melalui tindakan.
Karena itu, memperingati hari lahir Bung Karno setiap 6 Juni semestinya tidak berhenti pada seremoni atau romantisme sejarah semata. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkannya tetap hidup dan menemukan bentuknya dalam kehidupan masyarakat hari ini.
Sebab warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah kekuasaan yang pernah dimilikinya, melainkan nilai-nilai yang tetap bertahan setelah dirinya tiada.
Dan bagi saya, Soekarno yang saya kenal bukan hanya sosok yang tercatat dalam lembaran sejarah bangsa. Ia adalah semangat yang saya temui dalam keteladanan seorang guru yang mengajarkan bahwa mencintai Indonesia dimulai dari membangun diri sendiri, mengabdi kepada sesama, dan tidak pernah berhenti bermimpi tentang masa depan yang lebih baik.
Selamat Hari Lahir Bung Karno, Putra Sang Fajar.
Penulis: Mohamad Romli
Alumni SMP Negeri 1 Cisoka, Anggota Pramuka Gugus Depan Pasukan Siliwangi dan Dewi Sartika (1993–1996), Redaktur TangerangDaily.