Efek Domino Konflik Global: Dapur Warga Tangsel Tertekan Harga Minyak Goreng

waktu baca 2 menit
Selasa, 5 Mei 2026 21:34 45 Nazwa

KOTA TANGSEL | TD — Gejolak harga minyak dunia akibat konflik global mulai menimbulkan efek domino hingga ke dapur warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Harga minyak goreng di pasaran melonjak, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan kebutuhan pokok lainnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tangsel, Mochamad Hardi, mengatakan lonjakan harga sembako saat ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan global yang tengah terjadi.

“Ini fenomena global. Bukan hanya Indonesia, hampir semua negara merasakan dampaknya. Kita harus menyikapi ini dengan langkah yang tepat,” ujar Hardi, Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi pemicu utama. Biaya distribusi yang ikut terdongkrak membuat harga barang di tingkat konsumen sulit ditekan.

“Ketika BBM naik, biaya logistik ikut naik. Itu yang akhirnya mendorong harga di pasar,” katanya.

Tak tinggal diam, Pemerintah Kota Tangsel mulai menyiapkan berbagai langkah intervensi, seperti operasi pasar dan bazar murah. Namun, upaya tersebut diakui hanya menjadi solusi jangka pendek.

“Operasi pasar itu hanya untuk membantu masyarakat sementara. Ke depan, kita harus perkuat dari sisi pasokan dan distribusi agar lebih stabil,” jelasnya.

Pemkot juga tengah melakukan pemetaan ulang sumber pasokan komoditas untuk memastikan distribusi tetap lancar dan harga tidak terus meroket.

Di sisi lain, Kepala Bidang Stabilisasi Harga dan Pengawasan Disperindag Tangsel, Al Gozali, mengungkapkan faktor lain yang ikut mendorong kenaikan harga minyak goreng adalah mahalnya bahan baku kemasan plastik, yang berasal dari turunan minyak bumi.

“Bahan kemasan ikut naik karena harga minyak dunia. Akhirnya biaya produksi meningkat dan harga jual ikut terdampak,” ujarnya.

Produsen pun mulai mencari cara untuk bertahan, salah satunya dengan mengurangi volume isi tanpa menurunkan harga dari 2 liter menjadi 1,5 liter.

Tak hanya itu, kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) juga memengaruhi ketersediaan stok di pasar. Ketergantungan terhadap produksi dan ekspor membuat pasokan di dalam negeri menjadi terbatas.

“Stok berkurang, sementara permintaan tetap tinggi. Di beberapa daerah bahkan sudah melewati HET,” tambahnya.

Meski tekanan terjadi pada minyak goreng, sejumlah komoditas lain seperti beras, cabai, dan bawang masih terpantau fluktuatif namun belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Namun di lapangan, masyarakat mulai merasakan beban yang kian berat. Ati (38), warga Pamulang, mengaku harus memutar otak mengatur pengeluaran rumah tangga.

“Sekarang minyak goreng dua liter bisa Rp45 ribu, padahal sebelumnya Rp40 ribu. Belanja jadi makin berat, hampir semua ikut naik,” keluhnya.

Pemerintah pun terus memantau pergerakan harga untuk menekan potensi lonjakan inflasi. Di tengah situasi global yang belum menentu, stabilitas pasokan dan distribusi menjadi kunci agar daya beli masyarakat tetap terjaga. (Idris Ibrahim)

LAINNYA