Dr. Zulkifli, M.A. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | TD — Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses formal di sekolah, melainkan ikhtiar sadar manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi kebaikan dalam dirinya—baik jasmani maupun rohani—secara istiqamah. Dalam konteks ini, keluarga menjadi madrasah pertama dan utama, tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan, dipupuk, dan dibiasakan.
Sebuah keluarga yang kuat tidak lahir secara kebetulan. Ia dibangun oleh sosok ayah yang saleh dan ibu yang salehah, yang memiliki visi dan misi yang sejalan. Keduanya menjadi nahkoda yang mengarahkan perjalanan keluarga menuju tujuan yang sama: melahirkan generasi berkarakter, mandiri, dan berjiwa pejuang.
Layaknya institusi pendidikan, keluarga pun membutuhkan “kurikulum”—bukan dalam arti formal, tetapi berupa nilai-nilai yang diajarkan secara konsisten melalui teladan dan pembiasaan. Kurikulum ini tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus dihidupkan dalam keseharian.
1. Empati dan Kasih Sayang
Anak-anak perlu tumbuh dengan rasa peduli terhadap sesama. Empati bukan sekadar diajarkan, tetapi dicontohkan dalam sikap orang tua sehari-hari—bagaimana mereka memperlakukan orang lain dengan kelembutan dan kasih.
2. Kejujuran Sejak Dini
Kejujuran adalah fondasi kepercayaan. Anak yang dibiasakan jujur akan tumbuh menjadi pribadi yang dihormati dan dipercaya. Nilai ini harus ditanamkan sejak dini, dalam hal-hal kecil sekalipun.
3. Mental Pejuang
Kesuksesan tidak datang dengan instan. Ia adalah hasil dari usaha, doa, dan tawakal. Anak perlu diajarkan untuk tidak mudah menyerah, berani menghadapi tantangan, dan berjuang tanpa pamrih.
Pandemi Covid-19 menjadi ujian nyata bagi dunia pendidikan, termasuk dalam keluarga. Sistem pembelajaran daring memaksa orang tua untuk mengambil peran lebih besar dalam mendampingi anak belajar.
Tidak semua orang tua siap dengan teknologi atau memiliki kesabaran yang cukup. Namun di sinilah letak ujian sekaligus peluang: pandemi membuka ruang bagi orang tua untuk lebih terlibat dalam proses pendidikan anak.
Keberhasilan keluarga di masa ini bukan diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari kesungguhan, kerja sama, dan ketulusan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.
Penulis meyakini bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Perjalanan hidup yang dimulai dari kesederhanaan—menjadi loper koran, bekerja di bengkel, hingga mengajar—membentuk karakter kemandirian dan daya juang.
Perjalanan akademik pun bukan tanpa rintangan. Dengan usaha, doa, dan ketekunan, penulis akhirnya menyelesaikan program doktoral di tengah pandemi, sebuah pencapaian yang tidak lepas dari dukungan keluarga.
Dalam praktiknya, pendidikan keluarga yang efektif dapat disesuaikan dengan fase usia anak:
– Usia 0–7 tahun: Masa emas pembentukan karakter melalui kasih sayang dan keteladanan.
– Usia 7–14 tahun: Penanaman nilai kemandirian dan tanggung jawab.
– Usia 14–21 tahun: Orang tua berperan sebagai sahabat, membangun komunikasi yang terbuka dan setara.
Pendekatan ini menekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal instruksi, tetapi juga relasi.
Perjalanan menjadi kepala keluarga, mendidik anak-anak, hingga menyelesaikan studi doktoral bukanlah hal yang mudah. Semua membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan ketekunan.
Pada akhirnya, penulis menyelesaikan sidang terbuka doktoralnya pada 11 Juni 2020 secara daring, di tengah suasana pandemi. Sebuah capaian yang menjadi bukti bahwa perjuangan yang disertai doa akan berbuah manis.
Kurikulum keluarga yang dibangun dari nilai mendidik, mengajarkan, dan membiasakan akan melahirkan karakter yang istiqamah. Dari sinilah kesuksesan sejati bermula.
Sebab, sukses yang hakiki selalu dimulai dari keluarga—dan dari situlah ia meluas ke dunia.
Wallahu a’lam.
Penulis: Dr. Zulkifli, M.A. (*)