Jelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 H, Gubernur Banten Pastikan Pasokan Pangan Aman dan Harga Stabil

waktu baca 3 minutes
Rabu, 11 Feb 2026 17:15 0 Nazwa

KOTA SERANG | TD – Gubernur Banten Andra Soni menegaskan keseriusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dalam memastikan pasokan tetap tersedia dan harga pangan stabil menjelang Ramadan serta Idul Fitri 1447 Hijriah.

Upaya pengendalian diperkuat melalui koordinasi lintas lembaga dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Pernyataan tersebut disampaikan Andra Soni usai memimpin High Level Meeting (HLM) TPID Provinsi Banten di Pendopo Gubernur, Kota Serang, Rabu (11/2/2026).

Pertemuan itu menitikberatkan pada pengamanan pasokan dan kestabilan harga bahan pokok menjelang periode hari besar keagamaan.

Menurut Andra Soni, soliditas kerja sama seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor utama dalam menjaga laju inflasi. Dengan kolaborasi yang kuat, inflasi dapat dikendalikan sekaligus menjamin kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

“Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, kami mempererat sinergi semua pihak untuk menjaga inflasi. Sepanjang 2025 inflasi Banten tetap terkendali, bahkan lebih rendah dari rata-rata nasional. Di awal tahun ini pun masih berada dalam sasaran pemerintah,” ujarnya.

Ia menambahkan, perhatian utama Pemprov Banten saat ini adalah menjamin kecukupan stok pangan dan kelancaran distribusi di seluruh wilayah. Pemerintah daerah diharapkan mampu mencegah lonjakan harga yang berpotensi membebani masyarakat.

“Kita harus memastikan pasokan pangan aman menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Distribusi wajib berjalan lancar dan stok tersedia,” katanya.

Sebagai langkah nyata, Pemprov Banten bersama TPID menyiapkan berbagai program, seperti pasar murah, penguatan operasi pasar, dan percepatan distribusi komoditas strategis.

Program tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota, BUMD sektor pangan, pelaku usaha, serta instansi vertikal terkait.

Selain itu, Andra Soni menyatakan akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar untuk memantau langsung kondisi harga dan ketersediaan barang.

Pemprov Banten juga akan menindaklanjuti hasil pemantauan Bank Indonesia (BI) terkait perkembangan harga di daerah produsen.

Ia menegaskan, secara umum kondisi inflasi dan pasokan pangan di Provinsi Banten masih relatif stabil, didukung distribusi yang berjalan cukup baik.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten Ameriza M Moesa menjelaskan, secara historis Ramadan dan Idul Fitri kerap diiringi peningkatan tekanan harga akibat naiknya permintaan masyarakat.

Dalam tiga tahun terakhir, komoditas yang rutin memberikan andil terhadap inflasi antara lain bawang merah, bawang putih, cabai, daging unggas, tarif angkutan antarkota, serta emas perhiasan.

Dari sisi pasokan, neraca pangan Banten tahun 2026 diperkirakan mengalami surplus beras sekitar 58 ribu ton. Puncak panen diproyeksikan berlangsung pada Februari hingga Maret, bertepatan dengan periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Ameriza menilai struktur wilayah Banten yang mencakup daerah produksi dan konsumsi menjadi tantangan tersendiri. Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Cilegon merupakan pusat konsumsi, sedangkan sentra produksi berada di Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, dan Kabupaten Tangerang.

Menghadapi dinamika tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui TPID memperkuat strategi pengendalian inflasi dengan pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Langkah yang dilakukan mencakup intensifikasi operasi pasar dan gerakan pangan murah di berbagai daerah, penguatan pemantauan harga bersama Satgas Pangan, memastikan kecukupan stok di gudang serta ritel, dan menjaga distribusi tetap lancar melalui dukungan armada serta infrastruktur pendukung,” jelasnya. (*)

LAINNYA