TANGERANG | TD – Pertanian tradisional yang masih banyak terdapat di Indonesia sebenarnya merupakan harta kekayaan yang tidak dapat dinilai hanya dari segi ekonomis saja. Karena dalam masyarakat yang masih memiliki tradisi bertani konvensional tersebut masih banyak terdapat budaya yang mencerminan kearifan lokal yang selaras dengan lingkungan.
Misalnya saja tradisi wiwitan yang dilakukan sebelum menanam dan memanen padi di Jawa Tengah. Tradisi wiwitan (‘permulaan’ dalam bahasa Indonesia) merupakan persembahan sesaji yang dibarengi permohonan agar penanaman padi atau pemanenan berjalan lancar dan memberikan hasil melimpah. Bentuk tradisi seperti demikian sesungguhnya merupakan harmonisasi antara petani dengan alam.
Dalam tradisi pertanian konvensional, seperti wiwitan, terdapat unsur-unsur moral sosial dalam bergotong royong dan saling menghargai sesama warga tani, moral individu yang mengungkapkan bahwa petani bertanggung jawab atas alam dan pertaniannya, dan juga moral spiritual di mana petani memberikan penghormatan kepada alam yang memberikan tanah untuk pertaniannya.
Namun, meskipun tradisi seperti demikian istimewa, tetapi sudah banyak petani meninggalkannya dengan alasan tradisi tersebut sudah tidak rasional lagi dan juga memboroskan uang.
Padahal, tradisi yang mencerminkan kearifan lokal perlu digali lebih dalam karena dapat memberikan tuntunan untuk menjaga keseimbangan ekosistem agar alam yang dihuni manusia di bumi ini tetap dalam keadaan lestari.
Sebagai awal menyadari pentingnya kearifan lokal dalam pelestarian alam, setidaknya kita mengetahui berbagai macam tradisi pertanian konvensional yang terdapat di Tanah Air.
Berikut ini beberapa tradisi pertanian yang mencerminkan kearifan lokal.
1. Wiwitan di Jawa Tengah
Upacara wiwitan yang dilakukan sebelum menanam ataupun memanen padi merupakan permohonan sekaligus ucapan syukur para petani kepada bumi sebagai sedulur sikep dan kepada Dewi Sri yang menumbuhkan padi.
Upacara ini, di beberapa daerah, seperti Kebumen, masih dilakukan secara lengkap. Yaitu dengan uborampe seperti tumpeng, ingkung ayam jantan, pisang, urap, dan kelapa yang diarak dari rumah penduduk menuju persawahan. Tak ketinggalan, peralatan bertani seperti ani-ani dan bunga-kemenyan pun melengkapi persembahan tersebut.
Kemudian Mbah Kaum, yaitu sesepuh desa, mengucapkan doa yang diikuti dengan pemanenan pertama sebagai simbol laku tani. Uborampe kemudian dibagikan kepada seluruh warga yang hadir
2. Ngarot di Indramayu
Ritual adat sebelum memulai musim menggarap sawah ini awalnya dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur dari seorang kepala desa kepada seorang tetua yang telah mewakafkan tanah untuk digarap oleh pemuda-pemudi di daerah Sunda.
Tradisi ini kemudian berkembang sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, dan juga sebagai ajang saling kenal antara pemuda-pemudi atau cari jodoh.
Dalam ritual ngarot, semua pemuda-pemudi berhias semenarik mungkin. Salah satu acara dalam ngarot adalah penyerahan bibit kepada para pemuda untuk segera ditanam. Sedangkan para pemudi akan menerima kendi berisi air sebagai simbol pengairan untuk menyuburkan tanah.
Para tetua juga mengajarkan bagaimana mengatasi hama penyakit dalam bertani dengan memanfaatkan berbagai dedaunan. Pada akhir ritual, juga ditampilkan berbagai kesenian seperti tanjidor dan tari ronggeng.
3. Tradisi Ladang Berpindah Masyarakat Undau Mau di Kalimantan Barat
Kearifan lokal masyarakat Undau Mau adalah membagi wilayahnya ke dalam beberapa kawasan tanah adat. Di antaranya menjadi kawasan hutan lindung, hutan produksi, dan pemukiman. Melalui tata wilayah tersebut, mereka berusaha menjaga kelestarian alam tempat mereka tinggal.
Selain itu, masyarakat Undau Mau mempunyai tradisi ladang berpindah. Dengan cara ini, mereka memberikan waktu agar tanah yang telah digunakan bertani menjadi pulih kembali kesuburannya. Mereka juga membatasi penggunaan teknologi untuk menjaga agar cara bertaninya tetap ramah lingkungan.
Demikianlah 3 tradisi pertanian yang mencerminkan kearifan lokal yang terdapat di Tanah Air. Selain ketiganya, tentu terdapat masih banyak tradisi pertanian lainnya yang mengutamakan kelestarian alam. (*)