OPINI | TD — Sejarah pendidikan Indonesia merupakan perjalanan panjang dan kompleks, terjalin erat dengan dinamika sejarah bangsa. Bukan sekadar kronologi peristiwa, tetapi juga refleksi dari nilai-nilai, ideologi, dan tujuan yang mendasari setiap periode. Pemahaman yang komprehensif tentang landasan historis ini krusial untuk memahami sistem pendidikan Indonesia saat ini dan merancang masa depannya.
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, pendidikan di Indonesia telah berlangsung, terutama dalam konteks kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Sriwijaya, dan Majapahit. Sistem pendidikan saat itu bersifat informal, terintegrasi dengan kehidupan sosial dan keagamaan.
Pengetahuan dan keterampilan diturunkan secara turun-temurun, melalui jalur keluarga, guru spiritual (pandita), dan pelatihan vokasional dalam kerajinan, pertanian, dan seni. Prasasti dan artefak sejarah menjadi bukti adanya sistem pendidikan yang terstruktur, meski tidak seformal pendidikan modern.
Penting untuk mencatat bahwa penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk mengungkap secara detail sistem pendidikan pada masa ini, karena data yang tersedia masih terbatas. Menariknya, sistem pendidikan ini telah meletakkan dasar nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang hingga kini masih relevan.
Kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Jepang) menandai babak baru dalam sejarah pendidikan Indonesia. Namun, pendidikan pada masa ini sarat dengan kepentingan kolonial.
Zaman Kolonial Belanda (abad ke-17 – awal abad ke-20): Pendidikan Belanda didominasi oleh sistem pendidikan yang diskriminatif. Pendidikan Barat diperkenalkan, tetapi aksesnya terbatas bagi pribumi, terutama kalangan elit dan untuk mendukung kepentingan ekonomi kolonial. Sekolah-sekolah yang didirikan sering kali bertujuan untuk mencetak tenaga kerja terampil untuk kepentingan VOC dan pemerintahan kolonial. Penggunaan bahasa Melayu dan Belanda sebagai bahasa pengantar juga mencerminkan strategi untuk menguasai dan mengendalikan penduduk lokal. Meskipun demikian, periode ini juga menandai munculnya beberapa lembaga pendidikan yang kemudian menjadi cikal bakal perguruan tinggi di Indonesia.
Zaman Penjajahan Jepang (1942-1945): Meskipun singkat, periode ini memiliki dampak signifikan. Jepang menerapkan kebijakan pendidikan yang relatif egaliter dengan menghilangkan diskriminasi dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Hal ini menjadi momentum penting dalam pengembangan identitas nasional dan memperkuat penggunaan bahasa Indonesia. Namun, pendidikan pada masa ini juga sarat dengan propaganda dan indoktrinasi Jepang.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia menandai tonggak sejarah baru dalam pendidikan.
Zaman Kemerdekaan Awal (1945-1950-an): Pendidikan diprioritaskan untuk membangun bangsa dan menanamkan nilai-nilai patriotisme. Kondisi sosial politik yang tidak stabil pada masa ini sangat memengaruhi arah dan perkembangan pendidikan nasional. Perubahan orientasi dan tujuan pendidikan terjadi secara berkala.
Zaman Orde Lama (1950-an-1965): Pendidikan diarahkan untuk menciptakan warga negara yang demokratis, bertanggung jawab, dan berjiwa sosial. Sistem persekolahan yang terintegrasi, seperti yang diterapkan pada masa Jepang, dilanjutkan. Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi, termasuk keterbatasan sumber daya dan infrastruktur pendidikan.
Zaman Orde Baru (1966-1998): Pendidikan mengalami perubahan signifikan dengan penambahan pendidikan agama di semua jenjang pendidikan sebagai upaya untuk membasmi paham komunis. Sistem pendidikan yang tersentralisasi diterapkan, tetapi kesenjangan pendidikan antar daerah dan kualitas pendidikan tetap menjadi tantangan.
Zaman Reformasi (1998-sekarang): Reformasi pendidikan menekankan pada otonomi daerah, peningkatan kualitas guru, dan pemerataan akses pendidikan. Alokasi anggaran pendidikan yang signifikan, implementasi wajib belajar 9 tahun, dan program BOS merupakan upaya untuk meningkatkan mutu dan akses pendidikan.
Perjalanan sejarah pendidikan Indonesia mencerminkan upaya terus-menerus untuk menciptakan sistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dan karakter bangsa. Dari sistem pendidikan tradisional hingga modern, setiap periode memiliki tantangan dan capaiannya masing-masing.
Memahami landasan historis ini penting untuk membangun sistem pendidikan masa depan yang lebih inklusif, berkualitas, dan mampu menyiapkan generasi Indonesia untuk menghadapi tantangan global. Penelitian lebih lanjut, terutama pada periode pra-kolonial, sangat dibutuhkan untuk melengkapi pemahaman kita yang lebih utuh.
Penulis: Rosalinda, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)