OPINI | TD — Pendidikan, lebih dari sekadar transfer informasi, adalah proses pembentukan individu utuh – intelektual, emosional, dan sosial. Namun, selama ini, fokus pendidikan seringkali terpaku pada aspek akademis semata, mengabaikan pilar esensial yang seharusnya menjadi landasannya: psikologi.
Artikel ini akan membahas mengapa landasan psikologis bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang vital bagi sistem pendidikan yang efektif dan holistik.
Argumentasi bahwa psikologi merupakan aspek krusial dalam pendidikan didasarkan pada beberapa poin kunci.
Pertama, teori-teori belajar yang bersumber dari psikologi memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk memahami bagaimana individu belajar.
Menyeragamkan metode pengajaran tanpa mempertimbangkan perbedaan gaya belajar – seperti yang ditekankan oleh behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme – merupakan pendekatan yang tidak efektif dan bahkan kontraproduktif.
Mengabaikan perbedaan individual dalam cara memproses informasi, seperti yang diungkap oleh teori-teori kognitif, berarti mengabaikan potensi masing-masing peserta didik.
Konstruktivisme pula menekankan partisipasi aktif siswa dalam membangun pengetahuan; pengajaran yang pasif hanya akan menghasilkan pemahaman dangkal dan mudah dilupakan.
Kedua, pemahaman akan perkembangan psikologis peserta didik sangatlah penting. Teori-teori perkembangan dari Piaget dan Erikson, misalnya, menunjukkan bagaimana tahap-tahap perkembangan kognitif dan psikososial mempengaruhi kapasitas belajar anak.
Mengabaikan tahapan perkembangan ini akan berujung pada strategi pembelajaran yang tidak relevan dan bahkan merugikan. Contohnya, memaksakan konsep abstrak kepada anak usia dini yang belum memiliki kemampuan kognitif yang memadai hanya akan menimbulkan frustasi dan kegagalan.
Pendidikan yang efektif harus mampu menyesuaikan metode dan materi pengajaran dengan tingkat perkembangan masing-masing individu.
Ketiga, pengabaian kesehatan mental dan kesejahteraan emosional peserta didik merupakan kesalahan fatal. Lingkungan belajar yang menekan, kompetitif secara tidak sehat, dan kurang suportif akan berdampak negatif pada perkembangan psikologis anak.
Kecemasan, depresi, dan rendahnya rasa percaya diri akan menghambat proses belajar dan pertumbuhan mereka secara keseluruhan. Pendidikan seharusnya menciptakan suasana yang aman, inklusif, dan mendukung pengembangan emosi positif, memberdayakan siswa untuk mencapai potensi maksimal mereka.
Kesimpulannya, landasan psikologis bukan hanya sebagai tambahan dalam sistem pendidikan, melainkan sebagai fondasi yang tak tergantikan.
Mengabaikan aspek psikologis berarti mengabaikan kebutuhan fundamental peserta didik dan membatasi potensi mereka untuk berkembang secara menyeluruh.
Hanya dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip psikologi secara sistematis ke dalam kurikulum, metode pengajaran, dan lingkungan belajar, kita dapat menciptakan sistem pendidikan yang benar-benar efektif dan holistik, menghasilkan individu-individu yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan rasa percaya diri dan kemampuan yang optimal.
Penting bagi para pendidik untuk senantiasa mengkaji dan mengimplementasikan temuan-temuan terbaru dalam psikologi pendidikan untuk memastikan keberhasilan dan relevansi pendidikan bagi setiap individu.
Penulis: Zalfa Putri Caesariyanti, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)