Ilustrasi tangan yang terangkat dalam doa, menggambarkan harapan, keyakinan, dan penyerahan diri kepada Allah di tengah proses menanti jawaban atas setiap doa. (Foto: Magnific @jcomp) OPINI | TD — Akhir-akhir ini, beranda di salah satu media sosialku hampir dipenuhi dengan konten-konten berisi edukasi, atau mungkin cerita tentang pengalaman pribadi mengenai “cara agar doa cepat terkabul”. Bukan tanpa alasan mengapa konten-konten tersebut hampir memenuhi isi berandaku. Belakangan ini, memang aku sengaja mencari konten-konten yang sedikit banyak bisa membantuku membangun motivasi dalam hal ibadah maupun berdoa. Sesederhana konten yang berisi a day in my life seorang muslim yang menjalani harinya dengan sangat teratur, atau mungkin konten berisi challenge memperbaiki diri dalam 30 hari.
Dengan begitu, secara perlahan algoritma di media sosialku seolah membentuk sebuah circle yang berkesinambungan. Apa yang kemudian muncul di berandaku bukan lagi hanya konten-konten sederhana yang sebelumnya aku cari. Ikut muncul ke permukaan konten-konten yang bukan hanya memotivasi, tetapi juga berhasil membangun pikiran-pikiran yang rasanya ingin sekali aku suarakan.
Salah satu konten yang berhasil mengusik pikiranku adalah konten tentang “cara agar doa cepat terkabul”.
Sejauh ini, sudah banyak sekali cara agar doa cepat terkabul yang aku temui dan aku simak. Dari sekian banyak cara tersebut, ada beberapa hal yang sukses menarik perhatianku.
Salah satunya, beberapa kali aku menemukan konten kreator yang menjelaskan bahwa, “Jangan berdoa dengan kata semoga.”
Aku sempat bertanya-tanya. Kenapa? Apa alasan di balik tidak dianjurkannya mengucapkan kata “semoga” di dalam doa yang kita panjatkan? Padahal, definisi yang aku temukan dari kata semoga adalah sebuah bentuk harapan yang dalam dari seorang hamba.
Aku jelas tak tinggal diam. Aku bawa pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam benak ke jalan yang menuntunku menuju sebuah tempat penuh jawaban.
Ternyata, memang tak semudah itu.
Sebab, yang aku lakukan saat itu bukan hanya mencari jawaban atau alasan di balik mengapa kata “semoga” tidak dianjurkan dalam doa. Lebih dari itu, aku sedang mencari sebuah keyakinan. Sebuah jawaban yang benar-benar mampu membuatku yakin.
Karena bagiku, doa tanpa keyakinan bagaikan menanam benih sambil terus menggali tanah setiap hari hanya untuk memastikan apakah ia sudah tumbuh.
Bibitnya ada. Harapannya ada. Tetapi, keraguan dan ketidakyakinan membuat kita sulit memberi waktu kepada sesuatu yang sedang hendak tumbuh.
Namun, ternyata aku menemukan jawaban yang menarik.
Aku mulai mengerti mengapa sejak awal konten kreator tersebut hanya mengatakan “tidak dianjurkan”, bukan “dilarang”. Sebab, pada dasarnya, kata “semoga” cukup banyak ditemukan di dalam Al-Qur’an. Salah satu contohnya adalah ketika Nabi Ibrahim berkata kepada ayahnya:
“Dia (Ibrahim) berkata: Semoga keselamatan bagimu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia Mahabaik kepadaku.” (QS. Maryam: 47).
Dari sana, aku memahami bahwa persoalannya bukan sesederhana boleh atau tidak boleh mengucapkan kata “semoga” dalam doa.
Allah tidak melarang hamba-Nya mengucapkan kata tersebut. Namun, aku juga menemukan alasan yang tak kalah menarik mengenai mengapa dalam kondisi tertentu kita dianjurkan menghindari kata-kata yang terdengar seperti keraguan.
Setelah banyak menggali, aku mencoba mendalami kembali definisi kata “semoga”. Kata tersebut dapat dimaknai sebagai harapan, “sekiranya”, “jika Allah berkenan”, dan sebagainya.
Di titik itu, aku memahami satu hal baru: mungkin yang perlu diperbaiki bukan semata-mata kata “semoga”, melainkan bagaimana keyakinan kita ketika mengucapkannya.
Berdoa sebaiknya tidak dipenuhi dengan kata-kata yang seolah-olah menunjukkan keraguan terhadap Allah. Bukan berarti kita benar-benar harus membuang kata “semoga” dari setiap doa, melainkan kita bisa menggantinya dengan rangkaian kata yang lebih penuh keyakinan dan penghambaan.
Sebagai contoh, alih-alih hanya berucap, “Semoga Allah menyembuhkanku,” kita bisa berdoa, “Ya Allah, angkatlah segala penyakit yang ada di tubuhku, karena Engkau Maha Menyembuhkan dan Maha Penolong.”
Ada keyakinan di dalamnya. Ada permohonan. Ada pula pengakuan bahwa Allah adalah Zat yang memiliki kuasa untuk memberikan kesembuhan.
Aku juga semakin memahami bahwa dalam doa, rasanya begitu indah ketika permohonan disertai dengan pujian kepada Allah. Bukan karena Allah membutuhkan pujian dari kita, melainkan karena melalui pujian itu, kita kembali mengingat siapa yang sedang kita mintai pertolongan.
Jadi, baik dengan kata “semoga” maupun tanpa kata “semoga”, pada akhirnya doa tetaplah sebuah bentuk penghambaan yang begitu indah antara seorang hamba dan Allah.
Sebab, doa bukan hanya tentang bagaimana cara agar keinginan kita segera dikabulkan.
Doa adalah sebuah bentuk komunikasi yang tak mengenal waktu dan tak mengenal zaman. Ia adalah bentuk komunikasi paling canggih yang pernah dimiliki manusia: ketika kita tidak tahu harus berbicara kepada siapa, kita tetap memiliki tempat untuk mengadu; ketika tidak ada satu pun manusia yang benar-benar memahami isi kepala kita, Allah tetap mengetahui bahkan hal-hal yang belum mampu kita ucapkan.
Dan mungkin, pada akhirnya, yang paling penting dari sebuah doa bukanlah seberapa cepat ia terkabul.
Melainkan seberapa yakin kita bahwa ada Allah yang mendengar setiap kata yang kita panjatkan.
Penulis: Nazwa J. (*)