Nova Alya Nurlailita. (Foto: Dok. Pribadi Penulis)OPINI | TD — Di era perkembangan teknologi dan media sosial yang kian pesat, masyarakat semakin antusias mengabadikan momen keseharian mereka di ruang digital. Media sosial bukan lagi sekadar sarana berbagi, tetapi telah menjelma menjadi ruang budaya viral yang membentuk cara pandang dan pola perilaku. Dari sinilah fenomena Fear of Missing Out (FOMO) tumbuh dan menguat.
Menurut Alodokter, FOMO adalah perasaan cemas, takut tertinggal, atau khawatir melewatkan pengalaman, tren, maupun informasi penting yang dialami orang lain, terutama akibat paparan media sosial yang terus-menerus. Kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, bahkan masalah finansial karena dorongan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Namun, jika ditinjau lebih dalam melalui perspektif Ilmu Budaya Dasar, khususnya pada generasi Z, FOMO tidak selalu bermakna negatif. Alih-alih menjadi krisis makna, FOMO justru dapat memunculkan kesadaran baru yang mendorong perubahan positif dalam berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, pendidikan, dan nilai hidup.
Budaya viral secara tidak langsung memperkuat FOMO melalui siklus tren yang bergerak sangat cepat. Konten viral sering menampilkan kesuksesan, produktivitas tinggi, gaya hidup ideal, serta pencapaian akademik maupun nonakademik yang seolah hadir tanpa hambatan. Hal ini menciptakan ilusi bahwa kehidupan orang lain selalu berjalan mulus. Akibatnya, individu terdorong untuk terus mengikuti tren dan merasa tertekan ketika tidak mampu berpartisipasi. Dalam kondisi ini, media sosial tidak lagi berfungsi sebagai media komunikasi semata, melainkan sebagai ruang pembentukan nilai dan standar budaya baru.
Jurnalis Najwa Shihab, dalam berbagai forum publiknya, kerap menekankan pentingnya daya pikir kritis dalam menghadapi arus informasi media sosial yang memicu FOMO. Ia menyoroti bagaimana media sosial memberi tekanan tersendiri, terutama bagi generasi muda yang merasa harus selalu terlihat berhasil dan sempurna. Tekanan tersebut dapat berujung pada stres, kecemasan, hingga kecenderungan menyalahkan diri sendiri. Dalam konteks ini, FOMO lebih banyak lahir dari konstruksi budaya digital dibandingkan kebutuhan manusia yang bersifat mendasar.
Meski demikian, bagi generasi Z, FOMO tidak selalu identik dengan kecemasan. Banyak dari mereka justru sudah melek digital, kritis terhadap informasi, dan memiliki kesadaran sosial yang cukup kuat. Ketika melihat anak muda lain sukses membangun bisnis melalui media sosial, misalnya, rasa FOMO tidak berhenti pada iri atau minder, melainkan berubah menjadi dorongan untuk belajar dan mencoba berwirausaha. Dalam konteks ini, FOMO berfungsi sebagai “bensin” yang memacu semangat generasi Z untuk membangun kemandirian ekonomi dan mencari jalan keluar dari persoalan finansial. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi memanfaatkan tren untuk menciptakan peluang yang bermanfaat bagi masa depan.
Fenomena tersebut tampak dari menjamurnya anak muda yang mampu mengolah media sosial menjadi ladang peluang. Sosok Ucup, pemilik Niagara Fruit yang viral dengan produk jus buahnya, serta duo konten kreator Fahri dan Mas Nizar, menjadi contoh nyata. Kisah Mas Nizar yang merintis karier dari nol demi membantu keluarga menunjukkan bahwa rasa takut tertinggal tidak selalu berujung negatif. FOMO justru diolah menjadi daya juang—memacu keberanian untuk belajar berjualan, meningkatkan literasi ekonomi, dan mandiri secara finansial di usia muda.
Tidak hanya dalam bidang ekonomi, FOMO juga berkontribusi pada meningkatnya kesadaran generasi Z terhadap pentingnya pendidikan. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa mengandalkan sistem pendidikan dalam negeri saja belum tentu cukup untuk bersaing di tingkat global. Kesadaran ini melahirkan tren mencari alternatif pendidikan, seperti kuliah di luar negeri atau mengikuti program pertukaran pelajar internasional. Dorongan tersebut bukan semata demi gengsi sosial, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya kualitas pendidikan dan pengalaman global bagi masa depan. Dalam konteks ini, FOMO menjadi energi positif yang mendorong generasi Z aktif mencari beasiswa, meningkatkan kompetensi akademik, dan memperluas wawasan.
Fenomena FOMO dalam budaya digital tidak dapat dinilai secara hitam-putih. Dari sudut pandang Ilmu Budaya Dasar, FOMO memang berpotensi menjadi masalah ketika hanya berorientasi pada pengakuan sosial atau popularitas semu. Namun, pada generasi Z, FOMO juga memiliki sisi bermakna. Rasa takut tertinggal dapat diarahkan pada hal-hal konstruktif, seperti kepedulian terhadap kemandirian ekonomi, semangat menuntut ilmu, dan keinginan untuk hidup mandiri. Tantangan utama kita bukanlah menghapus FOMO, melainkan mengelolanya dengan bijak—melalui kesadaran diri, introspeksi, serta tujuan hidup yang jelas agar tidak terjebak dalam sekadar mengikuti tren yang kosong makna.
Penulis : Nova Alya Nurlailita
Mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. (*)