Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj, Duet Kepemimpinan Menjaga Khidmah NU

waktu baca 3 minutes
Selasa, 3 Feb 2026 11:02 0 Nazwa

OPINI | TD — Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), kepemimpinan tidak pernah dipahami sebagai panggung kehormatan. Ia adalah amanah yang berat, yang lebih banyak menuntut pengorbanan daripada tepuk tangan. Para masyayikh selalu mengingatkan, sing dadi pemimpin kuwi sing siap ngopeni, dudu sing pengin dipangku.

Karena itu, setiap kali NU memasuki masa transisi kepemimpinan, yang mengemuka bukan sekadar perbincangan figur, melainkan kegelisahan bersama: siapa yang mampu menjaga khidmah NU tetap lurus di jalan ulama, adab, dan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah?

Dalam suasana itulah, ikhtiar menghadirkan duet kepemimpinan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dan KH Said Aqil Siroj patut dibaca dengan kacamata khidmah, bukan ambisi. Duet ini bukan sekadar pasangan struktural, melainkan pertemuan antara harapan dan pengalaman warga NU.

Imam Al-Ghazali pernah meletakkan kaidah yang hingga kini hidup di pesantren: bahwa kepemimpinan hanya akan tegak bila ditopang oleh tiga perkara, yaitu ketaqwaan, akhlak yang mulia, serta ilmu dan kompetensi. Tiga hal ini bukan syarat administratif, melainkan laku hidup yang harus tampak dalam keseharian seorang pemimpin.

Gus Salam merupakan bagian dari mata rantai panjang keulamaan NU. Ia adalah dzurriyat KH Bisri Syansuri, muassis NU sekaligus pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Namun, dalam pandangan warga NU, nasab bukanlah keistimewaan yang diwarisi begitu saja. Ia adalah amanah yang harus ditebus dengan ilmu, adab, dan kesungguhan dalam berkhidmah.

Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso ini dikenal tekun dalam tradisi bahtsul masail. Gus Salam tidak hanya piawai membaca dan mengurai kitab kuning, tetapi juga cermat menerjemahkannya ke dalam bahasa zaman. Ia berupaya menjadikan fikih dan manhaj NU hadir sebagai penuntun, bukan sebagai bahan perdebatan. Inilah watak NU yang sejati: warisan keilmuan ulama dijaga, realitas zaman dijawab.

Pengalaman beliau dalam struktur jam’iyah NU—mulai dari Katib Syuriyah PBNU, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, hingga Wakil Ketua PWNU Jawa Timur—membentuknya sebagai sosok yang memahami dinamika NU dari dalam. Ia tumbuh melalui proses, mengenal perbedaan, dan terbiasa menyelesaikan persoalan dengan musyawarah dan adab.

Adapun KH Said Aqil Siroj, beliau adalah ulama sepuh yang telah lama menjadi rujukan warga NU. Sanad keilmuannya dari Lirboyo, Krapyak, hingga Ummul Qura Makkah adalah bekal yang kokoh. Pengalamannya memimpin PBNU selama dua periode menjadikannya sosok yang matang dalam menyikapi perubahan, sekaligus bijak dalam menjaga keseimbangan.

Sebagai Rais Aam, KH Said Aqil Siroj diharapkan mampu meneguhkan kembali peran Syuriyah sebagai penjaga arah dan ruh jam’iyah. Bukan hanya menjaga struktur, tetapi menjaga manhaj—agar NU tetap berada di jalan tengah, tidak berlebih-lebihan, dan tidak kehilangan jati diri.

Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj menghadirkan keseimbangan yang sejak awal menjadi karakter NU: antara generasi muda dan kiai sepuh, antara semangat pembaruan dan kearifan tradisi, antara ikhtiar lahir dan doa batin. Kepemimpinan yang tidak tergesa, tetapi juga tidak diam; yang berjalan pelan namun sampai tujuan—alon-alon asal kelakon.

Bagi warga NU, ikhtiar ini semestinya disambut dengan husnuzan. Sebab NU besar bukan karena satu figur, melainkan karena jam’iyah yang dirawat dengan keikhlasan dan adab. Jika amanah kepemimpinan kelak dipikul oleh mereka yang layak, maka kewajiban kita adalah membantu, mengingatkan, dan mendoakan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin NU, meluruskan niat mereka, meneguhkan langkah mereka, dan menjadikan setiap khidmah sebagai amal yang diterima. Sebab pada akhirnya, NU tidak sedang mencari siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling siap mengabdi.

Banten, Februari 2026

Penulis: H. Ahmad Imron
Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Banten, Pengasuh Pondon Pesantren Daarul Falahiyyah. (*)

LAINNYA