Berita Duka: Nyak Cut Farsiah Berpulang, Istri Pejuang Amran Zamzami Dikenang karena Kebaikan dan Kesederhanaannya

waktu baca 3 menit
Kamis, 15 Okt 2026 21:06 124 Redaksi

JAKARTA | TD — Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka menyelimuti keluarga dan kerabat atas berpulangnya Nyak Cut Farsiah, istri almarhum Amran Zamzami, pejuang kemerdekaan asal Aceh yang turut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di palagan Medan Area. Almarhumah wafat pada Selasa, 13 Oktober 2026, dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Kepergian Nyak Cut Farsiah meninggalkan duka bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Almarhumah dikenang sebagai sosok yang baik hati, sabar, sederhana, dan bersahaja. Di balik nama seorang pejuang yang tercatat dalam sejarah, Nyak Cut Farsiah juga meninggalkan kenangan tersendiri melalui keramahan dan ketulusan dalam kehidupan sehari-hari.

Mendampingi Keluarga Pejuang

Nama Amran Zamzami tercatat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Aceh dan Sumatera Utara. Lahir di Kutabuloh, Aceh Selatan, pada 10 Januari 1929, Amran merupakan salah seorang pemuda Aceh yang terjun ke medan perjuangan ketika usia kemerdekaan Indonesia masih sangat muda.

Pada akhir 1946, saat berusia sekitar 18 tahun, Amran berangkat dari Langsa menuju Medan untuk menghadapi pasukan Belanda. Ia kemudian bergabung dengan Resimen Istimewa Medan Area (RIMA), satuan yang menjadi bagian dari perjuangan para pejuang Aceh di Sumatera Utara. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sebagai prajurit pejuang.

Amran kemudian mengabadikan pengalaman dan catatan perjuangannya dalam buku Jihad Akbar di Medan Area, yang diterbitkan Bulan Bintang pada 1990. Buku setebal sekitar 500 halaman itu mendokumentasikan pengalaman seorang prajurit dalam perjuangan kemerdekaan di Aceh dan Sumatera Utara pada periode 1945–1949. Karya tersebut menjadi salah satu sumber tertulis untuk menelusuri pengalaman perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan.

Amran dan Nyak Cut Farsiah menikah pada 1961 dan dikaruniai tiga orang putri, Nini Amran, Lina Amran dan Elfira Amran (alm). Dalam perjalanan keluarga itu, Nyak Cut Farsiah menjadi bagian dari kehidupan seorang tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam perjuangan bangsa. Amran sendiri telah wafat di Jakarta pada 2005 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

Dikenang karena Keramahan

Semasa hidup, Nyak Cut Farsiah dikenal sebagai sosok yang hangat dan terbuka. Rumahnya selalu menjadi tempat singgah bagi para tamu, termasuk anggota IMAPA (Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh) yang datang bersilaturahmi. Tanpa membedakan latar belakang, almarhumah menyambut tamu dengan keramahan dan ketulusan.

Sikap baik hati, kesabaran, serta kesederhanaannya meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang pernah berinteraksi dengannya. Kini, ketika almarhumah telah berpulang, kenangan tentang pintu yang selalu terbuka dan hati yang lapang itu menjadi bagian berharga yang terus hidup dalam ingatan orang-orang yang mengenalnya.

Dalam sambutan pada prosesi pemakaman, Lina Amran, putri almarhumah, juga menyampaikan gambaran serupa tentang sosok ibunya. Kebaikan dan kesederhanaan Nyak Cut Farsiah menjadi kenangan yang menyertai penghormatan terakhir keluarga dan kerabat.

Prosesi pemakaman dihadiri keluarga, kerabat, anak-anak almarhumah, serta cucu-cucunya. Mereka mengiringi kepergian Nyak Cut Farsiah dengan doa dan penghormatan terakhir, melepas sosok ibu dan nenek yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga.

Kini, Nyak Cut Farsiah telah kembali ke hadirat Allah SWT. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhumah, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi kehilangan ini.

Selamat jalan, Nyak Cut Farsiah. Kebaikan, keramahan, dan ketulusan yang telah almarhumah tebarkan akan tetap hidup dalam kenangan orang-orang yang pernah mengenalnya. (*)

LAINNYA