Anak Desa, Guru Mesin, dan Hilangnya Ruang Berguru

waktu baca 3 menit
Jumat, 16 Okt 2026 17:50 143 Redaksi

OPINI | TD — Dahulu, seorang anak desa bisa mengenal banyak hal tanpa harus membuka buku. Ia belajar membaca musim dari petani, mengenal kesabaran dari orang tuanya, memahami sopan santun dari sesepuh kampung, dan menemukan arti kebersamaan ketika bermain di halaman atau membantu tetangga. Pengetahuan hadir melalui perjumpaan sehari-hari. Tidak selalu ada papan tulis, tetapi selalu ada pengalaman yang mengajarkan sesuatu.

Kini, pemandangan itu perlahan berdampingan dengan kebiasaan baru. Anak-anak semakin akrab dengan telepon pintar. Apa yang tidak diketahui dapat ditanyakan kepada mesin pencari atau kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dalam hitungan detik, mereka memperoleh penjelasan tentang pertanian, sejarah, bahasa, bahkan persoalan kehidupan. Perubahan ini tentu bukan sesuatu yang harus ditakuti. Namun, ada pertanyaan yang patut diajukan: ketika mesin semakin mudah memberikan jawaban, apakah kesempatan anak untuk belajar langsung dari kehidupan justru semakin berkurang?

Saya melihat persoalan ini bukan sebagai pertentangan antara desa dan teknologi, melainkan sebagai perubahan cara pengetahuan diwariskan. Mesin mampu menyajikan informasi, tetapi tidak mengalami kehidupan sebagaimana manusia. AI dapat menjelaskan cara menanam padi, tetapi tidak merasakan kecemasan petani ketika hujan tak kunjung turun. AI dapat menerangkan arti gotong royong, tetapi tidak ikut mengangkat beban tetangga yang sedang membangun rumah. Ada pengetahuan yang dapat dibaca, tetapi ada pula pemahaman yang hanya tumbuh melalui keterlibatan.

Pemikiran filsuf dan pendidik John Dewey dalam Experience and Education (1938) memberikan sudut pandang yang menarik. Dewey menekankan pentingnya pengalaman dalam proses belajar, meskipun tidak semua pengalaman otomatis menghasilkan pendidikan yang bermakna. Pengalaman perlu diolah melalui refleksi agar seseorang memahami apa yang dialaminya dan bagaimana memanfaatkan pengalaman tersebut untuk menghadapi persoalan berikutnya. Dalam konteks anak desa, lingkungan tempat tinggal sesungguhnya merupakan ruang belajar yang kaya, asalkan pengalaman di dalamnya dihubungkan dengan pengetahuan dan pemikiran kritis.

Sementara itu, Albert Bandura melalui teori belajar sosial, antara lain dijelaskan dalam Social Learning Theory (1977), menunjukkan pentingnya pengamatan dan peniruan perilaku dalam proses belajar. Anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, ketika hubungan anak dengan orang tua, guru, petani, perajin, dan tokoh masyarakat semakin jarang diisi dengan percakapan bermakna, kesempatan untuk menyerap pengetahuan praktis dan keteladanan pun dapat menyusut.

Di sinilah desa menghadapi tantangan tersendiri. Kemajuan digital seharusnya memperluas cakrawala anak, bukan memutus hubungan mereka dengan lingkungan sendiri. Jangan sampai anak lebih mengenal kehidupan yang ditampilkan di layar daripada sejarah kampungnya, lebih hafal informasi dari internet daripada cerita orang tuanya, atau menganggap pekerjaan masyarakat desa tidak menarik karena tidak banyak ditampilkan dalam budaya digital.

Lalu, apa yang dapat dilakukan? Sekolah dapat mengembangkan pembelajaran berbasis lingkungan dengan melibatkan petani, perajin, seniman, dan sesepuh sebagai narasumber. Anak dapat menggunakan AI untuk menyusun pertanyaan, kemudian memeriksa jawabannya melalui wawancara dan pengamatan langsung. Hasilnya dapat berupa arsip digital tentang sejarah kampung, pengetahuan pertanian, permainan tradisional, atau istilah bahasa Sunda yang mulai jarang digunakan. Keluarga pun perlu menyediakan waktu untuk berbincang, bercerita, dan bekerja bersama anak tanpa selalu diselingi layar.

Pada akhirnya, yang perlu kita selamatkan bukanlah masa lalu dari kemajuan zaman, melainkan hubungan manusia dengan sumber-sumber pengetahuannya. Teknologi boleh menjadi pintu menuju dunia yang lebih luas, tetapi desa tetap harus menjadi tempat anak belajar memahami kehidupan. Mesin dapat membantu menjawab pertanyaan, sedangkan manusia di sekitarnya memberikan pengalaman untuk menguji jawaban tersebut. Jika keduanya dipertemukan secara bijaksana, anak desa tidak harus memilih antara menjadi modern dan berakar pada budayanya. Ia dapat tumbuh sebagai generasi yang menguasai teknologi, mengenal lingkungannya, menghargai orang-orang yang mengajarinya, dan mampu membawa pengetahuan baru untuk memajukan kampung halamannya.

Oleh: Dr. Mubarok Somantri, M.Pd., CT., CICT.
Dosen UPI Bandung
Sekretaris Program Studi S1 PGSD, S2, dan S3 Pendidikan Dasar FIP UPI. (*)

LAINNYA