HUT ke-394 Kabupaten Tangerang: Di Balik Banjir Ucapan, Ada Suara Warga Cengkok yang Menunggu Jawaban

waktu baca 8 menit
Selasa, 13 Okt 2026 18:02 244 Redaksi

OPINI | TD — Pada 13 Oktober 2026, Kabupaten Tangerang memperingati hari jadinya yang ke-394. Ucapan selamat memenuhi media sosial, poster digital, spanduk, hingga baliho di berbagai sudut wilayah. Dengan slogan “Terus Bergerak, Semakin Berdampak”, perayaan ini membawa pesan tentang kemajuan, kerja, dan harapan bagi masa depan daerah.

Namun, di tengah semarak perayaan itu, ada persoalan yang mengajak kita melihat lebih jauh makna komunikasi pemerintah kepada masyarakat. Di Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengambil tindakan terhadap aktivitas operasional PT Sukses Logam Indonesia (PT SLI) yang mereka duga menimbulkan pencemaran lingkungan.

Berdasarkan laporan pemantauan partisipatif Aliansi Masyarakat Cengkok pada masa uji coba produksi 3–9 September 2026, warga mengeluhkan bau kimia menyengat, debu halus, dan kebisingan. Sejumlah warga juga melaporkan gangguan kesehatan, seperti mual, pusing, dan sakit tenggorokan. Bahkan, menurut keterangan aliansi warga, beberapa lansia di wilayah terdampak membutuhkan bantuan oksigen portabel akibat gangguan pernapasan.

Keluhan itu tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Kegiatan Taman Baca Masyarakat (TBM) dan pengajian anak-anak pada petang hari dilaporkan harus dihentikan karena bau dan kebisingan. Ruang belajar, interaksi sosial, dan kegiatan keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan warga ikut terganggu.

Informasi tersebut tentu perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan verifikasi oleh instansi berwenang. Namun, justru di sinilah pertanyaan penting bagi Kabupaten Tangerang pada usia ke-394: bagaimana makna kemajuan daerah jika sebagian warga masih harus memperjuangkan kenyamanan, kesehatan, dan hak mereka atas lingkungan hidup yang baik?

Ketika Ucapan Menjadi Ritual Sosial

Dalam perspektif ilmu komunikasi, ucapan ulang tahun daerah bukan sekadar rangkaian kata atau materi publikasi. Komunikasi juga dapat dipahami sebagai ritual sosial yang memperkuat identitas bersama, membangun rasa memiliki, dan mengingatkan masyarakat pada tujuan yang ingin dicapai.

James W. Carey, melalui pemikirannya tentang komunikasi sebagai ritual, menjelaskan bahwa komunikasi tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga memelihara keyakinan, nilai, dan kebersamaan dalam suatu masyarakat.

Dari sudut pandang ini, poster HUT Kabupaten Tangerang dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun identitas kolektif. Lambang daerah, foto pejabat, warna visual, dan slogan yang ditampilkan menghubungkan pemerintah dengan gagasan tentang pembangunan dan masa depan bersama.

Namun, ritual komunikasi tidak cukup dinilai dari seberapa luas pesan disebarkan atau seberapa banyak institusi memasang ucapan. Maknanya juga ditentukan oleh hubungan antara pesan tersebut dan pengalaman warga sehari-hari.

Ketika pemerintah mengomunikasikan semangat kemajuan, sementara warga Cengkok menyampaikan keluhan mengenai dugaan pencemaran, muncul ruang evaluasi antara pesan simbolis dan kenyataan sosial. Keduanya tidak otomatis saling membantah, tetapi harus dipertemukan melalui respons yang nyata.

Perayaan hari jadi seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat ikatan antara pemerintah dan masyarakat, termasuk dengan mendengarkan suara warga yang sedang menghadapi persoalan.

Dari Poster ke Pengalaman Warga

Poster digital dan baliho memiliki kelebihan dalam menyebarkan pesan secara cepat dan luas. Dalam hitungan detik, slogan pembangunan dapat menjangkau ribuan orang. Akan tetapi, luasnya jangkauan pesan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa komunikasi telah menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam kasus Cengkok, ukuran komunikasi yang bermakna bukan hanya seberapa sering pemerintah menyampaikan pesan tentang kemajuan, melainkan juga bagaimana keluhan warga diterima, diperiksa, dijelaskan, dan ditindaklanjuti.

Warga bukan sekadar penerima pesan pembangunan. Mereka adalah pihak yang mengalami langsung dampak kebijakan, aktivitas ekonomi, dan perubahan lingkungan di tempat tinggalnya.

Karena itu, komunikasi pemerintah semestinya tidak berjalan satu arah. Selain menyampaikan program dan capaian, pemerintah perlu menyediakan ruang dialog, menjelaskan proses pemeriksaan, serta memberikan informasi yang dapat dipahami masyarakat mengenai langkah penanganan persoalan.

Dalam konteks ini, keluhan warga Cengkok dapat dipandang sebagai pesan dari masyarakat kepada pemerintah. Pesan tersebut menuntut jawaban yang tidak cukup disampaikan melalui slogan atau seremoni, tetapi melalui proses penanganan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Foto Pejabat, Lambang Daerah, dan Representasi Kekuasaan

Dalam sejumlah poster ucapan HUT daerah, foto pejabat dan simbol institusi sering menempati posisi penting. Secara visual, keduanya merepresentasikan kepemimpinan, kewenangan, dan identitas pemerintahan.

Dalam kajian semiotika Roland Barthes, tanda tidak hanya menyampaikan makna langsung, tetapi juga dapat membentuk makna yang lebih luas melalui nilai dan keyakinan yang dilekatkan kepadanya.

Foto pejabat, misalnya, bukan hanya menampilkan sosok tertentu. Dalam konteks perayaan daerah, foto tersebut dapat menjadi simbol kehadiran negara, kepemimpinan, dan tanggung jawab publik. Slogan pembangunan juga dapat membentuk harapan bahwa pemerintah sedang bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun, simbol memiliki konsekuensi komunikasi. Ketika pemerintah menampilkan dirinya sebagai representasi pelayanan publik, masyarakat juga dapat menilai kehadiran pemerintah melalui pengalaman yang mereka alami.

Dalam kasus Cengkok, pertanyaan mengenai kehadiran pemerintah menjadi relevan: apakah warga memperoleh akses terhadap informasi yang memadai? Apakah keluhan mereka ditanggapi? Apakah hasil pemeriksaan dan langkah penanganan disampaikan secara terbuka?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa pemerintah telah mengabaikan warga. Sebaliknya, pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa makna representasi pemerintahan perlu dibuktikan melalui tindakan yang bisa diamati dan dievaluasi.

Simbol dalam poster dapat membangun harapan. Pelayanan publik dan penanganan masalah menjadi bagian dari proses untuk menjawab harapan itu.

“Terus Bergerak, Semakin Berdampak”: Berdampak bagi Siapa?

Slogan HUT ke-394 Kabupaten Tangerang, “Terus Bergerak, Semakin Berdampak”, mengandung dua gagasan utama: gerak dan dampak.

Gerak dapat merujuk pada program pembangunan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan pelayanan, maupun aktivitas pemerintahan. Sementara itu, dampak berkaitan dengan perubahan yang dirasakan masyarakat sebagai hasil dari berbagai upaya tersebut.

Persoalannya, dampak pembangunan tidak selalu dirasakan secara seragam. Pertumbuhan ekonomi dan aktivitas industri, misalnya, dapat menghadirkan peluang usaha serta lapangan kerja. Namun, aktivitas tersebut juga perlu dikelola agar tidak mengorbankan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan.

Kasus PT SLI di Cengkok memperlihatkan pentingnya melihat pembangunan dari lebih dari satu sisi. Di satu sisi terdapat kegiatan usaha yang memiliki dimensi ekonomi. Di sisi lain, terdapat keluhan warga mengenai bau, debu, kebisingan, dan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari.

Keluhan itu perlu diperiksa secara objektif, termasuk dengan menguji sumber pencemaran, kondisi operasional, kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan, dan dampak yang ditimbulkan. Apabila ditemukan pelanggaran, penanganan harus mengikuti ketentuan hukum dan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, pembangunan tidak semestinya hanya diukur melalui jumlah investasi atau aktivitas ekonomi. Kualitas lingkungan, kesehatan warga, keberlangsungan kegiatan sosial, serta kemampuan masyarakat menyampaikan keberatan juga merupakan bagian penting dari evaluasi pembangunan.

Slogan “Semakin Berdampak” akhirnya bukan hanya soal seberapa besar perubahan yang dihasilkan, tetapi juga tentang siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung risiko, dan bagaimana pemerintah memastikan keduanya diperhitungkan secara adil.

Hak Warga sebagai Bagian dari Makna Pembangunan

Dalam berita mengenai desakan warga Cengkok, Ketua Aliansi Masyarakat Cengkok, Ilham Roza, menyatakan bahwa warga menginginkan tindakan terhadap aktivitas pabrik yang mereka nilai mengganggu kehidupan sehari-hari. Aliansi tersebut meminta pemerintah memprioritaskan keselamatan warga dan hak atas lingkungan hidup yang sehat.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan bukan semata-mata urusan teknis antara perusahaan dan regulator. Ketika warga melaporkan gangguan kesehatan dan terhentinya kegiatan sosial, persoalan tersebut juga menyangkut kualitas hidup dan hubungan masyarakat dengan ruang tempat mereka tinggal.

Dalam negara hukum, penyelesaian persoalan semacam ini memerlukan pemeriksaan yang transparan, penegakan aturan yang konsisten, dan komunikasi yang dapat diakses warga. Pemerintah perlu menjelaskan apa yang sedang diperiksa, tindakan apa yang dapat diambil sesuai hasil pemeriksaan, serta bagaimana masyarakat dapat menyampaikan informasi dan memantau perkembangannya.

Di sinilah komunikasi publik bertemu dengan tanggung jawab pemerintahan. Mendengarkan warga bukan sekadar strategi untuk meredakan protes. Mendengarkan merupakan bagian dari upaya memahami persoalan sebelum menentukan tindakan.

Jika tuntutan warga tidak dapat langsung dipenuhi, pemerintah tetap berkewajiban menjelaskan dasar keputusan dan proses yang ditempuh. Sebaliknya, jika pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran, tindak lanjut perlu dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Keterbukaan seperti ini dapat membangun kepercayaan karena masyarakat tidak dibiarkan menebak-nebak apa yang sedang dikerjakan pemerintah.

Dari Seremoni Menuju Komunikasi yang Bermakna

Perayaan HUT ke-394 Kabupaten Tangerang tetap memiliki arti sebagai momentum memperkuat identitas dan kebersamaan daerah. Poster, spanduk, baliho, dan unggahan media sosial dapat menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat pada perjalanan panjang Kabupaten Tangerang.

Namun, perayaan juga dapat menjadi kesempatan untuk menguji kembali arti pembangunan yang selama ini disampaikan melalui berbagai simbol.

Kasus Cengkok memberikan contoh mengapa komunikasi publik perlu bergerak dari penyampaian pesan menuju dialog dan pertanggungjawaban. Pemerintah tidak cukup hanya mengumumkan program atau menyampaikan capaian. Pemerintah juga perlu menunjukkan bagaimana aspirasi warga diproses dan bagaimana persoalan yang memengaruhi kehidupan mereka ditangani.

Dalam perspektif komunikasi kritis, pesan resmi dapat dibaca bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari persoalan apa yang mendapat perhatian, suara siapa yang memperoleh ruang, dan bagaimana kewenangan digunakan untuk merespons kebutuhan publik.

Karena itu, ukuran keberhasilan komunikasi pemerintah tidak seharusnya berhenti pada banyaknya poster ucapan atau luasnya jangkauan kampanye. Ukuran yang lebih substantif adalah tersedianya informasi yang jelas, ruang partisipasi yang terbuka, serta tindak lanjut yang bisa dinilai masyarakat.

Pada Akhirnya, Siapa yang Sedang Merayakan?

Usia ke-394 merupakan penanda perjalanan sejarah Kabupaten Tangerang. Akan tetapi, makna usia daerah tidak hanya berada dalam angka, seremoni, atau pesan visual yang beredar setiap tahun. Makna itu juga hadir dalam pengalaman sehari-hari warga: apakah mereka merasa aman di lingkungannya, dapat menjalankan kegiatan sosial, memperoleh pelayanan yang layak, dan didengar ketika menghadapi masalah.

Di tengah ucapan selamat dan slogan “Terus Bergerak, Semakin Berdampak”, suara warga Cengkok mengingatkan bahwa pembangunan perlu dinilai dari kenyataan yang dialami masyarakat.

Pertanyaan yang patut diajukan bukan semata-mata seberapa meriah Kabupaten Tangerang merayakan hari jadinya, melainkan seberapa jauh perayaan itu mendorong pemerintah untuk mengevaluasi pekerjaan rumah yang masih ada.

Sebab, daerah yang bertumbuh bukan hanya daerah yang mampu menampilkan kemajuan melalui simbol dan slogan. Daerah yang bertumbuh juga perlu memberi ruang bagi kritik, membuka informasi, melindungi hak warga, dan menindaklanjuti persoalan berdasarkan bukti serta ketentuan hukum.

Pada akhirnya, “Terus Bergerak, Semakin Berdampak” akan memperoleh makna yang lebih nyata ketika warga tidak hanya melihat pesan kemajuan di layar ponsel dan baliho, tetapi juga merasakan manfaat pembangunan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, ulang tahun sebuah daerah bukan hanya tentang bagaimana pemerintah merayakannya, melainkan juga tentang bagaimana warganya menjalani kehidupan di dalamnya.

Penulis: Ade Irawan
Warga Kabupaten Tangerang. (*)

LAINNYA