
Ilustrasi seseorang yang mengalami overthinking akibat media sosial dan membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Gambar dibuat menggunakan akal imitasi (AI).
KESEHATAN | TD — Pukul 11 malam. Seseorang sudah berbaring di tempat tidur, lampu kamar dimatikan, dan tubuhnya sebenarnya lelah. Namun, alih-alih segera tidur, tangannya masih sibuk menggulir layar ponsel.
Sebuah unggahan memperlihatkan teman sebayanya baru saja membeli rumah. Unggahan berikutnya menampilkan seseorang yang sedang berlibur ke luar negeri. Tak lama kemudian, muncul kabar tentang teman lama yang mendapat promosi jabatan.
Awalnya hanya melihat-lihat. Namun, perlahan muncul pertanyaan yang mengganggu: Mengapa hidup orang lain tampak begitu maju, sementara saya masih begini-begini saja? Apa yang salah dengan hidup saya? Apakah saya sudah tertinggal terlalu jauh?
Ponsel akhirnya diletakkan. Layar padam, tetapi pikiran justru semakin ramai. Percakapan siang tadi kembali teringat. Komentar seseorang yang sebenarnya sederhana mulai ditafsirkan ke mana-mana. Besok harus mengerjakan apa, bagaimana masa depan nanti, dan apakah keputusan-keputusan selama ini sudah benar—semuanya datang silih berganti.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Tubuh ingin tidur, tetapi kepala seolah menolak berhenti bekerja.
Situasi semacam ini mungkin terasa akrab bagi banyak orang. Kita membuka media sosial untuk mencari hiburan, tetapi justru pulang dengan kecemasan baru. Kita berniat mengisi waktu luang, tetapi tanpa sadar menghabiskan waktu untuk membandingkan diri, mengkhawatirkan masa depan, dan memikirkan hal-hal yang belum tentu perlu dipikirkan malam itu.
Inilah salah satu ironi kehidupan digital: kita semakin mudah terhubung dengan dunia, tetapi terkadang semakin sulit berdamai dengan pikiran sendiri.
Media sosial membuat kehidupan orang lain seolah-olah selalu berada di depan mata. Kita menyaksikan keberhasilan, kebahagiaan, pencapaian, dan berbagai momen istimewa yang dibagikan setiap hari.
Masalahnya, kita sering lupa bahwa apa yang tampil di layar hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak selalu mengetahui perjuangannya. Kita menyaksikan senyumnya, tetapi tidak tahu persoalan yang mungkin sedang dihadapinya.
Tanpa sadar, kita membandingkan kehidupan kita yang utuh—lengkap dengan masalah dan kegelisahannya—dengan potongan kehidupan orang lain yang telah dipilih untuk ditampilkan.
Perbandingan semacam ini bisa membuat kita merasa tertinggal, kurang berhasil, bahkan tidak cukup baik.
Padahal, kehidupan bukan perlombaan yang garis akhirnya ditentukan oleh jumlah pengikut, popularitas, kekayaan, atau seberapa sering seseorang tampil bahagia di media sosial.
Overthinking bukan sekadar banyak berpikir. Persoalannya muncul ketika kita terus memikirkan sesuatu secara berulang-ulang tanpa menghasilkan pemahaman atau langkah penyelesaian yang berarti.
Kita mengulang percakapan yang sudah lewat, menebak-nebak maksud seseorang, mencemaskan penilaian orang lain, atau membayangkan kemungkinan buruk yang bahkan belum terjadi.
Media sosial dapat memperpanjang lingkaran pikiran tersebut. Satu unggahan memancing rasa penasaran, satu komentar menimbulkan kegelisahan, lalu satu informasi mengantarkan kita pada informasi lain yang tidak ada habisnya.
Kita merasa sedang mencari pengetahuan, padahal terkadang hanya sedang menambah bahan untuk dicemaskan.
Tentu saja, media sosial bukan satu-satunya penyebab overthinking. Tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, kondisi ekonomi, dan pengalaman pribadi juga berpengaruh. Namun, kebiasaan mengonsumsi informasi tanpa jeda dapat membuat pikiran semakin sulit menemukan ruang tenang.
Ada anggapan bahwa semakin banyak informasi yang kita ketahui, semakin siap pula kita menghadapi kehidupan. Anggapan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak selalu benar.
Informasi memang penting. Namun, terlalu banyak informasi tanpa kemampuan memilah justru dapat membuat kita kehilangan fokus.
Kita tidak harus membaca semua komentar. Tidak perlu menanggapi setiap perdebatan. Kita juga tidak wajib mengetahui setiap peristiwa yang sedang ramai dibicarakan.
Ada hal-hal yang memang penting untuk diketahui, ada yang cukup dipahami sekilas, dan ada pula yang tidak perlu menyita perhatian kita.
Kemampuan membedakan ketiganya merupakan bagian dari kebijaksanaan di era digital.
Sebab, perhatian kita terbatas. Ketika terlalu banyak energi dihabiskan untuk urusan yang tidak relevan, kita bisa kehilangan kesempatan untuk memperhatikan hal-hal yang benar-benar dekat dan penting: keluarga, pekerjaan, kesehatan, persahabatan, dan kebutuhan diri sendiri.
Mengurangi overthinking tidak selalu berarti kita harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang sehat dengan teknologi.
Kita bisa memulainya dengan langkah sederhana: membatasi waktu menggulir layar, mematikan notifikasi yang tidak penting, berhenti mengikuti akun yang terus memicu kecemasan, dan menyediakan waktu untuk melakukan aktivitas tanpa ponsel.
Ketika pikiran mulai berputar pada persoalan yang sama, cobalah bertanya: apakah masalah ini benar-benar membutuhkan tindakan sekarang, atau saya hanya sedang mengulang kekhawatiran yang sama?
Jika ada masalah nyata, tentukan satu langkah kecil yang bisa dilakukan. Jika sesuatu berada di luar kendali kita, belajar menerima ketidakpastian mungkin lebih bermanfaat daripada terus memikirkannya.
Berbicara dengan orang yang dipercaya, menulis apa yang sedang mengganggu pikiran, menjaga waktu tidur, dan melakukan aktivitas fisik juga dapat membantu. Jika kecemasan atau pikiran berulang terus mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang wajar.
Kita tidak harus menyelesaikan semua persoalan dalam satu malam. Ada masalah yang membutuhkan tindakan, ada yang membutuhkan waktu, dan ada yang perlu kita lepaskan karena memang bukan berada dalam kendali kita.
Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia bisa memperluas wawasan, mempertemukan orang-orang, dan membuka peluang. Namun, tanpa kendali, ia juga bisa menyita perhatian dan membuat kita terus terjebak dalam perbandingan serta kecemasan.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata seberapa lama kita menatap layar, melainkan juga apa yang terjadi pada pikiran kita selama berada di sana.
Apakah kita menjadi lebih memahami kehidupan, atau justru semakin gelisah? Apakah informasi membantu kita mengambil keputusan, atau hanya membuat kita memikirkan semakin banyak kemungkinan?
Pertanyaan-pertanyaan itu layak kita ajukan kepada diri sendiri.
Sebab, hidup tidak harus selalu diikuti dengan menggulir layar. Tidak semua hal perlu dikomentari, tidak semua persoalan harus dipikirkan berulang kali, dan tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi ukuran keberhasilan kita.
Kita membutuhkan informasi untuk memahami dunia, tetapi juga membutuhkan keheningan untuk memahami diri sendiri.
Barangkali, salah satu bentuk kecerdasan di era digital bukanlah kemampuan mengetahui segala sesuatu, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak, memilah yang penting, dan membiarkan pikiran beristirahat. (Red)