Membaca Kenyataan, Membongkar Paradigma

waktu baca 6 menit
Jumat, 9 Okt 2026 06:05 114 Redaksi

OPINI | TD — Ada satu persoalan mendasar dalam ilmu pengetahuan yang sering luput dari perhatian kita: apakah kita benar-benar sedang membaca kenyataan, atau justru membaca kenyataan melalui kerangka berpikir yang telah lebih dahulu kita miliki?

Pertanyaan ini mengingatkan kita pada pemikiran Thomas S. Kuhn dalam bukunya, The Structure of Scientific Revolutions (1962). Kuhn menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berkembang semata-mata melalui penambahan fakta secara bertahap. Perkembangan ilmu juga dipengaruhi oleh paradigma, yakni kerangka berpikir yang menentukan bagaimana para ilmuwan melihat persoalan, memilih bukti, merumuskan pertanyaan, dan menafsirkan hasil pengamatan.

Dalam penjelasannya, Kuhn mengajak kita membayangkan dua orang yang melihat kumpulan tanda yang sama, tetapi menghasilkan penafsiran berbeda. Seseorang yang membaca peta kontur akan melihat garis-garis sebagai gambaran bentuk permukaan bumi. Sementara itu, seorang fisikawan yang mengamati jejak dalam ruang gelembung akan membaca garis-garis tersebut sebagai petunjuk mengenai peristiwa fisika. Tanda-tandanya mungkin sama, tetapi pengetahuan yang membimbing penglihatan mereka berbeda.

Dari sini kita belajar bahwa melihat bukan sekadar perkara mata. Ada pengetahuan, pengalaman, asumsi, dan teori yang bekerja di balik apa yang kita anggap sebagai kenyataan. Kita tidak selalu melihat sesuatu sebagaimana adanya, melainkan juga sebagaimana kita telah belajar untuk melihatnya.

Namun, bukan berarti kenyataan sepenuhnya bergantung pada pikiran manusia. Kenyataan tetap dapat memberikan perlawanan terhadap teori. Justru ketika fakta-fakta tertentu tidak lagi dapat dijelaskan secara memadai oleh paradigma yang dominan, ilmu pengetahuan mulai berhadapan dengan anomali. Jika anomali terus menumpuk dan menimbulkan krisis, terbuka kemungkinan terjadinya perubahan paradigma atau revolusi ilmiah.

Dengan demikian, paradigma bukan hanya membantu kita memahami kenyataan. Dalam keadaan tertentu, paradigma juga dapat membatasi apa yang sanggup kita lihat.

Ketika Teori Menjadi Tirai

Persoalan ini menjadi menarik ketika kita memasuki wilayah ilmu komunikasi.

Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, dalam Teori Komunikasi edisi ke-9, memperlihatkan keluasan tradisi pemikiran yang membentuk perkembangan teori komunikasi. Ilmu komunikasi tidak berdiri di atas satu landasan tunggal. Di dalamnya terdapat beragam tradisi, pendekatan, dan asumsi mengenai manusia, bahasa, pesan, hubungan sosial, serta proses pembentukan makna.

Perbedaan pendekatan dapat menghasilkan cara membaca fenomena komunikasi yang berbeda pula. Peneliti yang menggunakan pendekatan kuantitatif, misalnya, mungkin berusaha mengukur hubungan antara paparan media dan perubahan sikap khalayak. Sementara itu, peneliti kritis dapat mempertanyakan bagaimana kekuasaan, ideologi, dan kepentingan ekonomi bekerja di balik produksi pesan. Peneliti interpretatif mungkin justru menaruh perhatian pada bagaimana manusia membangun makna melalui interaksi sehari-hari.

Mereka dapat mengamati fenomena yang sama, tetapi mengajukan pertanyaan yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa salah satu pendekatan keliru. Bisa jadi, masing-masing sedang menerangi sisi kenyataan yang berbeda. Namun, masalah muncul ketika sebuah pendekatan menganggap dirinya sebagai satu-satunya jalan yang sah untuk memahami seluruh kenyataan.

Di sinilah teori berpotensi berubah dari jendela menjadi tirai.

Teori seharusnya membantu kita melihat sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatian. Akan tetapi, ketika teori diperlakukan sebagai kebenaran yang tidak boleh digugat, kita mulai memaksakan kenyataan agar sesuai dengan kategori-kategori yang telah tersedia. Pengalaman yang tidak cocok dengan teori dianggap menyimpang, sedangkan fakta yang mendukung keyakinan kita memperoleh perhatian lebih besar.

Pada titik itu, kita tidak lagi menggunakan teori untuk membaca kenyataan. Kita justru menggunakan kenyataan untuk mempertahankan teori.

Melampaui Pusat Pengetahuan

Persoalan paradigma juga membawa kita pada pertanyaan mengenai dominasi tradisi intelektual tertentu dalam perkembangan ilmu komunikasi.

Sejumlah pemikir berusaha memperluas cakrawala teori komunikasi dengan mengkritik kecenderungan yang terlalu berpusat pada pengalaman dan asumsi Barat. Molefi Kete Asante, misalnya, mengembangkan perspektif Afrocentricity yang menempatkan pengalaman dan sudut pandang masyarakat Afrika sebagai pusat analisis. Sementara itu, Yoshitaka Miike mengembangkan pendekatan Asiacentric yang berupaya menghadirkan pengalaman, nilai, dan tradisi pemikiran Asia dalam kajian komunikasi.

Upaya tersebut bukan sekadar mengganti teori Barat dengan teori Timur, seolah-olah keduanya merupakan dua kubu yang seragam dan saling bertentangan. Barat maupun Timur sama-sama memiliki keragaman pemikiran, sejarah, dan tradisi intelektual. Yang lebih penting ialah membuka ruang agar pengalaman manusia yang beragam dapat ikut membentuk pertanyaan, konsep, dan teori ilmu pengetahuan.

Sebab, teori yang lahir dari konteks tertentu belum tentu mampu menjelaskan seluruh konteks lainnya tanpa penyesuaian. Konsep mengenai individu, rasionalitas, masyarakat, atau komunikasi yang berkembang dalam satu lingkungan sosial perlu diuji kembali ketika digunakan untuk memahami masyarakat dengan sejarah dan pengalaman yang berbeda.

Kenyataan manusia selalu lebih kaya daripada kategori yang kita ciptakan untuk menjelaskannya.

Karena itu, memperluas perspektif bukan berarti menolak teori yang telah ada. Kita perlu mempelajarinya, menguji kegunaannya, memahami batas-batasnya, dan mengembangkannya ketika berhadapan dengan kenyataan yang berbeda.

Nalar Jungkit-Jungkit: Bergerak Tanpa Menyembah Teori

Di sinilah saya melihat pentingnya sikap intelektual yang tidak berhenti pada penerimaan ataupun penolakan.

Dalam perspektif saya, sikap tersebut dapat dirumuskan sebagai Nalar Jungkit-Jungkit: kesediaan untuk bergerak di antara teori dan pengalaman, antara keyakinan dan keraguan, antara konsep yang telah mapan dan kenyataan yang terus memperlihatkan sisi-sisi baru.

Kita menerima teori tanpa harus menyembahnya. Kita meragukan suatu keyakinan tanpa menjadikan keraguan sebagai tujuan akhir. Kita membongkar konsep, lalu mengujinya kembali melalui pengalaman dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap ini bukan alasan untuk menganggap semua pendapat sama benarnya. Tidak semua tafsir memiliki kekuatan bukti yang setara. Teori tetap perlu diuji melalui argumentasi, metode, data, dan keterbukaannya terhadap koreksi. Namun, tidak ada alasan pula untuk menganggap teori yang telah kita kuasai sebagai batas terakhir dari pengetahuan.

Belajar, dengan demikian, bukan hanya mengumpulkan teori dan menghafal nama-nama pemikir. Belajar juga berarti mengembangkan keberanian untuk memeriksa kembali perangkat berpikir yang selama ini kita gunakan, termasuk ketika perangkat itu telah menjadi bagian dari identitas intelektual kita.

Sebab, kadang-kadang yang paling sulit dibongkar bukanlah teori orang lain, melainkan teori yang telanjur kita anggap sebagai diri kita sendiri.

Membaca Kenyataan sebagai Kenyataan

Pada akhirnya, persoalan ini membawa kita kembali kepada pertanyaan awal: apakah ilmu pengetahuan sedang membaca kenyataan, atau justru sedang mengajari kita bagaimana seharusnya kenyataan dibaca?

Mungkin keduanya tidak perlu dipertentangkan secara mutlak. Kita memang membutuhkan teori untuk memahami kenyataan. Tanpa konsep dan kerangka berpikir, pengalaman dapat hadir sebagai kumpulan peristiwa yang sulit dijelaskan. Namun, teori hanya berguna selama ia bersedia berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar dirinya.

Kita perlu teori untuk membaca dunia, tetapi kita juga perlu menjaga jarak kritis agar dunia tidak direduksi menjadi sekadar ilustrasi teori. Kita perlu paradigma untuk menyusun pengetahuan, tetapi kita harus tetap terbuka terhadap kemungkinan bahwa kenyataan akan mengguncang paradigma tersebut.

Sebab, kenyataan tidak selalu tunduk pada apa yang ingin kita percayai.

Barangkali itulah salah satu pelajaran terpenting dari Kuhn dan relevansinya bagi ilmu komunikasi: perubahan pengetahuan tidak hanya menuntut penambahan informasi, tetapi kadang-kadang juga keberanian untuk mengubah cara kita melihat.

Jangan terlalu percaya pada peta hingga lupa pada wilayah. Teori adalah jendela untuk memahami kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Dan ketika jendela mulai menghalangi pandangan, barangkali sudah waktunya kita membuka jendela yang lain.

Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily dan Mahasiswa Magister Komunikasi, Budi Luhur University. (*)

LAINNYA