Mengorkestrasi AI di Ruang Kelas: Ketika Teknologi Harus Tunduk pada Pedagogi

waktu baca 8 menit
Selasa, 6 Okt 2026 19:15 173 Redaksi

BUKU | TD — Resensi Buku Humanizing AI: Pedagogi yang Memanusiakan Teknologi (Jilid 2 – Praktik dan Eksekusi) karya Dr. Iman Nurjaman, M.Pd.

Ada satu persoalan yang semakin sulit dihindari sekolah ketika kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang kelas: siapa sebenarnya yang mengendalikan proses belajar, guru dan siswa atau mesin?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana memilih menggunakan atau tidak menggunakan AI. Guru dapat memanfaatkan AI untuk mencari bahan ajar, menyusun pertanyaan, memberikan alternatif penjelasan, bahkan membantu membaca perkembangan belajar siswa. Di sisi lain, siswa dapat menggunakannya untuk mencari informasi dan menyelesaikan berbagai tugas.

Masalah muncul ketika kemudahan itu membuat proses berpikir ikut dipangkas. Siswa memperoleh jawaban, tetapi tidak mengalami proses menemukan jawaban. Guru mendapatkan bahan ajar dengan cepat, tetapi belum tentu memiliki waktu untuk memeriksa apakah materi tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswanya.

Di titik inilah Humanizing AI: Pedagogi yang Memanusiakan Teknologi (Jilid 2 – Praktik dan Eksekusi) karya Dr. Iman Nurjaman, M.Pd. menjadi menarik untuk dibaca. Jika Jilid 1 lebih banyak membangun fondasi pemikiran mengenai posisi manusia di tengah perkembangan AI, Jilid 2 bergerak lebih dekat ke ruang kelas. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata mengapa teknologi harus dimanusiakan, tetapi bagaimana prinsip tersebut dijalankan dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Guru Bukan Operator AI

Gagasan yang cukup menonjol dalam buku ini adalah orkestrasi kelas. Istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan bagaimana guru seharusnya mengatur kehadiran teknologi dalam pembelajaran.

Guru tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan AI. Ia perlu menentukan kapan teknologi itu membantu dan kapan penggunaannya justru mengganggu tujuan belajar.

Melalui kerangka AI-TPACK+, penulis menempatkan guru sebagai perancang pembelajaran. Teknologi dipertemukan dengan pengetahuan tentang materi dan cara mengajarkannya. Pada saat yang sama, ada perhatian terhadap literasi AI, etika digital, serta persoalan privasi data.

Gagasan ini terasa penting karena pembicaraan tentang AI di sekolah sering kali terlalu cepat beralih kepada aplikasi. Guru bertanya aplikasi apa yang bisa digunakan, bagaimana membuat prompt, atau bagaimana menghasilkan bahan ajar dengan lebih cepat. Padahal pertanyaan yang seharusnya muncul lebih dahulu adalah: apa yang ingin dicapai dari pembelajaran itu sendiri?

Jika tujuan pembelajaran sudah jelas, AI bisa ditempatkan sesuai kebutuhan. Jika tidak, teknologi justru mudah menjadi pusat perhatian.

Buku ini cukup konsisten dalam mengingatkan hal tersebut.

Ketika Siswa Terlalu Mudah Mendapat Jawaban

Persoalan siswa mendapat perhatian yang cukup besar. Salah satu konsep yang dibahas adalah cognitive offloading, yakni kecenderungan menyerahkan sebagian pekerjaan berpikir kepada alat bantu eksternal.

Dalam konteks AI generatif, persoalan ini menjadi semakin nyata. Seorang siswa bisa mendapatkan esai dalam beberapa detik. Ia juga bisa meminta mesin menjelaskan sebuah konsep, membuat rangkuman, atau menyelesaikan soal.

Namun, mendapatkan jawaban tidak selalu sama dengan belajar.

Di sinilah model SOI—Select, Organize, Integrate—yang ditawarkan buku ini menemukan relevansinya. Siswa diarahkan untuk memilih informasi, mengorganisasikannya, kemudian menghubungkannya dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.

Pendekatan ini memberi penekanan bahwa AI seharusnya membantu proses berpikir, bukan menggantikannya.

Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi dalam pendidikan justru sangat menentukan. Meminta AI memberikan umpan balik terhadap tulisan siswa tentu berbeda dengan meminta AI menulis seluruh tulisan. Menggunakan AI untuk mencari kemungkinan jawaban juga berbeda dengan menerima jawaban pertama sebagai kebenaran.

Karena itu, ukuran keberhasilan penggunaan AI di sekolah seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa cepat tugas selesai. Yang lebih penting adalah apakah siswa masih berpikir selama proses tersebut berlangsung.

Anak Berbeda, Cara Menggunakan AI Juga Berbeda

Bagian yang menarik dari Jilid 2 adalah pembahasan penggunaan AI berdasarkan jenjang pendidikan. Penulis tidak menawarkan satu pola yang sama untuk semua peserta didik.

Pada PAUD, misalnya, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti permainan dan interaksi langsung. AI lebih banyak berfungsi sebagai alat bantu guru. Anak tetap membutuhkan gerak, bermain, berbicara, dan mengalami lingkungan secara langsung.

Di sekolah dasar, teknologi dapat digunakan untuk membantu anak melihat sesuatu yang sulit dijelaskan hanya melalui kata-kata. AI dan media digital menjadi pemantik, sementara pengalaman konkret tetap menjadi bagian penting pembelajaran.

Pada SMP, penggunaannya mulai bergeser. AI dapat dijadikan teman berdiskusi yang justru menantang siswa untuk mempertanyakan jawaban, menguji asumsi, dan mencari kelemahan sebuah argumen.

Sementara di SMA, siswa mulai diarahkan untuk memanfaatkan AI dalam kegiatan riset dan produksi pengetahuan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak bisa dilepaskan dari usia dan perkembangan peserta didik. Anak usia dini tidak membutuhkan teknologi dalam jumlah banyak hanya karena teknologinya tersedia. Sebaliknya, siswa yang lebih dewasa membutuhkan ruang lebih luas untuk menguji, mempertanyakan, dan memanfaatkan teknologi secara kritis.

Buku juga memberi ruang bagi pendidikan kesetaraan dan pendidikan khusus. Di PKBM, misalnya, penggunaan teknologi perlu menyesuaikan kondisi warga belajar yang memiliki latar belakang dan kebutuhan berbeda. Pada SLB, teknologi asistif justru dapat menjadi sarana penting untuk membuka akses komunikasi dan pembelajaran.

Bagian ini memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai AI dalam pendidikan seharusnya tidak hanya berbicara tentang kecanggihan perangkat, tetapi juga tentang siapa yang menggunakannya dan untuk kebutuhan apa.

Di Sinilah Tantangannya

Meski menawarkan banyak gagasan dan contoh, buku ini bukan tanpa persoalan.

Kekayaan konsep yang menjadi salah satu kekuatannya juga dapat menjadi tantangan bagi pembaca. Istilah seperti AI-TPACK+, SOI, prompt engineering, learning analytics, Socratic Partner, dan sejumlah konsep lainnya membutuhkan perhatian untuk benar-benar dipahami.

Bagi pembaca yang sudah terbiasa dengan diskusi teknologi pendidikan, kepadatan tersebut mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi bagi guru yang baru mulai berhadapan dengan AI, terlalu banyak istilah dapat membuat persoalan yang sebenarnya sederhana terasa semakin rumit.

Di lapangan, persoalan guru juga tidak berhenti pada kemampuan memahami teori. Ada keterbatasan perangkat, kualitas jaringan internet, waktu belajar, jumlah siswa, beban administrasi, dan kemampuan digital yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya.

Karena itu, gagasan dalam buku ini perlu dibaca sebagai kerangka yang dapat dikembangkan, bukan sebagai resep yang harus diterapkan secara seragam.

Justru di sinilah tantangan berikutnya bagi gagasan humanizing AI: bagaimana membuat pendekatan yang cukup kuat secara konseptual, tetapi tetap sederhana ketika dibawa ke sekolah yang kondisinya jauh dari ideal?

Pertanyaan tersebut penting karena pendidikan Indonesia sangat beragam. Apa yang mungkin dilakukan di sebuah sekolah dengan fasilitas digital lengkap belum tentu dapat diterapkan di sekolah yang bahkan masih kesulitan menyediakan perangkat dasar.

Buku ini sudah membuka jalan ke arah itu. Namun, semakin banyak contoh praktik dari berbagai kondisi sekolah akan membuat gagasannya semakin mudah diuji dan digunakan oleh guru.

Teknologi Tidak Boleh Mengambil Alih Peran Guru

Pada bagian akhir, pembahasan buku kembali bertemu dengan gagasan besar yang sudah dibangun pada Jilid 1: pendidikan pada akhirnya adalah tentang manusia.

Guru tetap memiliki posisi penting bukan karena guru mampu mengalahkan mesin dalam mengolah informasi, tetapi karena pendidikan membutuhkan sesuatu yang tidak selesai dengan informasi.

Anak membutuhkan teladan. Ia membutuhkan seseorang yang dapat membaca kegelisahannya, memahami kesulitannya, memberinya dorongan ketika kehilangan percaya diri, dan mengajaknya melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Mesin dapat membantu banyak hal. Tetapi hubungan antara guru dan siswa tidak dapat digantikan hanya dengan semakin canggihnya teknologi.

Karena itu, konsep guru sebagai pamong yang kembali diangkat dalam buku ini menjadi relevan. AI boleh hadir dalam pembelajaran, tetapi guru tetap harus menentukan arah perjalanan.

Dari Fondasi ke Ruang Kelas

Di sinilah posisi Jilid 2 menjadi penting jika dibaca bersama Jilid 1.

Jilid 1 berbicara tentang fondasi: bagaimana pendidikan mempertahankan kedaulatan nalar manusia ketika berhadapan dengan algoritma. Jilid 2 membawa persoalan itu lebih jauh dengan bertanya bagaimana prinsip tersebut diterapkan ketika AI sudah berada di depan guru dan siswa.

Dengan demikian, buku ini tidak sekadar mengajak sekolah menjadi lebih digital. Yang lebih penting, buku ini mengajak sekolah berhati-hati dalam menentukan untuk apa digitalisasi dilakukan.

Kekuatan utamanya ada pada upaya membawa gagasan humanisasi AI ke berbagai jenjang dan situasi pembelajaran. Kelemahannya terutama terletak pada kepadatan konsep dan tantangan menerjemahkan kerangka tersebut ke sekolah dengan kondisi yang sangat beragam.

Namun justru di tengah perubahan teknologi yang bergerak begitu cepat, pertanyaan yang diajukan buku ini layak dipertahankan: jangan sampai karena ingin membuat pendidikan lebih modern, sekolah malah kehilangan hal paling mendasar dari pendidikan itu sendiri.

AI boleh membantu guru bekerja lebih cepat. AI boleh membantu siswa menemukan lebih banyak informasi. AI bahkan mungkin akan semakin mampu melakukan pekerjaan yang hari ini masih dilakukan manusia.

Tetapi tujuan pendidikan bukan menciptakan manusia yang paling cepat mendapatkan jawaban.

Pendidikan adalah proses belajar untuk memahami, mempertanyakan, memilih, dan bertanggung jawab atas apa yang diyakini.

Karena itu, ketika AI semakin cerdas, pekerjaan guru bukan menjadi semakin kecil.

Justru di situlah pekerjaan guru menjadi semakin penting: memastikan teknologi membantu manusia belajar, bukan membuat manusia berhenti berpikir.

Identitas Buku

Judul: Humanizing AI: Pedagogi yang Memanusiakan Teknologi
Jilid: Jilid 2 – Praktik dan Eksekusi
Penulis: Dr. Iman Nurjaman, M.Pd.
Editor: Ayu Sri Wulandari, M.Kom.
Penerbit: PT Sigufi Artha Nusantara
Cetakan: Pertama, Juli 2026
Ukuran: 17,6 × 25 cm
Tebal: xv + 350 halaman
ISBN Jilid 2: 978-634-97257-2-9
ISBN Set Lengkap: 978-634-97257-0-5. (*)

LAINNYA