Waringin Sungsang: Membalik Arah Pengetahuan dan Komunikasi dalam Filsafat Nusantara

waktu baca 10 menit
Rabu, 23 Sep 2026 08:46 45 Redaksi

OPINI | TD —.Ada satu persoalan yang semakin sering saya pikirkan sejak belajar komunikasi: apakah manusia benar-benar menemukan realitas, atau sebenarnya sedang membangun realitas melalui bahasa, pengalaman, dan komunikasi?

Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tetapi jawabannya tidak sederhana.

Ketika sebuah media menyebut seseorang sebagai “tokoh”, “pelanggar”, “pahlawan”, atau “ancaman”, yang berubah bukan hanya pilihan kata, melainkan juga cara publik memandang orang tersebut. Ketika sebuah peristiwa diberi nama, dikategorikan, lalu disebarluaskan melalui media, peristiwa itu masuk ke dalam ruang makna yang sebelumnya belum tentu tersedia.

Karena itu, bagi saya, komunikasi bukan sekadar persoalan menyampaikan pesan, melainkan salah satu cara manusia membentuk realitas.

Dari pemahaman tersebut, saya kembali kepada sebuah simbol yang semakin menarik perhatian saya, yaitu Waringin Sungsang.

Waringin Sungsang adalah pohon beringin yang dibayangkan dalam posisi terbalik, dengan akar berada di atas sementara batang dan cabangnya menjulur ke bawah.

Secara fisik, gambaran tersebut tentu tidak lazim, tetapi justru ketidaklaziman itulah yang membuatnya memiliki daya filosofis.

Waringin Sungsang seolah-olah meminta kita untuk membalik cara melihat, bukan hanya dengan memperhatikan apa yang tampak, melainkan juga dengan mencari sesuatu yang membuatnya dapat tampak.

Jangan hanya melihat apa yang tampak. Cari apa yang membuat sesuatu menjadi tampak.

Bagi saya, di situlah Waringin Sungsang dapat dibaca sebagai metafora epistemologi Nusantara sekaligus metafora komunikasi.

Dari pesan menuju akar pesan

Dalam teori komunikasi, kita mengenal berbagai model yang menggambarkan proses pengiriman pesan dari komunikator kepada komunikan, dan model-model tersebut penting untuk membantu kita memahami komunikasi sebagai sebuah proses.

Namun, pengalaman komunikasi sehari-hari menunjukkan bahwa pesan tidak pernah hadir dalam ruang yang benar-benar kosong, sebab sebuah berita selalu memiliki konteks, sebuah pidato membawa kepentingan, sebuah iklan memiliki tujuan, dan sebuah unggahan media sosial selalu berkaitan dengan identitas serta posisi tertentu.

Bahkan kalimat sederhana seperti “situasi mulai membaik” telah membawa cara tertentu dalam melihat realitas.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya:

Apa yang dikatakan?

Melainkan juga:

Mengapa hal itu dikatakan dengan cara seperti itu?

Siapa yang mengatakannya, dari posisi mana ia berbicara, kepada siapa pesan tersebut ditujukan, dalam konteks apa pesan itu disampaikan, dan apa yang menjadi tidak terlihat karena perhatian kita diarahkan kepada sesuatu yang lain?

Di sinilah saya melihat bahwa Waringin Sungsang memiliki relevansi dengan studi komunikasi, karena cabang dapat dipahami sebagai pesan yang terlihat, sedangkan akar merupakan struktur yang memungkinkan pesan tersebut muncul.

Jika kita hanya membaca cabang, mungkin kita dapat memahami isi komunikasi, tetapi apabila ingin memahami bagaimana realitas dikonstruksi, kita perlu bergerak lebih dalam—atau, dalam logika Waringin Sungsang, justru bergerak ke atas menuju akar.

Komunikasi tidak pernah benar-benar netral

Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap komunikasi pasti bersifat manipulatif, tetapi saya belajar bahwa komunikasi hampir selalu membawa perspektif tertentu.

Ketika wartawan memilih satu narasumber dan tidak memilih narasumber lain, ketika editor menentukan judul, ketika fotografer memilih sudut pengambilan gambar, atau ketika media menentukan bagian mana yang ditempatkan sebagai berita utama, semuanya merupakan keputusan komunikasi yang turut memengaruhi cara realitas dipahami.

Realitas tidak diciptakan dari ketiadaan, tetapi realitas yang kita terima sebagai publik selalu hadir melalui proses seleksi, framing, bahasa, dan interpretasi.

Dalam konteks ini, pemikiran konstruksionis dalam ilmu sosial menjadi penting karena realitas sosial tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang berada di luar manusia dan tinggal dipotret, melainkan juga sebagai sesuatu yang terus dibentuk melalui interaksi serta proses pemaknaan.

Karena itu, seorang mahasiswa komunikasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang isi pesan, tetapi juga perlu bertanya tentang proses produksi makna yang membuat pesan tersebut dapat hadir dan diterima.

Waringin Sungsang, bagi saya, membantu membayangkan proses itu: kita melihat pohon, tetapi perhatian diarahkan kepada akar; kita melihat pesan, tetapi perhatian diarahkan kepada proses yang menghasilkan pesan.

Dari objek menuju subjek

Di sinilah persoalan epistemologi mulai masuk, sebab selama ini kita terbiasa mengatakan bahwa ilmu pengetahuan mempelajari objek, meskipun kita jarang berhenti untuk bertanya siapa yang menentukan sesuatu sebagai objek, siapa yang memilih sudut pandang, siapa yang menentukan pertanyaan penelitian, siapa yang menetapkan kategori, dan bagaimana pengalaman peneliti memengaruhi proses memahami objek tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kepada konsep refleksivitas.

Peneliti bukan kamera yang sepenuhnya netral, melainkan manusia yang membawa bahasa, pengalaman, nilai, pendidikan, budaya, dan posisi sosial tertentu.

Karena itu, dalam penelitian komunikasi, memahami objek saja tidak cukup. Peneliti juga perlu memahami dirinya sendiri sebagai bagian dari proses produksi pengetahuan.

Di sinilah Waringin Sungsang kembali menjadi menarik, karena arah pengetahuan dibalik: dari objek kembali kepada subjek, dari pertanyaan “apa yang saya teliti?” menuju pertanyaan “dengan posisi seperti apa saya sedang meneliti?”

Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan metodologis, melainkan juga persoalan etika intelektual.

Dari siswa menjadi sisya

Dalam pembacaan saya, gagasan tentang siswa dan sisya dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami proses tersebut.

Siswa adalah seseorang yang belajar, tetapi menjadi sisya dapat dimaknai lebih jauh sebagai seseorang yang menjalani proses pembelajaran sebagai transformasi diri.

Perbedaannya terletak pada hasil yang dicapai, sebab seseorang bisa lulus ujian tanpa mengalami perubahan cara berpikir, memiliki gelar tanpa memiliki kedalaman refleksi, atau menguasai banyak teori komunikasi tetapi tetap gagal memahami manusia yang sedang berkomunikasi dengannya.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan orang yang tahu, tetapi juga orang yang mampu memeriksa bagaimana ia mengetahui.

Bagi saya, inilah titik pertemuan antara konsep sisya dan Waringin Sungsang, karena sisya tidak hanya mengumpulkan cabang, melainkan juga berusaha mencari akar.

Bima: perjalanan keluar yang berakhir ke dalam

Pembacaan ini mengingatkan saya pada kisah Bima dalam Dewa Ruci, ketika Bima melakukan perjalanan untuk mencari pengetahuan, tetapi perjalanan tersebut pada akhirnya mempertemukannya dengan pengalaman yang mengubah cara ia memahami dirinya dan dunia.

Saya tidak ingin menyederhanakan Dewa Ruci menjadi sekadar “ajaran tentang mencari Tuhan” atau “ajaran tentang mengenal diri”, karena yang menarik bagi saya justru terletak pada struktur perjalanannya.

Manusia bergerak keluar untuk menemukan sesuatu, tetapi pencarian itu pada akhirnya membawa manusia kembali ke dalam dirinya.

Hal tersebut merupakan paradoks epistemologis, sebab kita mempelajari dunia untuk memperoleh pengetahuan, tetapi pada suatu titik kita perlu bertanya tentang orang yang sedang mengetahui dunia tersebut.

Dalam komunikasi, persoalan itu menjadi sangat penting karena kita mempelajari media, khalayak, pesan, dan teknologi, tetapi kita juga perlu mempelajari cara kita sendiri memproduksi makna tentang semua itu.

Media, bahasa, dan kekuasaan

Pada titik ini, pemikiran Michel Foucault menjadi relevan sebagai dialog teoritis, meskipun tentu tidak identik dengan tradisi Waringin Sungsang.

Foucault membantu kita melihat bahwa pengetahuan dan kekuasaan memiliki hubungan yang kompleks, karena apa yang dianggap benar dalam masyarakat tidak hanya ditentukan oleh fakta, tetapi juga berkaitan dengan institusi, praktik diskursif, otoritas, serta mekanisme yang menentukan apa yang dapat dikatakan sebagai pengetahuan yang sah.

Dalam perspektif komunikasi, hal ini membuat saya semakin berhati-hati terhadap kata “kebenaran.”

Ketika sebuah media mengatakan “fakta menunjukkan…”, saya ingin bertanya: fakta yang mana, siapa sumbernya, bagaimana fakta itu diperoleh, bagaimana ia diverifikasi, dan mengapa fakta tertentu diberi ruang lebih besar daripada fakta lainnya?

Pertanyaan tersebut bukan berarti menolak fakta, melainkan justru merupakan cara untuk menjaga agar proses pencarian fakta tidak berubah menjadi penerimaan informasi secara mentah.

Waringin Sungsang mengajarkan pembalikan arah yang sama: jangan berhenti pada apa yang dikatakan; telusuri kondisi yang memungkinkan sesuatu dapat dikatakan.

Sunan Kalijaga dan komunikasi simbolik

Di dalam tradisi Nusantara, saya juga melihat pendekatan Sunan Kalijaga sebagai contoh menarik tentang bagaimana nilai dapat dikomunikasikan melalui simbol budaya.

Wayang, cerita, tembang, dan berbagai ekspresi budaya memungkinkan gagasan disampaikan tanpa selalu hadir sebagai doktrin yang bersifat langsung, karena komunikasi tidak hanya bekerja melalui proposisi, tetapi juga melalui simbol.

Manusia menafsirkan simbol berdasarkan pengalaman dan kebudayaannya. Sebuah wayang bukan sekadar boneka, sebuah cerita bukan sekadar cerita, dan sebuah ritual bukan sekadar tindakan yang dilakukan berulang-ulang, sebab di dalamnya terdapat kemungkinan makna yang terus dapat ditafsirkan.

Hal ini mengingatkan saya bahwa masyarakat Nusantara memiliki tradisi pengetahuan yang tidak selalu disampaikan dalam bentuk argumentasi formal seperti yang kita temukan dalam tradisi akademik modern.

Pengetahuan dapat disimpan dalam cerita, peribahasa, tembang, simbol, dan laku.

Karena itu, membaca filsafat Nusantara membutuhkan kehati-hatian, sebab kita tidak bisa memaksakan seluruh simbol tradisional masuk ke dalam kategori filsafat Barat atau teori komunikasi modern.

Yang dapat dilakukan adalah berdialog, sehingga Waringin Sungsang dapat dibaca kembali dengan perangkat epistemologi kontemporer, sementara teori komunikasi dapat memperoleh pertanyaan baru dari simbol budaya tersebut.

Dari informasi menuju transformasi

Kita sekarang hidup dalam masyarakat yang mengalami kelimpahan informasi, sehingga masalah manusia modern bukan lagi sekadar kekurangan informasi, melainkan justru terlalu banyak informasi.

Setiap hari kita berhadapan dengan berita, video, komentar, podcast, algoritma, kecerdasan buatan, dan jutaan pesan lainnya, tetapi informasi yang melimpah tidak otomatis menghasilkan pemahaman.

Seseorang bisa mengetahui banyak hal tetapi tetap tidak memahami, membaca banyak buku tetapi tidak mengalami perubahan cara berpikir, atau menguasai teori tetapi gagal memahami pengalaman manusia.

Karena itu, saya mulai melihat proses belajar sebagai sebuah perjalanan:

informasi → pengetahuan → pemahaman → pengalaman → refleksi.

Tidak semua informasi menjadi pengetahuan, tidak semua pengetahuan menjadi pemahaman, tidak semua pemahaman menjadi pengalaman, dan tidak semua pengalaman melahirkan kebijaksanaan.

Di sinilah konsep sisya menjadi penting, karena belajar bukan sekadar menambah isi kepala, melainkan mengubah cara kita berhubungan dengan dunia.

Waringin Sungsang sebagai kritik terhadap kesombongan pengetahuan

Pada akhirnya, saya tidak membaca Waringin Sungsang sebagai penolakan terhadap rasionalitas atau sebagai ajakan untuk meninggalkan ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, ia dapat menjadi kritik terhadap kesombongan pengetahuan, sebab ilmu membuat manusia mampu mengetahui banyak hal, tetapi ilmu juga seharusnya membuat manusia semakin sadar terhadap batas pengetahuannya.

Dalam konteks mahasiswa magister komunikasi, kesadaran ini penting karena kita mempelajari teori bukan untuk menjadikan teori sebagai dogma baru, melainkan untuk menggunakannya sebagai alat agar dapat melihat realitas dengan lebih tajam.

Ketika teori tidak lagi mampu menjelaskan pengalaman tertentu, kita perlu kembali bertanya, bukan buru-buru menyalahkan realitas, karena mungkin saja cara kita melihat yang perlu diperiksa.

Inilah yang saya pahami dari Waringin Sungsang.

Pohon itu tidak sedang mengajarkan kita bahwa dunia harus terbalik. Ia sedang mengajarkan bahwa cara kita melihat dunia mungkin perlu dibalik.

Penutup: menjadi sisya di tengah dunia komunikasi

Saya akhirnya melihat Waringin Sungsang sebagai sebuah metafora tentang keberanian intelektual, yaitu keberanian untuk membalik pertanyaan.

Ketika semua orang bertanya, “Apa pesannya?”, kita bertanya, “Bagaimana pesan itu menjadi mungkin?”

Ketika semua orang bertanya, “Apa faktanya?”, kita bertanya, “Bagaimana fakta itu diproduksi dan diverifikasi?”

Ketika semua orang bertanya, “Siapa yang benar?”, kita bertanya, “Bagaimana ukuran tentang kebenaran itu dibentuk?”

Dan ketika kita merasa sudah mengetahui banyak hal, kita kembali kepada pertanyaan yang paling sulit:

Siapa sebenarnya yang sedang mengetahui?

Mungkin di situlah Waringin Sungsang menemukan relevansinya bagi komunikasi, karena akar tidak selalu harus dicari di tempat yang kita kira, pengetahuan tidak selalu berhenti pada objek, dan komunikasi tidak hanya memindahkan pesan.

Realitas sosial terus dinegosiasikan melalui bahasa, simbol, pengalaman, dan relasi manusia.

Maka menjadi mahasiswa bukan hanya soal memperoleh gelar, melainkan juga menjadi sisya, yaitu seseorang yang bersedia untuk terus belajar, termasuk belajar membongkar kembali cara dirinya sendiri dalam melihat.

Dari siswa menjadi sisya, dari informasi menjadi pengetahuan, dari pengetahuan menjadi pemahaman, dari pemahaman menuju pengalaman, dan dari pengalaman kita kembali mencari akar.

Waringin Sungsang, pada akhirnya, bukan hanya pohon yang terbalik. Ia adalah cara berpikir yang berani membalik arah pandangan.

Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, Mahasiswa Magister Komunikasi Budi Luhur University. (*)

LAINNYA