IAILM Suryalaya Gelar Seminar Internasional, Bahas Transformasi Tasawuf di Era Siber

waktu baca 4 menit
Kamis, 3 Sep 2026 21:30 36 Nazwa

TASIKMALAYA | TD — Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Pondok Pesantren Suryalaya menggelar Seminar Internasional bertema transformasi tasawuf dan tarekat di era siber dalam rangka memperingati milad ke-40 IAILM, Kamis, 3 September 2026. Seminar yang mengangkat tema “Digital Sufism: The Transformation of Tariqa in the Cyber Era” tersebut digelar secara hibrida dengan melibatkan akademisi, peneliti, mahasiswa, ulama, serta pakar dari dalam dan luar negeri.

Kegiatan yang dipusatkan di Kampus IAILM Suryalaya, Tasikmalaya, itu menjadi ruang akademik untuk membahas perubahan kehidupan spiritual umat Islam di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Seminar dibuka secara resmi oleh Rektor IAILM, Dr. H. Asep Salahudin, M.Ag., yang juga menjadi salah satu pembicara utama bersama Prof. Dr. Suhaimi Mhd. Sarif, Wakil Presiden World Academy of Islamic Management (WAIM) dari International Islamic University Malaysia (IIUM).

Refleksi 40 Tahun IAILM

Ketua Panitia Seminar Internasional, Dr. Nana Suryana, S.Ag., M.Pd., dalam laporannya mengatakan bahwa peringatan 40 tahun IAILM tidak sekadar menjadi perayaan sejarah kelembagaan.

Empat dekade perjalanan IAILM merupakan bagian dari ikhtiar menjalankan amanah keilmuan, pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat. Momentum tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menjaga dan mengembangkan nilai-nilai kesuryalayaan di tengah perubahan zaman.

Menurut panitia, pembahasan mengenai Digital Sufism dan transformasi tarekat menjadi semakin penting seiring dengan semakin kuatnya pengaruh teknologi digital dan AI dalam kehidupan masyarakat.

Transformasi digital, kata panitia, tidak cukup hanya diikuti dengan kemampuan menguasai teknologi. Perkembangan tersebut juga perlu diimbangi dengan penguatan nilai spiritual, etika, dan kemanusiaan agar kemajuan teknologi tidak menghilangkan substansi kehidupan beragama.

Dakwah Digital dan Tantangan Otoritas Keagamaan

Salah satu pembahasan utama disampaikan Dr. Muhamad Kodir, M.Si., Wakil Rektor I IAILM sekaligus Ketua DPP LDTQN Suryalaya, melalui materi bertajuk “Beyond Digital Da’wah”.

Ia menekankan perlunya pergeseran paradigma dari sekadar dakwah digital menuju khidmat berjejaring (networked khidmah).

Menurutnya, teknologi digital seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan tarekat tanpa menghilangkan substansi spiritual, silsilah, dan adab amaliah yang menjadi bagian penting dalam tradisi tarekat.

Ia juga mengingatkan bahwa popularitas di ruang digital tidak dapat dijadikan ukuran legitimasi spiritual. Jumlah pengikut, views, maupun tingkat keterpaparan konten di media sosial merupakan hasil kerja algoritma yang tidak selalu mencerminkan otoritas keilmuan dan legitimasi ruhani.

Perkembangan teknologi digital dan AI, lanjutnya, juga menghadirkan tantangan baru terhadap otoritas keagamaan, proses transmisi ilmu tasawuf, serta pola pembentukan komunitas tarekat.

Sementara itu, Prof. Dr. Suhaimi Mhd. Sarif menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya hanyalah instrumen. Transformasi yang sesungguhnya tetap berpusat pada manusia (human transformation) dengan landasan tauhid.

Ia menekankan pentingnya nilai-nilai tasawuf seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), muraqabah, dan muhasabah untuk tetap diintegrasikan dalam kehidupan manusia ketika menghadapi tekanan kinerja modern dan disrupsi kecerdasan buatan.

Hadirkan Pakar Nasional dan Internasional

Seminar internasional tersebut turut menghadirkan sejumlah pakar nasional dan internasional yang membahas berbagai aspek transformasi tasawuf, tarekat, pendidikan, dakwah, hingga manajemen Islam di era digital.

Prof. Dr. Hj. Faridah Hj. Hassan, Presiden World Academy of Islamic Management (WAIM), membahas adopsi AI dalam kerangka Maqasid Al-Shariah.

Sementara Prof. Dr. H. Ajid Thohir, M.A., mengulas dinamika transformasi sufisme di abad ke-21. Prof. Dr. Imam Kanafi, M.Ag., membahas konsep “Digital Sufism for Multiple Transformation”.

Adapun Adjunct Professor Datin Sri Dr. Hj. Norashfah Hanim Yaakop Yahaya Al-Haj bersama Dr. Asep Salahudin, M.Ag., memperkenalkan gagasan Ethical Manifestation Theory (EMT).

Paparan lainnya disampaikan Dr. Try Riduwan Santoso, M.A., yang mengkaji transformasi pendidikan dan dakwah sufisme di tengah perkembangan teknologi digital.

Berbagai perspektif yang disampaikan para narasumber menunjukkan bahwa transformasi digital dalam kehidupan keagamaan tidak sebatas persoalan pemanfaatan teknologi. Perubahan tersebut juga menyentuh persoalan otoritas keagamaan, transmisi ilmu tasawuf, pola komunitas tarekat, etika, serta keberlanjutan tradisi spiritual.

Seminar Internasional 40 Tahun IAILM Suryalaya menjadi momentum refleksi perjalanan empat dekade sekaligus peneguhan komitmen IAILM untuk menjaga warisan spiritual dan mengembangkannya sesuai tantangan zaman.

Melalui semangat “guardian of spiritual inheritance”, IAILM Suryalaya berupaya memadukan kedalaman tradisi spiritual dan nilai-nilai tarekat dengan akuntabilitas akademik dalam menghadapi perkembangan era siber. (*)

LAINNYA