Teater Aksara Borong Tiga Penghargaan di FESDRAK 2026, “SANGKUP” Bawa Pulang Juara 2 Grup Teater Terbaik

waktu baca 3 menit
Senin, 10 Agu 2026 07:09 32 Redaksi

KOTA TANGERANG | TD — Teater Aksara dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), menorehkan prestasi dalam Festival Drama Antarkelas (FESDRAK) 2026. Melalui pementasan bertajuk “SANGKUP: Sang Penguasa Patriarki”, Teater Aksara berhasil meraih Juara 2 Grup Teater Terbaik.

FESDRAK 2026 digelar pada 7–9 Agustus 2026 di Gedung Seni Budaya Kota Tangerang. Festival ini diikuti oleh seluruh program studi di lingkungan FKIP UMT, dengan melibatkan lima program studi, yakni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, dan Pendidikan Matematika.

Sebanyak 12 kelompok teater turut ambil bagian dalam ajang tersebut. Di tengah persaingan, Teater Aksara berhasil membawa pulang tiga penghargaan, yakni Juara 2 Video Promosi Trailer Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik, dan Juara 2 Grup Teater Terbaik.

Prestasi tersebut diraih melalui pementasan “SANGKUP: Sang Penguasa Patriarki” yang disutradarai oleh Azhara Natasya. Mengangkat isu patriarki, ketidakadilan, dan keberanian perempuan, pementasan ini menjadi salah satu karya yang mendapat perhatian dalam gelaran FESDRAK 2026.

“SANGKUP: Sang Penguasa Patriarki” mengisahkan perjuangan Windari, seorang perempuan muda yang berani melawan budaya patriarki dan kekuasaan korup di desanya. Keinginannya untuk membawa perubahan justru menghadirkan berbagai penolakan dan ancaman.

Bersama Sekar, Windari berupaya mengungkap ketidakadilan yang selama ini tersembunyi. Konflik dalam cerita menjadi gambaran perjuangan perempuan dalam menyuarakan kebenaran di tengah kuatnya budaya patriarki dan relasi kuasa.

Melalui pementasan tersebut, Teater Aksara ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya keberanian melawan ketidakadilan serta memperjuangkan perubahan. Isu sosial yang diangkat dikemas melalui konflik dramatik yang membawa penonton mengikuti perjuangan para tokohnya.

Bagi Azhara Natasya selaku sutradara, FESDRAK 2026 bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga menjadi ruang belajar dan pengalaman berharga bagi seluruh anggota Teater Aksara. Ia menilai pencapaian yang diraih merupakan bagian dari proses kreatif yang telah dibangun bersama.

“Ini benar-benar menjadi pembelajaran. Ini teater pertama kita. Walaupun kita tidak juara pertama, setidaknya kita berkarya dengan naskah kita sendiri,” ujar Azhara Natasya.

Apresiasi juga datang dari penonton. Egi, salah seorang penonton yang menyaksikan pementasan tersebut, menilai pesan yang diangkat Teater Aksara dapat tersampaikan dengan baik kepada audiens.

“Pesan yang ingin disampaikan juga tersampaikan dengan baik dan apik,” ujar Egi.

Tiga penghargaan yang diraih dalam FESDRAK 2026 menjadi catatan penting bagi perjalanan kreatif Teater Aksara. Capaian tersebut sekaligus menjadi bukti atas kerja kolektif para pemain dan tim produksi dalam menghadirkan sebuah pementasan yang dibangun dari gagasan hingga proses di atas panggung.

Lebih dari sekadar kompetisi, pementasan “SANGKUP: Sang Penguasa Patriarki” menjadi ruang bagi mahasiswa PBSI UMT untuk menuangkan gagasan, mengembangkan kreativitas, serta mengasah kemampuan dalam dunia seni pertunjukan. Bagi Teater Aksara, penghargaan yang diraih menjadi pijakan untuk terus berkarya dan melangkah ke panggung-panggung berikutnya.

Kontributor: Dede Nabila Indriyani. (*)

LAINNYA