KOTA TANGSEL | TD – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengevaluasi sekaligus membekali seluruh sopir dan kondektur bus sekolah menjelang dimulainya tahun ajaran baru.
Pembekalan yang digelar di Kantor Dishub Tangsel, Serpong, Rabu (1/7/2026), itu difokuskan untuk memastikan pelayanan kepada pelajar semakin aman, nyaman, dan ramah.
Kepala Dishub Tangsel, Ayep Jajat Sudrajat, mengatakan evaluasi tersebut merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap tiga bulan. Selain membahas berbagai kendala di lapangan, kegiatan itu juga menjadi momentum untuk mengingatkan kembali standar pelayanan yang harus diberikan seluruh awak bus sekolah.
“Yang kita tekankan adalah bagaimana sopir dan kondektur memberikan pelayanan terbaik. Anak-anak yang naik bus sekolah itu adalah tanggung jawab kita bersama, sehingga mereka harus merasa aman, nyaman, dan dilayani dengan baik,” kata Ayep.
Dalam pembekalan itu, para sopir dan kondektur mendapatkan materi mengenai perawatan kendaraan, kebersihan armada, pemeriksaan kelayakan operasional, hingga penggunaan alat keselamatan seperti alat pemadam api ringan (APAR). Mereka juga dibekali pengetahuan dasar untuk menangani kondisi darurat saat perjalanan.
Dishub turut membuka ruang diskusi dengan para awak bus guna menyerap berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah titik naik dan turun penumpang di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Tangsel yang kerap memicu antrean kendaraan.
Selain itu, para pengemudi juga menyampaikan keluhan mengenai pohon dan kabel yang menjuntai di sepanjang jalur bus sekolah, serta keterbatasan area parkir saat menunggu jam pulang sekolah.
“Kami mendengar langsung keluhan mereka karena merekalah yang setiap hari berada di lapangan. Semua itu akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan pelayanan,” ujar Ayep.
Tak hanya itu, Dishub juga memberikan pembekalan khusus bagi awak bus yang melayani rute anak berkebutuhan khusus (ABK). Mereka dibekali pemahaman mengenai cara berinteraksi dan memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan para siswa.
Menjelang tahun ajaran baru, pitanya juga akan melakukan penyesuaian pada sejumlah titik penjemputan. Penyesuaian dilakukan mengikuti perubahan domisili siswa tanpa mengubah jalur utama yang telah ditetapkan.
“Nanti mungkin ada sedikit penyesuaian, misalnya bus masuk sedikit ke lokasi penjemputan yang baru. Tujuannya agar anak-anak lebih mudah mengakses bus sekolah,” jelasnya.
Saat ini, layanan bus sekolah Tangsel melayani 10 rute. Tiga armada di antaranya dikhususkan untuk mengangkut anak berkebutuhan khusus, terdiri atas dua unit bus dan satu mobil Elf.
Ayep mengungkapkan, hampir seluruh rute kini mengalami kelebihan kapasitas penumpang. Bahkan, beberapa armada harus melakukan perjalanan hingga dua sampai tiga kali dalam satu waktu keberangkatan untuk mengakomodasi tingginya permintaan masyarakat.
Lonjakan pengguna bus sekolah pun terus meningkat. Hingga pertengahan 2025, jumlah penumpang mencapai sekitar 98 ribu orang atau naik 131 persen dibandingkan sepanjang 2024 yang tercatat sekitar 46 ribu penumpang.
Menurut Ayep, peningkatan tersebut merupakan hasil dari evaluasi rutin, sosialisasi ke sekolah-sekolah, serta upaya menjaga kualitas layanan. Sebelum kembali beroperasi pada tahun ajaran baru, seluruh armada juga akan menjalani pemeriksaan menyeluruh.
“Kami akan memastikan seluruh armada bersih, layak jalan, dan aman. Setelah itu kami juga akan turun ke sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisasi kepada peserta didik baru mengenai layanan bus sekolah,” tuturnya.
Sementara itu, Ruddy (51), salah seorang sopir bus sekolah yang melayani rute anak berkebutuhan khusus, mengaku pekerjaannya memberikan pengalaman yang berkesan. Selama enam bulan bertugas, ia belajar bahwa melayani siswa berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran dan perhatian ekstra.
“Kalau saya menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Memang perlu ekstra sabar karena ada yang harus dibantu naik ke bus, ada yang tantrum atau perlu waktu beradaptasi. Tapi melihat mereka tetap semangat sekolah membuat kami ikut senang,” ungkap Ruddy.
Menurutnya, keberhasilan layanan bus sekolah bagi anak berkebutuhan khusus tidak lepas dari kerja sama Dishub, pihak sekolah, dan orang tua dalam membantu proses adaptasi siswa, termasuk ketika terjadi pergantian sopir maupun kondektur secara berkala. (Idris Ibrahim)