Menatap Akhir Hidup di Dunia Melalui Kebaikan

waktu baca 3 menit
Minggu, 7 Jun 2026 13:04 77 Nazwa

OPINI | TD — Manusia sering kali memotret perjalanan hidupnya tanpa benar-benar menyadari satu hal yang paling pasti: bahwa kehidupan dunia ini tidak kekal. Di tengah derasnya arus pencarian harta, jabatan, dan popularitas, manusia mudah terjebak pada ilusi bahwa semua itu adalah tujuan akhir. Padahal, semuanya hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh pemiliknya.

Kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran kerap membuat manusia merasa berada di puncak, bahkan tak jarang melahirkan kesombongan. Namun sejatinya, semua itu hanyalah bagian dari permainan sementara sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan permainan dan senda gurau. Dan sesungguhnya kampung akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, jika mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

Ayat ini menegaskan bahwa dunia bukanlah tempat tinggal abadi, melainkan persinggahan sementara—seperti terminal yang menjadi tempat singgah sebelum perjalanan dilanjutkan menuju kehidupan yang kekal: akhirat. Dunia adalah ladang, tempat manusia menanam amal, sementara akhirat adalah tempat memetik seluruh hasilnya.

Dalam perspektif ini, nilai hidup seseorang tidak diukur dari apa yang ia kumpulkan, melainkan dari apa yang ia tinggalkan. Kebaikan yang dilakukan manusia tidak berhenti pada saat ia hidup, tetapi dapat terus mengalir bahkan setelah ia wafat. Inilah yang disebut sebagai jejak amal yang berkelanjutan.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang nyata.” (QS. Yasin: 12)

Ayat ini memberikan penegasan yang sangat kuat: tidak ada satu pun perbuatan manusia yang hilang sia-sia. Setiap amal, sekecil apa pun, tercatat dengan sempurna. Bahkan jejak kebaikan yang ditinggalkan—baik berupa ilmu, amal sosial, maupun pengaruh baik—akan tetap hidup dalam ingatan dan manfaat bagi orang lain.

Kesadaran inilah yang seharusnya mengarahkan cara pandang manusia dalam menjalani hidup. Sebab setiap jiwa pasti akan menghadapi kematian, tanpa pengecualian. Allah berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.” (QS. Ali Imran: 185)

Taman Makam Joglo Jakarta Barat. (Foto: Ist)

Kematian tidak mengenal status sosial, jabatan, atau kekayaan. Ia datang pada saat yang telah ditentukan, membawa manusia keluar dari panggung dunia menuju pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, Sang Hakim Yang Maha Adil.

Dalam banyak pandangan ulama, akhir kehidupan manusia sering kali mencerminkan perjalanan hidupnya. Apa yang paling sering dilakukan, dicintai, dan dibiasakan semasa hidup akan menjadi warna terakhir saat seseorang menghadap Tuhannya. Dari sinilah dikenal istilah husnul khatimah dan su’ul khatimah—akhir yang baik atau akhir yang buruk.

Karena itu, menjaga amal kebaikan bukan sekadar tindakan sesaat, tetapi proses membangun “kurikulum hidup” yang akan membentuk bagaimana seseorang mengakhiri perjalanannya. Seseorang yang membiasakan ibadah, dzikir, sedekah, dan kebaikan akan lebih dekat pada akhir yang baik, sekalipun tidak ada yang dapat memastikan hal tersebut kecuali Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal dunia.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa akhir kehidupan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang dibentuk oleh kebiasaan.

Maka, mengisi hidup dengan kebaikan bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi juga tentang mempersiapkan diri menghadapi pertemuan dengan Allah SWT. Amal yang ikhlas akan terus hidup, meskipun jasad telah tiada. Ia menjadi jejak yang terus mengalir dalam kehidupan orang-orang yang pernah tersentuh olehnya.

Imam Syafi’i pernah memberikan nasihat yang sangat dalam:

“Jadikanlah akhirat di hatimu dan dunia di tanganmu.”

Dunia tidak perlu ditinggalkan, tetapi ia tidak boleh menjadi pusat hati. Dunia cukup berada di tangan—digunakan untuk berbuat baik, bukan untuk diperbudak olehnya.

Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan. Sebab hanya itu yang akan menemani kita melampaui batas kematian.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Dr. Zulkifli, MA. (*)

LAINNYA