Anisa Dwi Habsari (Foto: Dok. Pribadi) KOLOM | TD — Saya pernah merasa sangat yakin bahwa pendapat saya adalah yang paling benar. Bukan karena saya telah mempelajari suatu persoalan secara mendalam, melainkan karena pendapat itu terus muncul di layar ponsel saya. Video yang saya tonton, komentar yang saya baca, dan unggahan yang saya sukai seolah mengarah pada kesimpulan yang sama. Lama-kelamaan, saya menganggap apa yang saya lihat sebagai pandangan yang dipercaya oleh banyak orang.
Padahal, belum tentu demikian.
Di era digital, media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat. Laporan Digital 2025 dari We Are Social dan Meltwater menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari menggunakan internet, dengan lebih dari tiga jam di antaranya digunakan untuk mengakses media sosial. Angka tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan. Ia telah menjadi ruang tempat banyak orang memperoleh informasi, membentuk opini, dan memahami berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Media sosial tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga memilihkan informasi yang akan kita lihat. Di balik layar, algoritma bekerja tanpa henti mempelajari kebiasaan pengguna untuk menentukan konten yang dianggap paling relevan. Tanpa disadari, algoritma tidak hanya memengaruhi apa yang kita lihat setiap hari, tetapi juga dapat membentuk cara kita memahami dunia.
Saya menyadari hal itu melalui sebuah percakapan sederhana bersama teman-teman setelah perkuliahan. Saat itu kami membahas sebuah isu yang menurut saya sedang ramai diperbincangkan di internet. Saya merasa topik tersebut begitu populer sehingga mustahil tidak diketahui orang lain. Namun salah satu teman justru terlihat bingung. Teman yang lain bahkan mengaku belum pernah mendengar isu tersebut.
Karena penasaran, kami akhirnya saling menunjukkan beranda media sosial masing-masing.
Saat itulah saya terdiam.
Konten yang muncul di layar mereka ternyata jauh berbeda dari yang saya lihat setiap hari. Topik yang menurut saya sedang ramai ternyata tidak banyak muncul di beranda mereka. Sebaliknya, hal-hal yang akrab bagi mereka justru terasa asing bagi saya.
Kami menggunakan aplikasi yang sama. Kami hidup di lingkungan yang tidak jauh berbeda. Namun isi beranda yang kami temui setiap hari ternyata tidak sama.
Dalam perjalanan pulang, saya terus memikirkan pengalaman tersebut. Selama ini saya menganggap media sosial sebagai jendela yang memperlihatkan dunia apa adanya. Namun saya mulai menyadari bahwa apa yang muncul di layar saya sebenarnya telah dipengaruhi oleh kebiasaan saya sendiri. Apa yang saya tonton, saya sukai, saya bagikan, bahkan berapa lama saya berhenti pada suatu konten menjadi bahan pertimbangan algoritma untuk menentukan apa yang akan terus ditampilkan kepada saya.
Semakin saya mencari tahu, semakin saya memahami bahwa pengalaman tersebut tidak hanya saya alami seorang diri. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa algoritma media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Konten yang muncul berulang kali dapat membuat seseorang merasa bahwa suatu pendapat adalah yang paling benar atau paling banyak dipercaya masyarakat.
Fenomena tersebut dapat dilihat dalam berbagai perdebatan yang kerap muncul di media sosial. Ketika sebuah isu menjadi viral, tidak jarang muncul kelompok-kelompok yang saling berdebat dengan keyakinan bahwa mereka memiliki informasi paling akurat. Padahal, sering kali masing-masing kelompok memperoleh potongan informasi yang berbeda dari sumber yang berbeda pula. Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi ruang untuk saling membenarkan pendapat sendiri.
Kondisi ini sering dikaitkan dengan istilah filter bubble dan echo chamber. Istilah filter bubble diperkenalkan oleh Eli Pariser untuk menjelaskan bagaimana algoritma internet menyaring informasi berdasarkan perilaku pengguna. Sementara itu, echo chamber menggambarkan situasi ketika seseorang terus-menerus menerima pendapat yang sejalan dengan keyakinannya sendiri sehingga sudut pandang yang berbeda semakin sulit ditemukan.
Masalahnya tidak berhenti pada perbedaan informasi yang diterima setiap orang. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut dapat mendorong munculnya polarisasi di tengah masyarakat. Ketika seseorang terus-menerus menerima informasi yang mendukung pandangannya, ia cenderung semakin yakin bahwa kelompoknya adalah pihak yang paling benar. Sebaliknya, kelompok yang memiliki pandangan berbeda sering dianggap keliru, tidak rasional, bahkan tidak layak didengar. Ruang dialog yang seharusnya menjadi sarana bertukar gagasan perlahan berubah menjadi arena pertentangan.
Fenomena ini bukan hal yang asing di Indonesia. Dalam berbagai perdebatan publik, baik terkait politik, kebijakan pemerintah, maupun isu sosial lainnya, media sosial sering kali menampilkan seolah-olah masyarakat terbagi ke dalam kubu-kubu yang saling berhadapan. Masing-masing merasa memiliki data dan fakta yang paling meyakinkan. Padahal, perbedaan tersebut sering kali berakar pada lingkungan informasi yang berbeda.
Saat memahami hal tersebut, saya kembali teringat pada percakapan bersama teman-teman. Perbedaan yang kami temukan bukanlah kebetulan. Kami menerima potongan-potongan informasi yang berbeda dari realitas yang sama.
Pengalaman kecil tersebut membuat saya menyadari bahwa apa yang terjadi pada saya mungkin juga dialami oleh banyak orang. Tanpa disadari, setiap pengguna media sosial dapat hidup dalam lingkungan digital yang berbeda meskipun berada di tengah masyarakat yang sama.
Pemahaman itu juga mengubah cara saya melihat berbagai perdebatan yang sering terjadi di media sosial. Dulu saya mudah menganggap orang yang memiliki pandangan berbeda sebagai pihak yang kurang memahami persoalan. Namun sekarang saya mulai melihat kemungkinan lain. Bisa jadi mereka menerima informasi yang berbeda dari saya. Bisa jadi pengalaman digital mereka membentuk sudut pandang yang berbeda pula.
Kesadaran itu membuat saya mencoba mengubah kebiasaan kecil ketika menggunakan media sosial. Saya mulai mengikuti akun dengan sudut pandang yang berbeda. Saya mencoba membaca pendapat yang tidak selalu sejalan dengan pemikiran saya. Tidak semua pengalaman itu terasa nyaman. Namun saya belajar bahwa mendengarkan bukan berarti harus menerima semua pendapat.
Mendengarkan berarti memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memahami.
Saya juga mulai menyadari bahwa dunia jauh lebih luas daripada apa yang ditampilkan oleh algoritma. Ada banyak cerita yang tidak pernah menjadi viral. Ada banyak pengalaman yang tidak muncul di beranda media sosial. Ada banyak suara yang tidak cukup populer untuk mendapatkan perhatian, tetapi tetap penting untuk didengar.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memeriksa informasi, mempertanyakan sumbernya, dan menyadari bahwa apa yang kita lihat belum tentu merupakan gambaran yang utuh tentang kenyataan.
Hari ini saya masih menggunakan media sosial seperti biasa. Saya masih menonton video, membaca komentar, dan mengikuti berbagai informasi yang muncul di layar ponsel. Namun saya tidak lagi menganggap bahwa apa yang saya lihat adalah gambaran utuh tentang dunia.
Pengalaman sederhana bersama teman-teman membuat saya memahami bahwa setiap orang bisa menerima potongan informasi yang berbeda. Karena itu, sebelum merasa paling benar, mungkin kita perlu bertanya lebih dulu: apakah ada sudut pandang yang belum kita dengar?
Sebab ancaman terbesar media sosial bukan semata-mata hadirnya informasi yang salah, melainkan keyakinan bahwa informasi yang kita terima sudah cukup untuk memahami dunia. Padahal, dunia selalu lebih luas daripada layar yang kita genggam.
Penulis: Anisa Dwi Habsari
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)