Saat Generasi Muda Kehilangan Alternatif Pilihan

waktu baca 3 menit
Selasa, 12 Mei 2026 20:20 75 Redaksi

OPINI | TD — Sejak siang musik berdentum dari sekolah di samping rumah. Sampai lewat Isya, suaranya masih terdengar. Anak-anak bersorak, tertawa, berjoget bersama. Mungkin sedang ada acara perpisahan atau pentas seni.

Penulis tidak terganggu. Justru ada sedikit nostalgia. Dulu, saat masih remaja, kami juga keras-kerasan memutar musik. Bedanya, zaman kami lebih akrab dengan rock underground. Sekarang yang terdengar house music dengan beat dugem yang cepat dan menghentak.

Namun makin malam, penulis malah sibuk berpikir: sebenarnya apa yang sedang dirayakan?

Belakangan ini, pemandangan seperti itu makin sering muncul di media sosial. Perpisahan sekolah berubah seperti festival hiburan. Ada joget massal ala TikTok, konvoi kendaraan, siraman foam party, flare, smoke bomb, bahkan tata lampu yang dibuat menyerupai klub malam. Semuanya direkam, diunggah, lalu diramaikan di Instagram atau TikTok.

Sekilas memang terlihat seru. Anak-anak muda tampak bahagia. Tapi ada sesuatu yang terasa kosong.

Bukan musiknya yang jadi soal. Anak muda memang selalu punya caranya sendiri untuk bersenang-senang. Generasi dulu juga begitu. Masalahnya adalah ketika sekolah—yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter dan cara berpikir—justru ikut larut dalam budaya euforia tanpa arah.

Sekolah hari ini tampaknya makin takut dianggap kuno. Akhirnya banyak yang memilih mengikuti tren agar terlihat “dekat dengan anak muda”. Acara dibuat semeriah mungkin, selama bisa viral dan ramai di media sosial. Padahal pendidikan tidak seharusnya bekerja dengan logika industri hiburan.

Penulis kadang bertanya-tanya, kapan terakhir sekolah memberi ruang bagi anak muda untuk benar-benar akrab dengan kebudayaan yang lebih dalam? Diskusi sastra mungkin kalah ramai dibanding pentas DJ. Musik tradisional dianggap tidak menarik. Forum refleksi terasa membosankan. Bahkan kegiatan spiritual sering tinggal formalitas.

Akibatnya, anak-anak muda tumbuh tanpa banyak alternatif. Mereka terlalu sering dikenalkan pada keramaian, tetapi jarang diajak menikmati keheningan. Mereka tahu cara tampil, tapi tidak cukup dibimbing memahami diri sendiri.

Dan mungkin itu sebabnya banyak selebrasi hari ini terasa sangat meledak-ledak di luar, tetapi rapuh di dalam. Semua harus direkam. Semua harus diunggah. Semua harus mendapat respons. Seolah kebahagiaan baru terasa nyata kalau sudah dilihat orang lain.

Tentu tulisan ini bukan ajakan untuk memusuhi hiburan. Masa muda memang penuh energi. Orang dewasa juga tidak berhak menuntut remaja hidup seperti pertapa. Tetapi sekolah seharusnya tidak berhenti hanya menjadi penyelenggara keramaian.

Pendidikan mestinya memberi pengalaman yang lebih kaya dari sekadar euforia sesaat. Anak muda perlu dikenalkan pada seni yang menghidupkan batin, bacaan yang menantang pikiran, percakapan yang memperluas cara pandang, dan kegiatan yang membuat mereka merasa hidup tanpa harus terus-menerus bising.

Karena kalau sejak awal yang disediakan hanya budaya hingar-bingar, jangan heran bila mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa satu-satunya cara untuk merasa hidup adalah dengan terus meramaikan diri.

Dan mungkin, di situlah kegagalan kita sebagai orang dewasa dimulai.

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Redaktur TangerangDaily. (*)

 

LAINNYA