Dua buku pemikiran berbeda—filsafat Friedrich Nietzsche dan tasawuf Al-Ghazali— menghadirkan refleksi tentang pergulatan makna hidup di tengah alam terbuka. (Foto: Dok. Penulis) OPINI | TD — Pernah ada fase dalam hidup ketika segalanya terasa runtuh—keyakinan yang dulu kokoh tiba-tiba goyah, arah hidup menjadi kabur, dan pertanyaan-pertanyaan besar datang tanpa jeda. Saya pernah berada di titik itu. Bukan karena kehilangan sesuatu yang konkret, tetapi karena kehilangan makna.
Di tengah kegamangan itu, saya mulai membaca pemikiran Friedrich Nietzsche. Awalnya terasa membingungkan, bahkan mengganggu. Ia seperti “membakar” semua yang selama ini saya yakini. Tentang kebenaran, tentang moralitas, bahkan tentang tujuan hidup. Nietzsche tidak memberi jawaban yang menenangkan—justru ia memaksa saya untuk bertanya lebih dalam: apakah selama ini saya benar-benar hidup dengan makna yang saya pilih sendiri?
Belum selesai dengan kegelisahan itu, saya bertemu dengan gagasan Jacques Derrida. Di sini, kebingungan semakin menjadi. Derrida seakan mengatakan bahwa makna tidak pernah benar-benar pasti. Apa yang kita pahami hari ini bisa saja berubah esok hari. Dunia tidak sesederhana hitam dan putih—ia penuh lapisan, tafsir, dan kemungkinan.
Pada titik itu, saya merasa seperti berjalan di belantara tanpa peta. Segalanya terbuka, tetapi justru karena itu, segalanya terasa tidak pasti. Api pemikiran itu membakar habis banyak hal dalam diri saya—termasuk rasa nyaman.
Namun, perjalanan tidak berhenti di sana.
Di tengah pencarian itu, saya menemukan pemikiran Al-Ghazali. Berbeda dengan Nietzsche dan Derrida, Al-Ghazali tidak datang dengan “api” yang mengguncang, melainkan seperti hujan yang menenangkan. Ia berbicara tentang krisis, tentang keraguan, dan tentang pencarian—tetapi dengan arah yang lebih utuh.
Yang membuat saya terhubung adalah satu hal: Al-Ghazali juga pernah berada dalam fase ragu yang mendalam. Ia mempertanyakan segalanya, bahkan ilmu yang ia miliki. Namun, ia tidak berhenti pada keraguan. Ia melanjutkan perjalanan itu ke dalam—menemukan bahwa makna tidak hanya dibangun oleh logika, tetapi juga oleh hati yang jernih dan pengalaman batin.
Dari situlah saya mulai memahami sesuatu yang sederhana, tetapi sering terlewat: hidup bukan tentang menemukan jawaban yang pasti, melainkan tentang menjalani proses pencarian itu sendiri.
Sebagai pembaca—mungkin Anda juga pernah merasakannya. Ada momen ketika hidup terasa seperti rutinitas tanpa arah. Kita menjalani hari demi hari, tetapi tanpa benar-benar tahu untuk apa. Atau mungkin, Anda sedang berada di fase di mana semua yang dulu diyakini kini terasa tidak lagi cukup.
Jika iya, mungkin itu bukan tanda bahwa Anda tersesat. Bisa jadi, itu adalah tanda bahwa Anda sedang bertumbuh.
Sebab, seperti yang saya rasakan, pergulatan adalah bagian penting dari kehidupan. Ia memang tidak nyaman. Ia melelahkan. Kadang bahkan menyakitkan. Tetapi justru dari sanalah kekuatan mulai terbentuk.
Saya mulai melihat hidup seperti pohon. Dari luar, kita hanya melihat batang yang kokoh dan daun yang rimbun. Tetapi yang paling penting justru tidak terlihat: akar yang menghujam dalam ke tanah. Akar itu adalah pengalaman, kegagalan, pertanyaan, dan pencarian makna yang kita jalani.
Tanpa akar yang kuat, pohon tidak akan mampu berdiri tegak. Dan tanpa pergulatan, manusia sulit memiliki makna hidup yang benar-benar ia pahami.
Di era sekarang, kita sering tergoda untuk mencari jalan cepat—jawaban instan, motivasi singkat, atau definisi hidup dari orang lain. Padahal, makna sejati tidak bisa dipinjam. Ia harus ditemukan sendiri.
Dari Nietzsche, saya belajar untuk berani mempertanyakan. Dari Derrida, saya belajar untuk tidak terlalu cepat merasa pasti. Dan dari Al-Ghazali, saya belajar untuk menenangkan diri—bahwa di balik semua pencarian itu, ada ruang batin yang perlu dijaga.
Perjalanan ini belum selesai. Mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai. Tetapi justru di situlah letak keindahannya.
Karena pada akhirnya, hidup yang layak diperjuangkan bukanlah hidup yang sempurna atau tanpa masalah. Melainkan hidup yang kita pahami, kita jalani dengan sadar, dan kita maknai dari setiap proses yang kita lalui.
Dan jika hari ini Anda merasa sedang “dibakar” oleh pertanyaan-pertanyaan hidup, mungkin itu bukan akhir. Bisa jadi, itu adalah awal—sebelum hujan datang, dan kehidupan tumbuh kembali dengan cara yang lebih kuat, lebih dalam, dan lebih bermakna.
Penulis: Romly Revolvere, Penikmat teks filsafat dan tasawuf. (*)