Wabup Intan Soroti Penanganan Eklamsia, Minta Fasilitas Kesehatan Lebih Sigap

waktu baca 2 minutes
Rabu, 26 Nov 2025 14:18 0 Nazwa

TANGERANG | TD – Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat komitmen dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi di daerah tersebut.

Seruan itu ia sampaikan saat membuka Pertemuan Tim Gerakan Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir Kabupaten Tangerang yang digelar di Hotel Vega Gading Serpong, Rabu (26/11/25).

“Saya berharap seluruh unsur dapat terus memperkuat komitmen dan berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayi. Setiap pokja harus menjalankan tugasnya secara maksimal agar angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan sesuai harapan,” ujar Intan.

Ia memaparkan, Kabupaten Tangerang masih masuk kategori rawan. Pada 2024 tercatat 34 kasus kematian ibu dan 214 kasus kematian bayi. Sementara Januari–Oktober 2025, terdapat 17 kematian ibu dan 171 kematian bayi. Meski angka tersebut menunjukkan tren penurunan, Intan menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh membuat lengah.

“Walau grafik kematian ibu hamil dan bayi menurun di tahun 2025, kita tetap harus melakukan langkah antisipasi dan penanganan yang tepat agar angka tersebut terus berkurang,” tegasnya.

Intan juga menilai Gerakan Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir sebagai program penting yang memiliki peran strategis. Gerakan yang dicanangkan sejak 16 Januari 2014 itu, menurutnya, menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi emas 2045.

“Setiap nyawa ibu dan bayi yang berhasil diselamatkan hari ini adalah investasi besar bagi masa depan bangsa,” tambahnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada perangkat daerah, tenaga kesehatan, dan seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya bagi ibu dan bayi.

“Mari kita terus menjaga semangat kolaborasi dan gotong royong untuk menghadirkan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang semakin baik di Kabupaten Tangerang,” tutupnya.

Kepala Dinas Kesehatan, dr. Hendra Tarmidzi, dalam laporannya menyebut bahwa kasus kematian ibu pada 2025 paling banyak disebabkan oleh komplikasi kehamilan, khususnya eklamsia, yang terlambat ditangani.

“Biasanya ibu hamil mengalami eklamsia atau hipertensi yang diikuti kejang, tapi terlambat dibawa ke rumah sakit sehingga penanganannya tidak optimal,” jelas Hendra.

Ia berharap pertemuan ini menjadi momentum bagi Puskesmas, klinik, bidan, fasilitas kesehatan mandiri, rumah sakit, hingga organisasi profesi untuk memperbaiki langkah dan strategi dalam menangani kesehatan ibu dan anak.

“Ini tanggung jawab kita bersama. Jangan sampai ada lagi kematian ibu atau bayi akibat penanganan yang keliru. Dari Puskesmas sampai rumah sakit, prosedurnya harus benar,” tegasnya. (*)

LAINNYA