OPINI | TD — Aku adalah subjek imanen yang menziarahi makna, menapaki jejak dari Thus Spoke Zarathustra hingga Ihya’ Ulumuddin, dan berlabuh pada hikmah abadi Al-Hikam — mencari diri di antara abunya Nietzsche, cahayanya al-Ghazali, dan keheningan Ibn ‘Athaillah.
Ada masa di mana manusia berhenti sekadar membaca dunia, dan mulai menziarahi makna di dalamnya. Di situlah aku berdiri: bukan sebagai pengamat, tapi sebagai subjek imanen — seseorang yang hidup di tengah keberadaan, merasakan denyutnya, dan mencari makna di dalam arus yang sama. Aku tidak berada di luar kehidupan untuk menilainya; aku tenggelam di dalamnya, menyentuhnya dengan rasa dan pikir.
Menziarahi makna berarti berjalan dalam sunyi, menyusuri lorong-lorong batin yang dipenuhi sisa-sisa tafsir lama. Setiap kali aku menemukan pengertian baru, pengertian sebelumnya pun gugur seperti daun di musim gugur. Ziarah ini tidak pernah selesai; ia selalu menuntut kematian kecil — kematian makna, kematian ego, agar lahir kesadaran baru yang lebih jernih.
Abu Nietzsche: Saat Tuhan Redup dalam Diri
Aku pernah melewati gurun Nietzsche. Di sana, Tuhan telah mati — bukan karena peluru ateisme, tapi karena manusia kehilangan kemampuan untuk merasakan kehadiran-Nya. Di dunia yang terlalu bising oleh pengetahuan dan kekuasaan, Tuhan perlahan memudar menjadi ide kosong.
Namun Nietzsche, dengan segala teriakannya, sebenarnya sedang rindu. Ia tidak membunuh Tuhan; ia hanya mengubur bayangan palsu yang diciptakan manusia. Abu Nietzsche adalah simbol keberanian untuk menghancurkan berhala pikiran, termasuk bayangan tentang Tuhan yang dibuat dari ketakutan.
Di titik ini aku belajar: kadang, untuk menemukan makna yang sejati, seseorang harus rela membiarkan makna lama terbakar menjadi abu.
Cahaya Al-Ghazali: Ketika Akal Menunduk pada Hati
Setelah melintasi gurun nihilisme itu, aku tiba pada taman Al-Ghazali. Ia pernah mengalami kebingungan yang sama: mencari kepastian lewat ilmu dan logika, namun akhirnya sadar bahwa kebenaran sejati hanya bisa dirasakan oleh hati yang disucikan.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama bukan lewat doktrin, melainkan dengan pengalaman yang dialami langsung. Ia menulis bukan dari menara logika, tapi dari perjalanan batin yang pernah runtuh dan bangkit lagi.
Cahaya Al-Ghazali bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya lembut yang tumbuh dari dalam dada — cahaya yang lahir ketika akal berhenti berdebat dan mulai berzikir. Aku menemukan bahwa kebenaran tidak perlu dikejar, cukup dibersihkan cerminnya dalam diri agar Ia memantul dengan sendirinya.
Keheningan Ibn ‘Athaillah: Saat Kata Tak Lagi Perlu
Dari sana, langkahku berhenti di pelataran Ibn ‘Athaillah. Dalam Al-Hikam, ia berbicara dengan tenang, seolah setiap katanya keluar dari ruang di mana dunia telah sunyi. “Kehendakmu untuk menampakkan Tuhan ketika Dia menutupmu dari-Nya, itu tanda ketidaktahuanmu,” tulisnya.
Aku mengerti kemudian, bahwa keheningan bukan kekosongan. Ia adalah keadaan ketika makna begitu penuh hingga tak lagi membutuhkan kata. Dalam diam itulah Tuhan menyingkapkan diri — bukan lewat argumen, tetapi lewat kehadiran yang lembut, nyaris tak terkatakan.
Keheningan Ibn ‘Athaillah adalah jawaban dari teriakan Nietzsche. Yang satu berteriak karena kehilangan makna, yang lain diam karena telah menemukannya.
Ziarah Diri: Dari Abu ke Cahaya, dari Cahaya ke Diam
Perjalanan ini mengajarkanku bahwa manusia tak mungkin langsung sampai pada keheningan tanpa terlebih dulu melewati kehancuran. Abu Nietzsche adalah pembakaran ilusi; cahaya Al-Ghazali adalah kelahiran kesadaran; dan diam Ibn ‘Athaillah adalah kepulangan.
Tiga tahap ini bukan sekadar lintasan intelektual, melainkan perjalanan batin yang bisa dialami siapa saja. Kita semua, dengan cara masing-masing, sedang menempuh ziarah itu — berangkat dari kekosongan menuju kehadiran, dari pertanyaan menuju penerimaan.
Dan mungkin, di akhir perjalanan itu, kita tak menemukan Tuhan di langit, tapi di kedalaman diri sendiri — di ruang batin yang tenang, tempat seluruh makna berhenti berdebat dan hanya tersisa satu bisikan lembut: “Tiada aku selain Dia.”
Penulis: Mohamad Romli
Redaktur Tangerangdaily.id, penikmat teks filsafat dan tasawuf. (*)