110 Tahun Mathla’ul Anwar: Menyalakan Obor, Menyongsong Dunia

waktu baca 10 menit
Senin, 10 Agu 2026 13:19 10 Redaksi

OPINI | TD — Hari ini, tepat pada hamparan penanggalan 10 Agustus, ingatan saya melayang jauh ke masa silam. Menyusuri kembali jalan-jalan kecil di pesisir Binuangeun, sebuah daerah di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tempat sebagian perjalanan awal kehidupan dan pendidikan saya dimulai.

Sebagai alumnus Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah Mathla’ul Anwar Binuangeun, saya memandang lembaga ini bukan sekadar tempat menimba ilmu. Di sanalah benih-benih nalar, spiritualitas, kesadaran keumatan, dan komitmen pengabdian pertama kali disemaikan.

Bau asin laut yang berpadu dengan lantunan selawat dari surau-surau dan madrasah di kawasan pesisir kala itu bukan sekadar memori masa kecil. Semua itu menjadi lanskap kehidupan yang membentuk cara saya memandang dunia. Di sanalah saya belajar membaca aksara kehidupan dan memahami bahwa madrasah adalah suluh yang menerangi gulitanya ketidaktahuan.

Perjalanan panjang tersebut kemudian membawa saya memasuki berbagai momentum penting dalam pengabdian organisasi. Saya berkesempatan berdiri di mimbar persidangan tertinggi dan memegang palu kepemimpinan sebagai Pimpinan Sidang pada dua perhelatan monumental, yakni Muktamar XX Mathla’ul Anwar di Puncak, Bogor, pada 2021 dan Muktamar XXI di Kota Serang pada 2026.

Dua fase tersebut menjadi fragmen sejarah yang penuh dialektika. Di dalamnya, gagasan bertemu, perbedaan pandangan diuji, dan kepentingan organisasi harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar untuk melahirkan keputusan dan arah organisasi yang bermartabat.

Kini, ketika amanah pengabdian berlanjut ke ruang eksekutif sebagai bagian dari Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) Periode 2026–2031, refleksi tentang perjalanan organisasi menjadi semakin penting. Bukan semata untuk mengenang kejayaan masa lalu, melainkan untuk menakar arah bahtera Mathla’ul Anwar dalam memasuki fase perjalanan berikutnya.

Jika kita membuka kembali lembar sejarah, Mathla’ul Anwar lahir di Menes, Pandeglang, pada 10 Syawal 1334 Hijriah, bertepatan dengan 10 Agustus 1916 Masehi. Didirikan oleh para ulama dan tokoh pejuang, antara lain KH Moh. Tb. Soleh, Kiai Entol, H. Moh. Yasin, Kiai Tegal, KH Abdul Mu’ti, KH Soleman Cibinglu, KH Daud, KH Rusydi, E. Danawi, KH Mustagfiri, Ki Mas Abdurrahman, serta para kiai lainnya, Mathla’ul Anwar hadir sebagai respons profetik terhadap kebodohan, keterbelakangan, dan penindasan kolonial.

Nama Mathla’ul Anwar, yang secara harfiah berarti tempat terbitnya cahaya, bukanlah sekadar nama. Ia adalah doa, cita-cita, sekaligus orientasi perjuangan. Sebuah harapan agar cahaya ilmu, keislaman, kemanusiaan, dan kemajuan terus dipancarkan ke berbagai penjuru.

Dari rahim kultur kepesantrenan, Mathla’ul Anwar tumbuh dengan khittah perjuangan yang mandiri, lurus, dan tidak menjadi subordinat kekuatan politik praktis. Dalam perjalanan sejarahnya, identitas perjuangan itu diwujudkan melalui tiga pilar utama: pendidikan, dakwah, dan sosial.

Pilar pendidikan hadir melalui ribuan madrasah dan sekolah yang tersebar di berbagai daerah. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut telah menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak bangsa untuk memperoleh ilmu pengetahuan sekaligus membangun karakter dan akhlak.

Pilar dakwah bergerak merawat kehidupan keagamaan umat melalui mimbar-mimbar yang sejuk, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sementara pilar sosial menjadi bukti bahwa Mathla’ul Anwar tidak pernah boleh menjauh dari realitas masyarakat. Kepedulian terhadap kemiskinan, anak yatim, pendidikan masyarakat, hingga kehadiran dalam berbagai situasi kebencanaan merupakan bagian dari watak pengabdian organisasi.

Ketiga pilar tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan tanpa kepedulian sosial akan kehilangan sensitivitasnya. Dakwah tanpa penguatan ilmu dapat kehilangan kedalamannya. Sementara kerja sosial tanpa nilai keagamaan dan visi pendidikan dapat kehilangan arah jangka panjangnya. Pendidikan, dakwah, dan sosial adalah tiga kaki yang menopang perjalanan Mathla’ul Anwar.

Namun, usia 110 tahun tidak boleh hanya dirayakan dengan romantisme sejarah. Sejarah memang penting untuk mengenali akar, tetapi masa depan menuntut keberanian untuk menumbuhkan cabang-cabang baru. Kita harus menghormati warisan para pendiri tanpa menjadikan warisan itu sebagai alasan untuk berhenti berubah.

Memasuki usia 110 tahun, Mathla’ul Anwar harus berani melakukan lompatan besar. Organisasi sebesar ini tidak cukup dikelola dengan pola-pola lama yang tidak lagi sepenuhnya relevan dengan tantangan zaman. Kita perlu melakukan transformasi menuju tata kelola yang lebih modern, profesional, transparan, terukur, dan berbasis meritokrasi.

Digitalisasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan. Sistem organisasi, komunikasi, publikasi, administrasi, data keanggotaan, serta pengelolaan program harus mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Demikian pula transparansi dan akuntabilitas harus menjadi budaya kelembagaan, karena organisasi besar membutuhkan kepercayaan yang besar pula.

Kaderisasi juga harus menjadi agenda utama. Proses kaderisasi formal dan informal perlu dirancang untuk melahirkan kader-kader yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga tajam secara intelektual, matang secara emosional, dan terampil secara manajerial.

Mathla’ul Anwar membutuhkan kader pemikir sekaligus penggerak. Kader yang mampu berdialog dengan tradisi, tetapi tidak gagap menghadapi modernitas. Kader yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam dan keindonesiaan, namun memiliki cakrawala global.

Hanya melalui pembenahan sistem perkaderan yang serius dan terukur, cita-cita untuk menjadikan Mathla’ul Anwar sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia dapat diwujudkan secara objektif.

Ikhtiar membesarkan organisasi juga menuntut transformasi mentalitas kolektif. Kita harus berani membuang jauh-jauh ego sektoral yang selama ini, sadar atau tidak, sering menjadi penghambat kemajuan.

Ungkapan Sunda, “ku sorangan teu bisa, ku batur ulah,” harus menjadi cermin untuk kita hindari. Jangan sampai ketika diri sendiri belum mampu melakukan sesuatu, kita justru menghalangi orang lain yang sedang berbuat baik. Jangan sampai keterbatasan pribadi berubah menjadi sikap dengki terhadap kemajuan bersama.

Sikap seperti itu adalah racun bagi organisasi. Ia menggerogoti kohesi sosial, merusak silaturahmi kelembagaan, dan menghabiskan energi dalam konflik yang tidak produktif.

Mathla’ul Anwar adalah milik umat. Ia adalah ladang pengabdian yang sangat luas. Karena itu, setiap potensi kebaikan, dari mana pun datangnya, harus diberi ruang, didukung, dan diapresiasi.

Sebaliknya, kita perlu menggelorakan kembali falsafah penuh kearifan: “ulah mareuman obor boga batur, caangan bae obor boga sorangan.” Jangan memadamkan obor milik orang lain; nyalakanlah obor milik kita sendiri.

Falsafah ini mengandung pesan moral yang sangat relevan bagi kehidupan organisasi. Kita tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk terlihat tinggi. Kita tidak perlu meremehkan prestasi orang lain untuk membuktikan kemampuan diri sendiri. Setiap kader memiliki ruang pengabdian dan kesempatan untuk memberikan cahaya.

Fokus terbaik adalah menyalakan dan memperbesar obor pengabdian masing-masing melalui karya nyata. Ada yang bergerak di bidang pendidikan, ada yang berdakwah, ada yang mengembangkan kerja-kerja sosial, ada pula yang memperkuat organisasi, membangun jaringan, mengembangkan pemikiran, atau menggerakkan transformasi digital.

Jika setiap madrasah, setiap pengurus daerah, setiap badan otonom, dan setiap kader mampu menyalakan obornya, maka akumulasi cahaya itu akan menjadi kekuatan besar. Cahaya-cahaya kecil yang menyatu akan mampu mengusir kegelapan dan menerangi seluruh tubuh organisasi.

Pada usia 110 tahun ini, inilah saatnya Mathla’ul Anwar tidak hanya menyalakan obor untuk dirinya sendiri, tetapi juga menyongsong dunia.

Langkah strategis berikutnya adalah keberanian untuk keluar dari belenggu psikologis Menes Sentris. Kita tentu memiliki penghormatan yang sangat tinggi kepada Menes sebagai tempat ari-ari sejarah Mathla’ul Anwar ditanam. Menes adalah tanah kelahiran, pusat memori historis, sekaligus sumber spiritual perjuangan yang harus selalu kita rawat dengan takzim.

Namun, menghormati akar tidak berarti membatasi pandangan. Pohon yang kuat justru mampu menjulang tinggi karena akarnya tertanam kokoh.

Mathla’ul Anwar harus tetap memiliki akar yang kuat di Menes, Banten, dan Indonesia, tetapi cabang pemikirannya harus menjangkau cakrawala yang lebih luas. Untuk menjadi kekuatan besar, organisasi ini harus berani bergerak secara lebih masif di tingkat nasional dan internasional.

Struktur kepengurusan, jangkauan program, jaringan kelembagaan, dan pengaruh pemikiran Mathla’ul Anwar harus terus diperluas. Organisasi harus mampu mengambil bagian dalam berbagai isu strategis nasional, memberi kontribusi terhadap kebijakan publik, serta hadir dalam diskursus kemanusiaan dan perdamaian di tingkat global.

Menjadi organisasi kosmopolitan tidak berarti kehilangan identitas. Justru sebaliknya, identitas yang kuat akan memiliki daya tawar ketika dibawa ke ruang pergaulan yang lebih luas.

Karena itu, Mathla’ul Anwar harus terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai elemen strategis, baik pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, maupun jaringan internasional. Kolaborasi harus dipandang sebagai instrumen untuk memperbesar manfaat dan memperluas jangkauan pengabdian.

Jaringan madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi Mathla’ul Anwar juga harus mulai beradaptasi dengan standar global. Kita harus mendorong lahirnya inovasi pendidikan, penguatan kualitas sumber daya manusia, riset-riset yang berdampak, dan kemitraan internasional yang produktif.

Di era persaingan pengetahuan, organisasi pendidikan tidak cukup hanya membangun gedung. Kita harus membangun ekosistem intelektual. Tidak cukup hanya memperbanyak lembaga, tetapi juga harus meningkatkan mutu. Tidak cukup hanya memiliki jaringan yang luas, tetapi jaringan itu harus dihubungkan oleh visi bersama.

Dalam bidang kepemimpinan, transformasi mekanisme pemilihan pengurus, khususnya calon Ketua Umum di berbagai tingkatan melalui sistem musyawarah, merupakan modal politik dan kelembagaan yang sangat berharga. Musyawarah adalah tradisi yang harus terus dirawat agar kepemimpinan lahir dari proses yang teduh, bermartabat, dan mengutamakan kepentingan organisasi.

Dengan demikian, energi kader tidak habis dalam kompetisi pragmatis yang berkepanjangan. Energi terbesar organisasi harus diarahkan untuk bekerja, membangun, dan memperluas kemaslahatan.

Di bawah nakhoda kepengurusan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar Periode 2026–2031, saya mengajak seluruh warga, kader, simpatisan, cendekiawan, dan keluarga besar Mathla’ul Anwar untuk merapatkan barisan.

Mari kita tinggalkan sekat-sekat perbedaan masa lalu yang tidak lagi produktif. Mari kita ubah perbedaan menjadi energi dialektika yang sehat, kreatif, dan konstruktif. Organisasi besar tidak dibangun oleh keseragaman mutlak, melainkan oleh kemampuan menyatukan beragam potensi menuju tujuan bersama.

Perahu besar Mathla’ul Anwar membutuhkan banyak pendayung yang tangguh. Ia membutuhkan pemikir yang jernih, pendidik yang berdedikasi, dai yang menyejukkan, aktivis sosial yang peduli, pengelola organisasi yang profesional, dan pekerja keras yang ikhlas.

Di atas pundak kita semua terdapat tanggung jawab sejarah yang tidak ringan. Kita harus membuktikan bahwa cahaya yang terbit dari Barat Jawa 110 tahun lalu tidak pernah padam. Cahaya itu justru harus terus diperbesar hingga menjelma menjadi kekuatan yang menerangi bangsa, bahkan memberi manfaat bagi dunia.

Mathla’ul Anwar bukan sekadar tempat berkumpulnya sejumlah orang. Ia adalah gerakan moral dan gerakan peradaban yang membawa semangat risalah kenabian: mencerahkan, memanusiakan, mencerdaskan, dan menghadirkan kemaslahatan.

Di atas perjalanan panjang organisasi ini, terdapat harapan jutaan anak bangsa. Ada harapan para murid madrasah di pelosok daerah. Ada cita-cita keluarga sederhana yang menggantungkan masa depan anak-anaknya pada pendidikan. Ada pula harapan masyarakat yang membutuhkan kehadiran organisasi Islam yang teduh, mandiri, dan solutif.

Saya teringat anak-anak pesisir seperti kami dahulu di Binuangeun. Mereka mungkin memulai perjalanan dari tempat yang sederhana, dari ruang kelas yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa cahaya ilmu dapat membawa seseorang melampaui batas-batas geografis dan sosial.

Itulah kekuatan sejati Mathla’ul Anwar: menyalakan cahaya dari tempat-tempat yang mungkin tidak selalu mendapat sorotan, lalu membiarkan cahaya itu tumbuh dan menjangkau dunia.

Pada usia 110 tahun, kita tidak boleh hanya bertanya apa yang telah diberikan Mathla’ul Anwar kepada kita. Kita juga harus bertanya: cahaya apa yang telah kita nyalakan untuk Mathla’ul Anwar?

Mari kita nyalakan obor kita masing-masing. Jangan padamkan obor orang lain. Mari satukan cahaya-cahaya itu menjadi energi besar untuk membawa organisasi ini naik level.

Dengan senantiasa memohon pituduh, kekuatan, dan rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mari kita melangkahkan kaki dengan panceg—mantap dan teguh. Menjaga akar sejarah, memperkuat fondasi, melakukan transformasi, berjaya di pentas nasional, dan menyongsong dunia.

Mathla’ul Anwar, 110 tahun: menyalakan obor, menyongsong dunia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Ocit Abdurrosyid Siddiq, Ketua Bidang Humas dan Publikasi Digital Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA); alumnus MI dan MTs Mathla’ul Anwar Binuangeun, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten; serta alumnus IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. (*)

LAINNYA