Sumpah Pemuda dan Musda KNPI Kabupaten Tangerang

waktu baca 4 minutes
Kamis, 28 Okt 2021 14:27 0 Redaksi TD

Oleh: Ahmad Syaikhu

Kenalilah diri anda sendiri! Hai pemuda Indonesia. Akar sejarah persatuan kalian ada pada kesetiaan Sumpah Pemuda. Djon Pakan Lalanlangi dalam Kembali! Ke Jati Diri Bangsa, 2012

Sejarah mencatat, perubahan besar dalam perjalanan bangsa ini senantiasa diinisiasi oleh para pemuda. Bisa kita sebutkan misalnya, Kartini, Tjipto Mangungkusumo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), Douwes Dekker, HOS Tjokroaminoto, Tan Malaka, Soekarno, Mohamad Hatta, Sutan Sjahrir, M. Yamin, hingga Soekarni, Chaerul Saleh, Sudirman, dan seterusnya.

Dalam konteks kekinian, berhasil tidaknya pembangunan nasional, salah satunya tergantung pada jalan yang ditempuh pemuda hari ini. Jalan itu tak lain, meneguhkan kembali jiwa dan makna Sumpah Pemuda. Itulah amanat para pendahulu bangsa ini, amanat penderitaan rakyat. Amanat tersebut telah digariskan dalam tiga butir sumpah pemuda, satu kesatuan yang bulat dan tidak dapat dipisah-pisahkan dari Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila, dan UUD 1945.

Musda KNPI Kabupaten Tangerang

Oktober, bulan paling ideal untuk merefleksikan ikrar Sumpah Pemuda. Dengan semangat persatuan, sejumlah organisasi kepemudaan mulai bergeliat memperebutkan janji itu, tak terkecuali pada Musyarawah Daerah (Musda) KNPI Kabupaten Tangerang. Tapi, bisakah Musda itu melahirkan jiwa penegas?  Memiliki semangat pendalaman cita-cita?  Yang sejalan dengan makna Sumpah Pemuda.

Masalahnya, gerakan pemuda hari ini belum berbanding lurus dengan semangat 28 Oktober. Dan gerakan organisasi kepemudaan lainnya, masih terkesan momentual, elitis, politis, lamban, dan oportunis. Sementara kita tahu di Tangerang ini, masih banyak masalah sosial, lingkungan, pengangguran, dan kemiskinan, yang belum tuntas-tuntas. Pastinya masyarakat sudah tidak sabar menunggu gerak cepat dari peranan pemuda.

Sebagai episentrum wadah gerakan pemuda, organisasi yang dipelopori Kelompok Cipayung ini hadir berupaya memberikan solusi penyelesaian atas problem kedaerahan yang terus menghampiri masyarakat. Organisasi yang sejak 23 Juli 1973 ini berdiri, difungsikan, di antaranya: sebagai wadah perjuangan pemuda, dan sebagai laboratorium kader bangsa yang independen dan berwawasan kebangsaan.

Namun, ironis sekali apabila hari ini organisasi kepemudaan (OKP) yang tergabung dalam KNPI hanya menunjukkan perannya di momen tertentu saja. Pemuda-pemuda yang semestinya menjadi pelopor perubahan tampak bergerak seolah punya kesadaran dan kepedulian sosial, tapi ternyata hanya berebut posisi paling depan ketika menjelang Musda, Kongres, atau Pilkada. Sementara hak-hak kepentingan umum yang terampas oleh segelintir orang, masih luput dari perhatian.

Di saat yang sama, dalam Peraturan Perundang-urangan tentang Kepemudaan, yaitu Undang-Undang Nomor 40 tahun 2009 dan Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 10 tahun 2014, menjelaskan bahwa: Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun.

Berdasarkan rentang usia dalam UU tersebut, maka harus terus lahir kader-kader mumpuni, bukan hanya didominasi figur-figur yang usianya telah di atas 30 tahun. Jika terus terjadi, maka kaderisasi gagal.

Pemuda Progresif versus Pemuda Berduit

Pada momen seperti Musda, penulis berharap munculnya sosok figur pemuda yang progresif, menawarkan gagasan cemerlang, serta mau bekerja keras memimpin organisasi KNPI Kabupaten Tangerang.

KNPI sejatinya menjadi wadah perjuangan yang strategis untuk mengaktualisasikan gagasan dan harapan pemuda. Jangan sampai, mereka yang potensial hanya menjadi penonton, karena KNPI “dibajak” oleh mereka yang memiliki kekuatan finansial, atau dukungan politik.

Sekali lagi, konteks pergulatan pemilihan calon ketua itu sebaiknya meluncur dari hati nurani, dari tiap pemuda yang progresif, mempersatukan, dan terpenting lagi mampu membangkitkan kesadaran dalam mengaktualisasikan makna Sumpah Pemuda. Dan betul-betul jadi mitra kritis pemerintah.

Musda KNPI Kabupaten Tangerang juga jangan menjadi semacam sebuah pertandingan sepakbola derby atau el-classico. Di mana karena alasan “demi keamanan”, sampai-sampai Musda harus dihelat di luar daerah dengan biaya mahal dan elitis. Lalu dimanakah posisi  pemuda yang katanya punya pemikiran baru, segar, dan visioner?

Kondisi dualisme di tubuh KNPI Kabupaten Tangerang yang sampai saat ini belum terjadi rekonsiliasi, juga turut memecah belah potensi kekuatan pemuda.

Apabila situasi demikian itu dibiarkan, konsekuensi yang akan diterima adalah memburuknya citra dan legitimasi terhadap lembaga federasi kepemudaan. Padahal Ali Moertopo, Mayor Jenderal yang membidani lahirnya KNPI berkehendak, pemuda selalu menjalin persatuan dan kesatuan dalam satu wadah tunggal  organisasi kepemudaan.

Selamat melaksanakan Musda KNPI Kabupaten Tangerang. Semoga dengan menginternalisasi semangat Sumpah Pemuda, gerakan kepemudaan di Kabupaten Tangerang mampu memahat sejarah yang membanggakan.

*Penulis adalah penonton proses demokratisasi di Kabupaten Tangerang, asal Selatip Desa Lontar Kecamatan Kemiri

LAINNYA