KESEHATAN | TD – Di era informasi yang bergerak cepat seperti saat ini, banyak individu merasa cukup percaya diri untuk menilai kondisi kesehatan mereka sendiri. Dengan hanya mencocokkan gejala yang dirasakan dengan informasi yang diperoleh dari media sosial, video, atau cerita yang dibagikan oleh teman, seseorang dapat dengan cepat menyimpulkan bahwa mereka mungkin mengalami penyakit tertentu. Fenomena ini dikenal sebagai self-diagnose, yaitu kebiasaan mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan dari profesional medis yang berkompeten.
Meskipun tampak praktis dan menghemat waktu, kebiasaan ini menyimpan sejumlah risiko yang tidak boleh diabaikan. Berikut adalah beberapa dampak negatif yang mungkin timbul akibat self-diagnose:
1. Salah Menafsirkan Gejala
Banyak penyakit memiliki gejala yang mirip satu sama lain. Ketika seseorang melakukan diagnosis sendiri, ada kemungkinan besar mereka salah menilai kondisi yang sebenarnya, yang dapat mengakibatkan pemilihan penanganan yang tidak tepat.
2. Kecemasan Berlebihan
Self-diagnose sering kali memicu overthinking dan rasa takut yang tidak berdasar. Hal ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang, bahkan dapat memperburuk gejala fisik yang mereka alami.
3. Pengobatan yang Tidak Tepat
Tanpa adanya diagnosis yang akurat, seseorang mungkin mengonsumsi obat yang tidak diperlukan atau bahkan berisiko berbahaya jika tidak sesuai dengan kondisi kesehatan mereka.
4. Menunda Penanganan Medis
Karena merasa sudah mengetahui dan mampu menangani masalah kesehatan mereka sendiri, seseorang mungkin menunda untuk pergi ke dokter. Padahal, deteksi dan penanganan dini sangat penting dalam banyak kasus penyakit untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
5. Mengabaikan Masukan Profesional
Terkadang, seseorang lebih cenderung mempercayai informasi yang mereka temukan sendiri daripada penjelasan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Hal ini dapat membuat mereka sulit menerima saran atau pengobatan yang benar dan sesuai.
Meskipun mengenali sinyal yang diberikan oleh tubuh sendiri adalah hal yang penting, hal tersebut tetap tidak dapat menggantikan peran dokter atau psikolog. Konsultasi dengan tenaga medis yang berpengalaman akan memastikan bahwa diagnosis yang diberikan adalah tepat dan pengobatan yang diterima sesuai dengan kondisi kesehatan yang sebenarnya.
Self-diagnose bisa menjadi langkah awal untuk lebih peduli terhadap kesehatan, tetapi sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam pengambilan keputusan. Penting untuk bersikap bijak dalam menyikapi informasi yang diperoleh, dan jangan ragu untuk meminta bantuan profesional ketika tubuh atau pikiran memberikan tanda-tanda yang tidak biasa. Dengan demikian, kita dapat menjaga kesehatan dengan lebih baik dan menghindari risiko yang tidak diinginkan. (*)