Risiko Kesehatan Cesium-137, Radioaktif yang Mencemari Udang Ekspor BMS Food

waktu baca 6 minutes
Kamis, 21 Agu 2025 15:04 0 Patricia Pawestri

KESEHATAN | TD – Kabar penemuan Cesium-137 yang mengontaminasi udang ekspor Indonesia oleh pihak Amerika Serikat menimbulkan kewaspadaan akan konsumsi udang. Cesium-137 merupakan bahan radioaktif yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. FDA memperingatkan bahwa risiko tersebut tetap berbahaya meskipun kontaminasi terjadi dalam kadar yang cukup rendah bila terjadi berulang.

Untuk mengetahuinya lebih dalam, penulis mencoba mendedah mengenai risiko kesehatan cesium-137, dari mana kemungkinan asalnya, risiko kesehatan yang dapat timbul jika mengonsumsinya, dan bagaimana mengantisipasi hal tersebut.

Apa Itu Cesium-137

Cesium-137 merupakan isotop radioaktif yang terbentuk ketika uranium atau plutonium mengalami peluruhan. Hal ini dapat terjadi dalam sebuah ledakan nuklir maupun kerusakan reaktor nuklir. Senyawa jejak nuklir ini mempunyai pancaran sinar gamma dan partikel beta yang dapat merusak tubuh manusia yang terkena radiasinya.

Pada kasus ledakan atom dan kecelakaan nuklir di Chernobyl, cesium-137 yang terbentuk dapat terbang mengikuti pergerakan angin hingga ke tempat yang sangat jauh. Sedangkan pengendapan cesium ke dalam tanah dapat tetap menyebar dengan cepat karena sifatnya yang mudah larut dan terbawa air.

Meskipun sangat berbahaya, pakar menyatakan isotop radioaktif cesium-137 dapat terurai setelah lebih dari 30 tahun, dan memecah menjadi emisi beta dan Barium. Risiko bahaya dan penguraiannya dalam waktu lama inilah yang menjadikan perlunya perlakuan khusus dan pembuangan zat-zat sisa nuklir dalam kawasan khusus yang jauh dari pemukiman.

Risiko Kesehatan Cesium-137

Dalam dunia medis, cesium-137 telah memberikan manfaat sebagai salah satu elemen terapi yang sangat penting dalam pengobatan kanker. Ia juga merupakan unsur dalam alat pengukur ketebalan dan kelembapan dalam dunia industri. Meskipun demikian, keberadaannya tetap mengancam nyawa bila tidak berada dalam pengawasan ketat.

Bahkan, risiko kematian dari cesium-137 telah terbukti dalam percobaan laboratorium. Pemberian cesium pada tikus menghasilkan kematian dalam 30 hari dengan presentase sebesar 50 persen. Sedangkan anjing dapat terbunuh setelah diberi cesium. Kematian secara pasti terjadi dalam 33 hari hingga 1 tahun sesuai berat dosisnya.

Radiasi Cesium-137 di Chernobyl

Pada anak-anak yang tinggal di sekitar daerah bencana nuklir Chernobyl, cesium diduga telah menyebabkan sel-sel pankreas mereka menderita kanker hingga meninggal. Kejadian di tahun 2003 tersebut menggambarkan radiasi cesium sangat berbahaya meskipun bencana kecelakaan nuklir di Chernobyl (1986) telah berlalu hingga puluhan tahun.

Selain manusia, kontaminasi cesium juga ditemukan oleh rusa kutub dan binatang lainnya di negara wilayah tersebut. Hal inilah yang harus menjadi perhatian ekstra. Terutama bila hewan tersebut termasuk dalam konsumsi manusia.

Kematian Akibat Cesium-137 di Brasil dan Ukraina

Dalam berbagai peristiwa kecelakaan, cesium menjadi terduga utama yang menyebabkan luka serius hingga kematian. Di Brasil, misalnya, pembongkaran garam cesium pada alat terapi di klinik yang sudah tak beroperasi menyebabkan radiasi hebat dan menewaskan 4 orang.

Sedangkan di Ukraina, kapsul berisi cesium yang dipergunakan untuk mengukur saat pembangunan sebuah apartemen tercampur kerikil yang menjadi bahan bangunan. Radiasi radioaktif cesium tersebut terbukti mempengaruhi kesehatan puluhan penghuni apartemen hingga akhirnya tembok tempat kapsul cesium terbenam dibongkar dan kapsul tersebut teridentifikasi.

Antisipasi yang Pernah Dilakukan di Australia, Amerika, dan Rusia

Risiko tinggi dari cesium tersebut wajib menjadi kewaspadaan. Pemerintah Australia Barat, misalnya, pernah mengamankan jalan sepanjang 1400 kilometer pada 2023 karena kapsul cesium sebesar 8 milimeter hilang dari truk khusus yang memuatnya. Departemen kesehatan setempat mengeluarkan peringatan bahwa kapsul tersebut dapat mengakibatkan orang terpapar radiasi sebesar sepuluh kali sinar-X dalam setiap jamnya. Hal ini berbahaya karena akan menimbulkan keracunan radioaktif yang cukup berat.

Evakuasi sebuah gedung penelitian medis juga pernah terjadi di Amerika Serikat pada 2019. Saat itu, bubuk cesium tumpah ketika hendak diangkut ke dalam truk. Para kru kemudian menjalani dekontaminasi, dan mereka yang terpapar segera ditangani ahli medis.

Di Rusia, pemerintah sempat menetapkan status darurat pada 2024 di sebuah kawasan industri setelah terdeteksi radiasi radioaktif yang tinggi. Mereka kemudian menemukan kapsul cesium yang seharusnya berada dalam sebuah defektoskop atau alat penguji keretakan.

Gejala Keracunan Cesium-137

Paparan sinar gamma serta partikel beta dari cesium-137 yang masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan gejala atau akibat sebagai berikut:

1. Luka bakar atau penyakit kulit akibat radiasi.
2. Rasa mual yang amat sangat.
3. Muntah-muntah.
4. Diare.
5. Sakit kepala.
6. Tubuh merasa sangat lelah.
7. Perdarahan.

Tubuh penderita keracunan radiasi tersebut juga dapat mengalami kerusakan DNA dan berakibat timbulnya tumor dan kanker. Misalnya kanker tiroid, otot, dan leukemia. Keparahan ini dapat berlanjut pada hilangnya nyawa.

Sedangkan perdarahan mungkin terjadi bila radiasi telah merusak sel-sel sumsum tulang sehingga trombosit tak dapat lagi diproduksi. Trombosit sangat berperan dalam menghentikan perdarahan. Perdarahan ini dapat muncul dalam muntah, BAB, mimisan, memar tubuh, dan perdarahan internal.

Kemungkinan Asal Kontaminasi Cesium-137 pada udang Ekspor RI ke AS

FDA memperingatkan bahwa udang asal Indonesia yang terkontaminasi cesium-137 kemungkinan akibat buruknya sanitasi saat udang diolah atau dikemas dan disimpan di pabrik. Kontaminasi tersebut dapat berasal dari berbagai sumber:

1. Air laut yang tercemar.

Kontaminasi dapat terjadi pada saat udang dalam budidaya. Perairan bebas tempat udang dibesarkan bisa jadi tercemar cesium yang berasal dari tempat jauh, misalnya Fukuyama atau Chernobyl, atau fasilitas nuklir lainnya yang mengalami kebocoran.

2. Alat pengolahan yang tidak steril.

Mesin canggih sekalipun dapat menjadi pengantar kontaminasi bila pernah terpapar radioaktif dan tidak disterilkan.

3. Penyimpanan yang tidak aman.

Prosedur penyimpanan yang ketat, termasuk pemilihan lokasi, merupakan syarat wajib agar bahan-bahan radioaktif seperti cesium tidak mencemari produk pabrik.

Penanggulangan Pencemaran Radioaktif Cesium-137

Proses pengawasan tidak hanya menjadi kewajiban dari perusahaan semata. Pemerintah pun perlu turun langsung untuk memastikan prosedur yang aman benar-benar terlaksana agar tidak lagi terjadi pencemaran yang membahayakan kesehatan konsumen. Dalam hal ini beberapa hal yang mungkin dilakukan adalah:

1. Uji laboratorium terhadap produk pangan secara berkala.

Hal ini termasuk menggunakan detektor radiasi radioaktif.

2. Memberlakukan standar ekspor pangan sesuai peraturan internasional.

Hal ini termasuk pengawasan berkala atau audit fasilitas produksi rutin.

3. Memberikan edukasi tentang keamanan pangan kepada masyarakat luas.

4. Memusnahkan produk pangan yang mengandung cemaran radioaktif dan melarang peredarannya.

5. Meningkatkan fasilitas kesehatan dengan menyediakan penanganan kasus keracunan radioaktif yang mudah diakses oleh masyarakat.

Demikianlah mengenai risiko kesehatan akibat radiasi cesium-137. Bahan radioaktif tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang berujung pada kematian bila terjadi dalam dosis yang tinggi maupun rendah tapi berulang. Terlebih bila orang yang terpapar tidak segera mendapat penanganan medis.

Risiko kesehatan cesium-137 yang berbahaya dan mengontaminasi produk pangan seperti udang ekspor patut menjadi perhatian pemerintah agar mendapat penanggulangan dan tak terulang kembali. Karena, selain merugikan secara kesehatan dan ekonomi, hal tersebut dapat mencoreng reputasi Indonesia di mata internasional. (Patricia)

LAINNYA