TANGERANG | TD – Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa Rabindranath Tagore, sastrawan dan pemikir besar yang berasal dari Bengali, India, sempat mengunjungi Jawa pada tahun 1927.
Kunjungan tersebut merupakan salah satu agenda yang ia susun sendiri untuk menularkan pandangan dan pengetahuannya sebagai salah satu figur yang menggerakkan kemanusiaan. Rabindranath Tagore berupaya menjalin komunikasi antara dunia Barat dan Timur selama tahun-tahun karyanya tersebut.
Tepatnya pada tanggal 9 hingga 30 September 1927, Rabindranath Tagore berada di Yogyakarta dan Solo. Di Yogya, Tagore mendapat sambutan besar dari Sultan Hamengkubuwono VIII dengan persembahan tarian sakral yang dibawakan oleh empat penari gadis. Salah satu penari tersebut adalah putri Sultan. Ketika tarian persembahan itu dipertunjukkan, disebutkan bahwa Tagore terpana karena kekagumannya.
Di Solo, Rabindranath Tagore menghadiri upacara peringatan kenaikan tahta KGPAA Mangkunegara VII. Atas upacara ini, Tagore membuat sebuah catatan yang sangat menarik. Hal itu dikatakan oleh seorang profesor India yang berkunjung ke UGM, Jai Singh Yadav.
Dalam sebuah puisi yang ditulis dalam bahasa Bengali, Tagore mengabadikan kesannya yang mendalam atas pertemuannya dengan kedua kerajaan tersebut. Puisi tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul To Java.
Berikut ini adalah bagian puisi To Java yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari sebuah buku ensiklopedia.
“Ingatlah aku,
bahkan saat aku ingat wajahmu
dan kenalilah aku
seperti engkau mengenali dirimu sendiri
yang lampau menghilang
untuk terlahir lagi dan muncul kembali”
Penghargaan yang mendalam sebaliknya diberikan oleh KGPAA Mangkunegara VII ketika Rabindranath Tagore masih berada di Surakarta, Solo, dengan mengabadikan nama Tagore menjadi nama salah satu jalan di kota tersebut. Bahkan Tagore sendirilah yang meresmikan penggunaan namanya tersebut.
Kunjungan Rabindranath Tagore ke Yogyakarta juga meninggalkan pengaruh mendalam dalam dunia pendidikan. Ki Hadjar Dewantara, yang disebut menjadi kawan baik Tagore di kemudian hari, mendirikan sekolah Taman Siswa dengan inspirasi yang datang darinya. Pendirian sekolah tersebut merupakan percontohan model pendidikan yang diterapkan oleh Rabindranath Tagore di Santiniketan, sekolah yang didirikan Tagore di India dan sekarang disebut Vishva Bharati.
Santiniketan adalah sekolah yang didirikan Tagore dengan basis budaya lokal dan merupakan usaha perjuangannya melawan kemiskinan dan kebodohan yang terutama disebabkan oleh penjajahan Inggris atas India.
Di sekolah tersebut, para siswa diajak belajar berdekatan dengan alam. Keterampilan yang diberikan merupakan keterampilan praktis yang dapat memberikan manfaat langsung, baik bagi pelajarnya maupun masyarakat setempat.
Pengaruh Rabindranath Tagore dalam dunia pendidikan memang membawa perubahan di banyak tempat di dunia. Selain di Indonesia, model pendidikan alam Santiniketan juga terdapat di Al-Azhar University di Kairo, Mesir, dan Pondok Syanggit di Afrika Utara, serta Aligarh University di India.
Sedangkan di Indonesia, selain Yogya, Pondok Gontor yang berada di Jawa Timur juga mengadopsi prinsip pendidikan Santiniketan.
Rabindranath Tagore adalah sastrawan Asia pertama yang menerima penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1913 atas karyanya, Gitanjali, yang juga ia terjemahkan sendiri dalam bahasa Inggris.
Gitanjali, atau dapat diterjemahkan menjadi Kidung Persembahan, adalah rangkaian syair pemujaan keilahian. Dalam karyanya ini, Tagore menjelaskan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan dapat dicapai dengan memahami alam dan keindahannya, serta saling mendekatkan diri antar manusia.
Rabindranath Tagore menulis sejak ia masih berusia kanak-kanak. Pada usia kedelapan, ia menuliskan puisinya dengan nama pena Bhanushingho, yang berarti Singa Matahari. Puisi yang pertama ini diterbitkan pada tahun 1877.
Salah satu dari ratusan karya Tagore yang mendapat perhatian dunia selain Gitanjali adalah Bhanusimha.
Bhanusimha, yang juga disebut lagu, merupakan rangkaian lirik yang menceritakan kisah Radha dan Khrisna. Kisah ini awalnya merupakan lirik Vaishnava, yang mengisahkan hubungan keilahian antara manusia dan alam.
Kecintaan Tagore pada kisah tersebut kemudian membuatnya terus memperbaiki penceritaan Bhanusimha hingga tujuh puluh tahun sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1884.
Demikian sekelumit kisah tentang pemikiran Rabindranath Tagore dan karyanya yang menjadikannya tokoh kemanusiaan yang juga mencintai alam. (*)