OPINI | TD – Sejak dilantik sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia, nama Purbaya Yudhi Sadewa cepat mencuri perhatian publik, terutama di kalangan Generasi Z (Gen-Z). Sosok ekonom ini dinilai membawa napas baru dalam kepemimpinan keuangan negara. Bukan hanya karena kebijakannya yang cepat dan tegas, tetapi juga karena gaya komunikasinya yang sederhana, membumi, dan dekat dengan kehidupan anak muda.
Di tengah birokrasi yang kerap dianggap kaku dan teknokratis, Purbaya hadir dengan pendekatan yang lebih terbuka dan empatik. Ia tidak hanya berbicara angka dan data, tetapi juga berusaha memahami realitas ekonomi sehari-hari yang dihadapi generasi digital—dari fenomena paylater hingga gaya hidup konsumtif yang dipicu media sosial. Tak heran, banyak anak muda menilai kehadirannya sebagai angin segar di dunia kebijakan fiskal.
Kinerja Awal yang Cepat dan Terukur
Hanya dalam hitungan minggu sejak dilantik, Purbaya langsung menunjukkan kinerja konkret. Ia memastikan dana negara tidak sekadar mengendap di kas, melainkan segera disalurkan untuk memperkuat sektor-sektor produktif. Gen-Z yang terbiasa menilai pejabat publik lewat aksi nyata menilai langkah ini sebagai tanda efisiensi dan keberanian eksekusi.
Langkah cepat tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Purbaya memahami konteks zaman: generasi muda menghargai pemimpin yang “doers”, bukan sekadar “talkers.” Dengan kebijakan fiskal yang transparan dan berorientasi hasil, ia berhasil menumbuhkan rasa percaya di kalangan publik muda yang selama ini skeptis terhadap kinerja birokrasi.
Kebijakan yang Relevan dan Bahasa yang Mudah Dipahami
Salah satu daya tarik utama Purbaya adalah gaya komunikasinya yang lugas dan relatable. Ia kerap menyinggung isu-isu finansial yang sangat dekat dengan Gen-Z—seperti penggunaan kartu kredit digital, jebakan buy now pay later, hingga tekanan gaya hidup konsumtif akibat budaya FOMO (fear of missing out).
Berbeda dari pejabat teknokrat kebanyakan yang berbicara dalam istilah rumit, Purbaya memilih menggunakan bahasa sederhana dan contoh sehari-hari. Ia tak hanya menjelaskan kebijakan, tetapi juga memberikan edukasi finansial dengan pendekatan persuasif dan manusiawi.
Pendekatan inilah yang membuat banyak anak muda merasa “didengar” sekaligus “diajak bicara”, bukan “diceramahi.”
Mendorong Literasi Finansial Gen-Z
Kehadiran Purbaya di Kementerian Keuangan membawa dampak positif pada kesadaran finansial generasi muda. Ia menekankan bahwa pengelolaan uang bukan sekadar urusan pejabat negara atau orang tua, melainkan keterampilan hidup yang harus dimiliki sejak dini.
Melalui kampanye digital, seminar publik, dan kolaborasi dengan komunitas kampus, Purbaya mendorong anak muda untuk menabung, berinvestasi, dan hidup sesuai kemampuan. Ia mengingatkan bahwa uang bukan sekadar alat konsumsi, tetapi instrumen untuk membangun masa depan dan kemandirian.
Bagi Gen-Z, pesan tersebut menjadi semacam wake-up call di tengah budaya konsumtif yang kian merajalela. Banyak yang mulai memandang Purbaya bukan hanya sebagai Menteri Keuangan, tetapi juga figur mentor finansial yang memahami tantangan generasi digital.
Hubungan yang Semakin Dekat: Membangun Jembatan Antargenerasi
Purbaya berhasil membangun hubungan timbal balik antara pemerintah dan generasi muda. Ia membuka ruang dialog publik, mengaktifkan kampanye literasi digital, dan melibatkan komunitas mahasiswa untuk ikut memahami arah kebijakan fiskal.
Langkah ini membuat Gen-Z merasa bukan sekadar penonton, melainkan bagian dari proses pembangunan ekonomi nasional.
Dengan kedekatan yang terbangun, Purbaya mampu menjembatani bahasa teknokratik pemerintah dengan realitas sosial anak muda. Ia mengajarkan bahwa tanggung jawab fiskal bukan hanya urusan elite, tetapi juga bagian dari karakter bangsa yang harus dijaga bersama.
Kesimpulan: Figur Reformis yang Menginspirasi Gen-Z
Kehadiran Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan menandai babak baru dalam tata kelola fiskal Indonesia. Ia tidak hanya berperan sebagai pengatur keuangan negara, tetapi juga sebagai komunikator publik yang memahami pentingnya mendekatkan kebijakan dengan rakyat—terutama generasi muda.
Bagi Gen-Z, Purbaya bukan hanya pejabat publik, tetapi teladan baru dalam kepemimpinan modern: jujur, efisien, dan komunikatif.
Gaya komunikasinya yang sederhana, edukatif, dan berorientasi solusi membuktikan bahwa pemerintah bisa hadir dengan cara yang lebih manusiawi tanpa kehilangan ketegasan.
Dengan pendekatan yang realistis dan berpihak pada masa depan, Purbaya Yudhi Sadewa berhasil membuktikan bahwa pemerintah dan generasi muda dapat berjalan seiring—membangun ekonomi nasional yang lebih inklusif, adaptif, dan berkeadilan.
Penulis:
Asep Malik Ibrahim
Mahasiswa Semester 1, Pengantar Ilmu Politik
Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA). (*)