Puisi: Di Suryalaya

waktu baca 2 minutes
Rabu, 19 Nov 2025 16:31 0 Redaksi

Di Suryalaya,
angin pagi membawa pesan para kekasih Tuhan—
bahwa setiap langkah harus dijaga,
setiap nafas harus disadari,
setiap hati harus dibersihkan dari bising dunia
dan bisikan yang menggelincirkan.

Di bawah naungan para mursyid,
kami belajar menundukkan diri,
menghormati yang lebih tua,
merendah kepada sesama,
mengasihi mereka yang kekurangan
seperti mengusap luka pada diri sendiri.

Di Suryalaya,
cahaya tak pernah keras,
ia turun perlahan ke rongga dada
mengajari kami bahwa taat kepada agama
dan setia kepada negara
adalah dua sayap yang membuat hidup terbang seimbang.

Kami diingatkan:
jangan terseret riuh nafsu,
jangan tertipu halusnya iblis
yang menyelinap seperti bayang pada dinding hati.
Lebih baik menyalakan kebajikan,
meski kecil,
daripada menyalakan api perselisihan
yang membakar dunia hingga akhirat.

Di Suryalaya,
setiap fakir adalah saudara,
setiap asing adalah keluarga Adam,
setiap luka adalah panggilan untuk berbelas kasih.
Di sana kami belajar bahwa rukun adalah ibadah,
damai adalah jalan pulang,
dan hormat adalah pintu segala berkah.

Dan bila kami tersesat,
Tanbih itu memanggil kami pulang:
jadilah Cageur, jadilah Bageur—
sehatlah jasmani, jernihlah budi,
agar langkah kembali ringan
di jalan para aulia.

Di Suryalaya,
kami belajar mencintai
bahkan mereka yang membenci;
sebab begitu pesan guru-guru kami,
bahwa hati yang luas
takkan pernah kehabisan ruang
untuk memaafkan.

Tangerang, 19 November 2025

Al-Faqir

LAINNYA