Program Makan Bergizi Gratis di Tangsel Capai 41 Dapur Aktif, Layani 84 Ribu Siswa

waktu baca 2 menit
Kamis, 23 Okt 2025 15:14 223 Nazwa

KOTA TANGSEL | TD – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) terus mempercepat realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi peserta didik mulai dari PAUD hingga SMA/SMK, serta kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Kepala Dindikbud Tangsel, Deden Deni, menyampaikan bahwa hingga awal Oktober 2025 telah beroperasi sebanyak 41 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh wilayah Tangsel. Jumlah itu meningkat pesat dibanding bulan sebelumnya.

“Per awal bulan kemarin sudah ada sekitar 41 dapur. Dalam satu bulan terakhir terjadi percepatan dari 15 dapur di September menjadi 41 dapur di awal Oktober,” ujar Deden, Kamis (23/10/2025).

Menurut Deden, dari sekitar 84 ribu siswa yang telah terlayani, cakupan program MBG di Tangsel kini mencapai 30 persen dari total keseluruhan siswa.

“Masih ada sekitar 70 persen lagi yang belum terlayani. Namun dengan peningkatan signifikan dalam sebulan terakhir, kami optimistis jumlahnya terus bertambah hingga akhir tahun,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pihaknya bersama Satgas MBG rutin melakukan evaluasi bersama Pemerintah Provinsi dan kementerian terkait untuk mempercepat pembangunan dapur baru.

“Target kami hingga akhir tahun ini ada 129 dapur SPPG yang beroperasi. Sebagiannya sedang dalam proses pembangunan dan perizinan,” ungkapnya.

Dengan capaian tersebut, Deden yakin seluruh sekolah di Tangsel akan terfasilitasi makan siang bergizi paling lambat tahun 2026.

“Saat ini baru 30 persen yang terlayani, tapi dengan target 129 dapur hingga Desember, kami yakin bisa tercapai,” katanya.

Program MBG juga menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil, menyusui, dan pesantren. “Dari perhitungan BGN Kesehatan, sekitar 10 persen kebutuhan ditujukan untuk kelompok ibu hamil dan menyusui,” ujarnya.

Setiap dapur SPPG mampu melayani 3.000 hingga 3.500 penerima manfaat, bahkan bisa mencapai 4.000 orang per dapur.

“Kalau jumlah siswa sekitar 300 ribu, kebutuhan dapur untuk siswa saja sekitar 70 hingga 78 dapur, belum termasuk kelompok ibu dan pesantren,” pungkasnya. (Idris Ibrahim)

LAINNYA