Politik Memori dan Ideologi: Reinterpretaasi Pemikiran Karl Marx Terhadap Narasi Sejarah di Era Digital

waktu baca 6 minutes
Sabtu, 29 Nov 2025 13:08 0 Nazwa

OPINI | TD — Sejarah manusia, menurut Karl Marx, bukanlah kumpulan peristiwa objektif yang berdiri sendiri, melainkan arena pertarungan kepentingan antarkelas. Bagi Marx, ideologi adalah perangkat yang digunakan kelas berkuasa untuk mempertahankan dominasinya, terutama melalui kontrol atas alat produksi—baik material maupun ideologis. Karena itu, sejarah kerap ditulis, direproduksi, dan disebarkan oleh mereka yang menguasai media, pendidikan, institusi agama, dan simbol publik.

Memasuki era digital, struktur kekuasaan mengalami transformasi signifikan. Pada abad ke-19 alat produksi berwujud mesin dan pabrik; kini alat produksi utama mencakup data, algoritma, dan infrastruktur digital. Meskipun bentuknya berubah, logika kekuasaan tetap sama: pihak yang menguasai alat produksi digital memiliki kemampuan besar dalam membentuk opini publik, mengatur arus informasi, dan mengonstruksi memori kolektif masyarakat.

Dalam konteks ini, ideologi berfungsi menciptakan false consciousness —kesadaran palsu—yang membuat masyarakat merasa bebas dalam ruang digital, padahal sebenarnya berada dalam kendali kapitalisme platform. Algoritma menyaring, mengurutkan, dan menonjolkan informasi tertentu, sehingga membentuk persepsi publik mengenai apa yang penting, benar, atau layak diingat.

Kajian mengenai politk memori digital menjadi relevan ketika melihat bagaimana narasi sejarah—yang seharusnya menjadi rekaman pengetahuan kolektif—diarahkan oleh platform yang mengutamakan logika pasar dan kepentingan politik tertentu. Proses seleksi digital ini menciptakan framing baru atas masa lalu, sekaligus menentukan narasi mana yang terus diwariskan dan mana yang dibiarkan hilang.

Rumusan masalah dalam tulisan ini mencakup:

  • Bagaimana teori ideologi Karl Marx dapat digunakan untuk membaca praktik politik digital saat ini?
  • Apa dampak penguasaan alat produksi digital terhadap ekonomi-politik, khususnya dalam pembentukan narasi sejarah?
  • Sejauh mana pemikiran Marx masih relevan dalam menjelaskan produksi dan kontrol informasi di era digital?

Landasan Teori

Ideologi Menurut Karl Marx

Dalam The German Ideology (1845–1846), Marx dan Engels menegaskan bahwa ideologi adalah bentuk kesadaran yang dihasilkan oleh struktur material masyarakat. Ideologi bukan gagasan abstrak, melainkan praktik sosial yang mereproduksi dominasi kelas. Pernyataan terkenal mereka, “the ideas of the ruling class are in every epoch the ruling ideas”, menegaskan bahwa kelas yang menguasai alat produksi material juga menguasai alat produksi ideologis.

Dalam konteks modern, alat produksi meliputi data, arsip digital, algoritma, platform media sosial, serta mekanisme distribusi informasi. Karena itu, narasi sejarah tidak pernah sepenuhnya netral; ia adalah sarana ideologis untuk mempertahankan hegemoni kelas bersangkutan.

Kesadaran Palsu (False Consciousness)

Marx menyatakan bahwa ideologi menciptakan kesadaran palsu, yakni kondisi ketika kelas pekerja atau masyarakat luas menerima realitas sosial sebagai natural, padahal dibentuk oleh struktur kekuasaan. Era digital menguatkan fenomena ini: pengguna percaya algoritma bekerja netral, bahwa internet adalah ruang kebebasan, dan bahwa informasi beredar secara organik. Padahal, setiap rekomendasi, trending topic, dan sistem peringkat merupakan produk desain ekonomi-politik yang dikendalikan platform digital.

Dengan demikian, kontrol atas algoritma merupakan bentuk baru dari dominasi ideologis.

Politik Memori: Memori Kolektif dan Memori Budaya

Maurice Halbwachs menekankan bahwa memori individu selalu dibingkai oleh struktur sosial. Sementara itu, Jan Assmann membedakan antara communicative memory (ingatan sehari-hari) dan cultural memory (ingatan yang distabilkan melalui arsip, teks, dan institusi). Dalam kerangka politik memori, pihak berkuasa memilih masa lalu mana yang diingat, direvisi, atau dihapus.

Di era digital, seleksi memori tidak lagi dilakukan hanya oleh negara atau lembaga budaya, tetapi oleh platform digital melalui algoritma, kurasi, dan kebijakan moderasi.

Pergeseran Kontrol: Dari Media Massa ke Infrastruktur Digital

Jika pada era industri kontrol memori berada pada media massa dan institusi formal, kini kekuasaan tersebut berpindah ke infrastruktur digital. Mesin pencari, platform media sosial, dan arsip daring menentukan visibilitas suatu peristiwa sejarah. Algoritma menjadi penentu ingatan publik, sehingga pemilik platform memiliki peran penting dalam pembentukan sejarah digital.

Pembahasan

Era Digital sebagai Ruang Ideologi Baru

Era digital bukan hanya medium informasi, tetapi juga ruang di mana ideologi diproduksi dan direproduksi. Alat produksi kini berupa data, jaringan informasi, dan algoritma. Platform digital menggunakan mekanisme ranking, rekomendasi, dan kurasi untuk menentukan apa yang terlihat dan apa yang tidak. Dengan begitu, ideologi bekerja secara senyap melalui struktur teknis yang dianggap netral.

Kelas Penguasa Baru: Korporasi Teknologi sebagai Pemilik Alat Produksi

Jika di masa Marx pabrik adalah pusat kekuasaan, kini korporasi teknologi menjadi “kelas penguasa baru”. Google, Meta, Amazon, X (Twitter), dan TikTok mengendalikan data miliaran manusia. Mereka menentukan konten apa yang viral, bagaimana isu dipahami, dan bagaimana sejarah dikisahkan. Sejarah menjadi komoditas yang tunduk pada logika pasar, klik, dan interaksi. Ingatan kolektif masyarakat pun berubah menjadi aset digital.

Produksi dan Revisi Memori Kolektif di Era Digital

Halbwachs menyatakan bahwa memori kolektif lahir dari interaksi sosial. Di dunia digital, interaksi itu berlangsung melalui tagar, thread, forum daring, dan algoritma. Narasi sejarah dapat direvisi, dibentuk ulang, atau bahkan dimanipulasi. Bot, buzzer politik, dan kampanye opini memperkuat narasi tertentu hingga tampak sebagai kebenaran umum.

Sejarah berubah menjadi medan kontestasi ideologi real-time.

Mekanisme Ideologi: Framing, Trending, dan Algoritma

Ideologi tidak lagi tampil sebagai doktrin, tetapi sebagai framing digital. Topik yang dibuat viral terlihat sebagai isu penting, seolah mewakili suara publik. Padahal, trending adalah hasil desain algoritmik. Hegemoni ideologis terjadi ketika apa yang populer dianggap benar, padahal ia merupakan konstruksi platform.

Relevansi Kritik Ideologi Marx: Manipulasi Sejarah Real-Time

Marx menyatakan bahwa setiap generasi menulis ulang sejarah sesuai kepentingannya. Era digital mempercepat proses ini. Konten politik, berita sejarah, dan opini publik berubah dari waktu ke waktu berdasarkan interaksi sistem digital yang digerakkan kepentingan pasar maupun kepentingan kekuasaan tertentu.

Ideologi sebagai Datafikasi Memori

Konsep datafication of memory menjelaskan bagaimana ingatan kolektif kini disimpan, dianalisis, dan diperjualbelikan sebagai data. Dari perspektif Marx, memori telah dimasukkan ke dalam logika produksi kapitalisme. Kontrol atas data berarti kontrol atas narasi; kontrol atas narasi berarti kontrol atas kesadaran publik.

Kesimpulan

Pemikiran Karl Marx tetap relevan untuk membaca dinamika kekuasaan di era digital. Alat produksi kini bergeser dari mesin ke data, algoritma, dan platform digital, yang dikuasai oleh korporasi teknologi sebagai “kelas penguasa baru.” Melalui mekanisme kurasi algoritmik, mereka membentuk visibilitas informasi, mempengaruhi ingatan kolektif, dan mengarahkan narasi sejarah sesuai kepentingan ekonomi-politik. Politik memori digital menunjukkan bahwa memori dan sejarah tidak lagi netral, melainkan hasil proses seleksi yang terstruktur. Karena itu, analisis Marx membantu mengungkap bahwa pertarungan kelas dan produksi ideologi tetap berlangsung, hanya bergeser ke ranah digital di mana kontrol atas data berarti kontrol atas kesadaran sosial.

Penulis: Choirun Nissa Fatimah Tuzahro, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA