Fitri Aulia. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | TD – Komunikasi adalah kebutuhan yang menjadi sarana kehidupan manusia, tanpa adanya komunikasi sesama manusia mustahil untuk bisa menjalankan kehidupan sebagai makhluk sosial. Manusia, tidak akan hanya berbicara dengan satu orang saja, namun ia akan menghadapi banyaknya manusia yang hidup secara berkelompok. Seseorang akan pada masanya dituntut untuk mampu berbicara dan menyampaikan sesuatu dengan baik didepan banyak orang. Berbicara didepan banyak orang tentunya dibutuhkan keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi apalagi saat seseorang harus menyampaikan perihal penting. Tanpa kita sadari, seseorang yang tidak terbiasa berdiri dan berbicara didepan banyak orang pasti akan mengalami grogi atau bisa disebut ”demam panggung” sehingga pesan yang disampaikan akan sulit diterima oleh pendengar atau audiens.
Permasalahan seperti ini sudah banyak terjadi di kehidupan kita khususnya di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang belum memahami betapa pentingnya public speaking bukan hanya sekedar untuk memenuhi presentasi di kelas. Sebuah penelitian berjudul ”Fear Of Public Speaking : Perception of College Students and Correlates”, yang melibatkan 1.135 mahasiswa berusia 17 hingga 58 tahun, menemukan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami tingkat kecemasan yang tinggi ketika berbicara di depan umum. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketakutan bukan hanya dari kurangnya kemampuan, tetapi juga dari kekhwatiran dinilai, rasa kurang percaya diri, dan pengalaman atau trauma ketika tampil.
Mahasiswa cenderung lebih banyak diam dan memilih menjadi pendengar pasif dikala ada mata kuliah yang mengharuskan untuk berbicara di depan umum. Padahal dengan adanya metode presentasi di kelas, mahasiswa di tuntut untuk memberanikan diri mengasah kemampuan tersebut, dibanding mencoba terlebih dahulu. Dengan alasan, takut dinilai oleh orang lain, masih belum percaya diri dan lainnya. Suara bergetar, tangan yang dingin atau pikiran tiba-tiba kosong menjadi bukti bahwa masalahnya bukan sekedar ”berani tampil”, melainkan kemampuan mengelola ketakutan yang sering kali tumbuh sejak lama. Dari permasalahan tersebut, esai ini akan membahas public speaking menjadi keterampilan yang bermanfaat bagi mahasiswa, baik untuk mengatasi kecemasan berbicaran didepan umum maupun mendukung perkembangan akademik dan profesional mereka.
Kecemasan dalam berbicara di depan umum masih menjadi permasalahan yang banyak dirasakan oleh mahasiswa. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa public speaking adalah sebuah bakat dari lahir, padahal itu sebuah kemampuan yang perlu di asah sehingga mampu untuk berbicara di depan dengan baik. Public speaking adalah sebuah kemampuan yang sangat penting baik dalam dunia akademik maupun profesional.
Hal ini disebabkan tuntunan zaman yang semakin menekankan kemampuan komunikasi sebagai keterampilan utama. Ditengah lingkungan kuliah yang mengharuskan berpikir kritis dan kemampuan menyampaikan ide dengan baik, persaingan dalam dunia kerja yang ketat, serta perkembangan teknologi yang semakin meluas memberikan kesadaran bahwa komunikasi harus disampaikan dengan baik agar diterima dengan mudah dan jelas. Public speaking bukan lagi tentang presentasi di kelas, melainkan kebutuhan kita untuk meningkatkan kepercayaan diri, peluang karir, dan perkembangan diri mahasiswa.
Public speaking bukan perihal berbicara dan menyampaikan pesan saja, tetapi apa yang kita sampaikan dapat di mengerti dan dipahami oleh audiens. Public speaking merupakan kemampuan yang dapat kita asah seiring berjalannya waktu asal kita memiliki keinginan untuk belajar. Aristoteles, seorang filsuf dan ilmuwan dalam bidang retorika mengungkapkan bahwa terdapat tiga teknik penting yang perlu dikuasai dalam berbicara di depan umum, yaitu ethos, logos, dan pathos. Ketiga hal ini saling berkaitan dan menjadi fondasi seseorang untuk tampil secara efektif, meyakinkan serta mampu menyampaikan pesan dengan baik.
Ethos, secara sederhana nya mengacu pada karakter, inteligensi atau kepercayaan yang dimiliki oleh pembicara. Logos, mengacu pada pentingnya penyampaian pesan yang logis, dan terstruktur dengan baik. Pathos, berkaitan dengan kemampuan pembicara dalam mengelola perasaan, baik perasaan pembicara itu sendiri maupun perasaan audiens. Ketiga hal ini menjadi landasan bahwa berbicara di depan umum berperan penting untuk kebutuhan yang perlu dikuasai bukan hanya untuk keperluan presentasi, tetapi juga dapat bermanfaat dalam konteks akademis maupun profesional.
Agar kita semakin memahami pentingnya public speaking bagi kehidupan, kita perlu mengetahui manfaat public speaking yaitu, meningkatkan kepercayaan diri, menumbuhkan jiwa kepemimpinan, mampu menyampaikan ide atau pendapat dengan baik, meningkatkan jenjang karir, meningkatkan skill berpikir kritis, dan mampu menjadi lebih persusif agar bisa memotivasi orang lain untuk mengambil tindakan tertentu.
Public speaking adalah kemampuan yang harus kita latih secara konsisten, meningkatkan public speaking pastinya perlu adanya keberanian niat dalam diri, dan ini yang paling penting yaitu latihan dan latihan. Kalian bisa memanfaatkan presentasi dikelas untuk mengembangkan kemampuan public speaking agar melatih mental dan juga meningkatkan kepercayaan diri. Jangan takut dinilai oleh orang lain, jangan takut untuk berbuat salah karena kita sebagai mahasiswa memang tugasnya untuk belajar, dan belajar itu bukan siapa yang paling pintar melainkan siapa yang berani untuk mencoba dan berkembang lebih baik lagi. Dan selalu ingat, bahwa public speaking itu menyenangkan jika kita sudah menemukan titik terbaik dalam belajar public speaking.
Penutup
Dengan demikian, public speaking merupakan seni berbicara atau retorika bahasa yang bisa kita tingkatkan dengan konsisten berlatih. Bukan hanya keterampilan tambahan, tetapi kemampuan penting yang dibutuhkan mahasiswa dalam akademik maupun profesional. Kecemasan atau rasa takut memang tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa kita kontrol dengan beberapa teknik yang sudah dikuasai.
Public speaking juga memberikan manfaat, mulai dari meningkatkan kepercayaan diri, memperkuat kemampuan berpikir kritis, hingga membuka peluang karir yang lebih luas. Pada akhirnya, kemampuan ini hanya dapat berkembang apabila kita berani mencoba dan terus berlatih. Karena public speaking bukan soal siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang bernai belajar dan bertumbuh menjadi versi terbaik dari yang terbaik.
Penulis: Fitri Aulia, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)