Pemkot Tangsel Dorong Budidaya Maggot sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Organik

waktu baca 2 minutes
Kamis, 29 Jan 2026 13:29 0 Nazwa

KOTA TANGSEL | TD – Pemerintah Kota Tangerang Selatan menginisiasi pengembangan budidaya maggot sebagai alternatif pengelolaan sampah organik yang dinilai efisien, berbiaya rendah, dan ramah lingkungan, khususnya di lingkungan rumah tangga dan kawasan permukiman.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menyampaikan bahwa maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik dalam waktu singkat sekaligus menghasilkan nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Ia menjelaskan, pemberian pelatihan budidaya maggot kepada warga menjadi bagian dari upaya strategis pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Dengan sistem ini, sampah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tempat pembuangan akhir.

“Pakan maggot berasal dari sampah kita sendiri, jadi tidak membutuhkan biaya tambahan. Tantangannya tinggal bagaimana pengelolaannya dan memastikan hasilnya bisa terserap pasar,” ujar Pilar saat menghadiri Forum Komunikasi Bank Sampah di Kelurahan Pamulang Timur, Tangerang Selatan, Rabu (28/01/2026).

Menurutnya, limbah organik seperti sisa makanan rumah tangga yang selama ini dibuang dapat diolah kembali sebagai pakan maggot. Selain menekan volume sampah, hasil budidaya tersebut juga memiliki nilai guna sebagai pakan ternak, ikan, maupun bahan pendukung sektor pertanian.

Pilar menambahkan, pengembangan maggot perlu dibarengi dengan penguatan peran bank sampah di setiap wilayah. Pemerintah Kota Tangerang Selatan mendorong agar setiap RW memiliki bank sampah yang aktif sebagai pusat pengelolaan sampah berbasis warga.

“Jika bank sampah sudah ada, harus dioptimalkan. Kalau belum, wajib dibentuk. Ini menjadi tanggung jawab bersama RW dan warga, karena persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja,” tegasnya.

Ia menilai, kunci keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya terletak pada teknologi, tetapi pada perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Pilar berharap budidaya maggot dapat berkembang menjadi gerakan kolektif yang lahir dari kesadaran warga untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.

“Pendekatan berbasis masyarakat seperti bank sampah dan maggot harus diperluas agar menjadi budaya bersama, bukan sekadar program sementara. Dengan partisipasi aktif warga, pengelolaan sampah bisa berjalan berkelanjutan sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan dan ekonomi,” pungkasnya. (*)

LAINNYA