Outfit Anti-Catcalling: Bukti Ruang Publik Kita Belum Berpihak pada Perempuan

waktu baca 3 minutes
Selasa, 2 Des 2025 20:59 0 Nazwa

OPINI | TD — Belakangan ini media sosial ramai oleh tren “Outfit Anti-Catcalling”—para perempuan muda memilih berpenampilan seperti ibu-ibu ketika keluar rumah agar tidak diganggu di jalan. Ini bukan sekadar tren lucu-lucu di TikTok. Ini adalah alarm sosial bahwa perempuan harus “menyamarkan diri” demi merasa aman.

Fakta bahwa perempuan harus menyiasati penampilan agar terhindar dari pelecehan verbal adalah ironi besar di ruang publik kita. Seolah perempuan tidak hanya harus memikirkan tujuan mereka ke luar rumah, tetapi juga strategi bertahan hidup dari komentar seksual laki-laki yang tidak mereka minta.

Tren ini tidak hadir dalam ruang kosong. Catcalling sudah menjadi budaya yang terlanjur dianggap wajar: siulan di jalan, komentar bernada seksual, ledekan di transportasi umum, hingga tatapan yang mengintimidasi. Perempuan tidak hanya merasa risih, tetapi juga terancam, tidak aman, dan kehilangan hak untuk mengekspresikan diri.

Data Komnas Perempuan (CATAHU 2023) mencatat peningkatan kekerasan terhadap perempuan di ruang publik hingga 44%. Angka ini adalah bukti konkret bahwa ancaman terhadap perempuan bersifat sistemik. Jadi persoalannya bukan sekadar “gaya berpakaian”, tetapi struktur sosial yang tidak memihak pada perempuan.

Siapa yang sebenarnya harus berubah?

Masyarakat sering sekali menyalahkan cara berpakaian perempuan. Seolah-olah tubuh perempuan adalah pemicu, bukan korban, dari tindakan kekerasan verbal tersebut. Padahal banyak penelitian dan kasus membuktikan hal sebaliknya: pelecehan terjadi bukan karena pakaian, tetapi karena pelaku merasa berkuasa.

Dengan memakai daster, kerudung besar, atau masker, perempuan berharap menjadi “tidak menarik”. Tetapi mengapa perempuan harus mengubah dirinya agar pelaku tidak tergoda? Mengapa beban moral harus selalu diletakkan di pundak perempuan?

Ini adalah bentuk kekerasan simbolik. Ruang publik yang idealnya menjadi ruang aman berubah menjadi ruang penuh ancaman. Perempuan harus mereduksi dirinya agar tidak menjadi target. Itu adalah tanda betapa lemahnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pelecehan seksual.

Masalah utamanya adalah budaya, bukan pakaian

Tindakan catcalling adalah refleksi dari budaya patriarkis yang masih kuat: perempuan dianggap objek, bukan individu bermartabat. Selama anggapan ini masih hidup, selama laki-laki merasa tindakan seperti itu hanyalah “candaan”, maka tren Outfit Anti-Catcalling hanya akan menjadi solusi temporer.

Kita perlu mengubah pola pikir masyarakat, terutama laki-laki, bahwa menghormati perempuan bukan pilihan, tetapi kewajiban moral. Edukasi soal gender, empati, dan batas privasi harus mulai ditanamkan sejak kecil—di rumah, sekolah, dan ruang sosial.

Saatnya ruang publik berpihak pada perempuan

Outfit Anti-Catcalling adalah bentuk perlawanan pasif. Ia memberi sinyal bahwa perempuan tidak pernah sepenuhnya aman di ruang publik kita. Namun tren ini tidak boleh berhenti sebagai strategi bertahan. Ia harus menjadi panggilan untuk perubahan.

Perempuan tidak seharusnya terus bersembunyi di balik pakaian tertentu agar terhindar dari pelecehan. Yang perlu diubah adalah perilaku pelaku, bukan korban. Ruang publik yang aman bukan hanya tentang jalanan bebas kejahatan, tetapi juga kebebasan perempuan menjadi dirinya sendiri tanpa takut direndahkan.

Perempuan berhak berada di ruang publik sebagai manusia, bukan objek tatapan dan komentar seksual.

Penulis: Hasna Nurkamila
Mahasiswa Semester 1 Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA