Puasa menjelang HPL boleh dilakukan jika kondisi ibu dan janin sehat serta atas saran tenaga medis. Namun, keselamatan tetap prioritas—jangan ragu membatalkan puasa jika tubuh tidak memungkinkan. (Foto: Freepik @prostooleh)KESEHATAN | TD – Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Muslim, termasuk bagi para ibu hamil. Namun, bagi ibu hamil yang sudah mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL), keputusan untuk tetap menjalankan puasa tentu bukan hal sederhana. Di satu sisi ada keinginan untuk tetap beribadah secara penuh, tetapi di sisi lain ada pertimbangan kesehatan ibu dan janin yang harus diutamakan. Lalu, apa saja sisi positif dan negatifnya? Dan bagaimana tips aman bagi ibu hamil yang ingin tetap berpuasa?
Puasa dapat memberikan rasa tenang, damai, dan lebih dekat dengan Allah SWT. Kondisi psikologis yang baik akan membantu ibu merasa lebih rileks menjelang persalinan. Ketika hati tenang, hormon stres pun lebih terkendali.
Puasa melatih kesabaran dan pengendalian diri. Bagi ibu hamil, kondisi ini bisa membantu dalam menghadapi rasa tidak nyaman menjelang persalinan, seperti kontraksi palsu, nyeri punggung, atau gangguan tidur.
Saat puasa, waktu makan menjadi lebih terjadwal, yakni saat sahur dan berbuka. Jika dijalani dengan menu bergizi seimbang, pola ini bisa membantu ibu mengatur asupan nutrisi dengan lebih disiplin.
Sebagian ibu hamil cenderung lebih sering ngemil, terutama di trimester akhir. Dengan puasa, frekuensi makan menjadi lebih terkendali sehingga dapat membantu menjaga berat badan tetap stabil sesuai anjuran dokter.
Banyak ibu merasa momen Ramadan saat hamil menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Hal ini bisa memperkuat ikatan emosional antara ibu dan janin, karena ibu merasa sedang menjalani ibadah bersama calon buah hatinya.
– Risiko Dehidrasi
Di trimester akhir, kebutuhan cairan meningkat. Puasa dalam waktu panjang bisa meningkatkan risiko dehidrasi, yang dapat memicu kontraksi dini atau penurunan volume air ketuban.
– Penurunan Kadar Gula Darah
Ibu hamil lebih rentan mengalami hipoglikemia (gula darah rendah). Gejalanya bisa berupa pusing, lemas, gemetar, bahkan pingsan.
– Kelelahan Berlebih
Menjelang HPL, tubuh ibu sudah membawa beban ekstra. Tanpa asupan energi sepanjang hari, risiko kelelahan meningkat dan bisa berdampak pada kondisi fisik menjelang persalinan.
– Gangguan Asupan Nutrisi Janin
Jika sahur dan berbuka tidak memenuhi kebutuhan protein, zat besi, kalsium, dan kalori, pertumbuhan janin bisa terpengaruh.
– Risiko Kontraksi Prematur
Pada sebagian ibu, kondisi lelah dan kurang cairan dapat memicu kontraksi lebih awal dari perkiraan.
Sebelum memutuskan puasa, pastikan kondisi kehamilan dalam keadaan sehat dan tidak berisiko tinggi. Setiap ibu memiliki kondisi yang berbeda.
Minum minimal 8–10 gelas air antara waktu berbuka hingga sahur. Gunakan pola 2–4–2 (2 gelas saat berbuka, 4 gelas malam hari, 2 gelas saat sahur).
Pastikan sahur mengandung karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal), protein (telur, ayam, ikan), lemak sehat, serta sayur dan buah. Hindari makanan terlalu manis saat berbuka agar gula darah tidak melonjak drastis.
Kurangi aktivitas fisik yang menguras tenaga. Perbanyak istirahat agar energi tetap terjaga.
Segera batalkan puasa jika muncul tanda seperti pusing hebat, gerakan janin berkurang, nyeri perut hebat, kontraksi teratur, atau tanda dehidrasi.
Dalam Islam, ibu hamil mendapat keringanan untuk tidak berpuasa jika membahayakan diri atau janin. Jangan merasa bersalah jika memang harus membatalkan demi kesehatan.
Pastikan gerakan janin tetap aktif seperti biasanya. Jika terasa berkurang signifikan, segera periksa ke fasilitas kesehatan.
Puasa bagi ibu hamil yang sudah mendekati HPL bukanlah keputusan hitam-putih. Ada sisi positif dari segi spiritual dan pengendalian diri, tetapi juga terdapat risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Kunci utamanya adalah memastikan kondisi ibu dan janin dalam keadaan aman, memperhatikan asupan nutrisi serta cairan, dan tidak ragu membatalkan puasa jika tubuh memberi sinyal bahaya. Kesehatan ibu dan keselamatan bayi tetap menjadi prioritas utama, karena itulah amanah yang paling berharga menjelang momen kelahiran. (Nazwa)