
Ilustrasi sampul buku Membaca Ulang Serat Centhini: Melacak Waringin Sungsang. (Foto: Ist) BUKU | TD – Ada kalanya persoalan manusia bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada ketidakmampuannya memeriksa cara pengetahuan itu diperoleh, diwariskan, dan diterima sebagai kebenaran. Manusia bisa menguasai banyak teori, menghafal beragam ajaran, bahkan merasa telah memahami dunia melalui pendidikan yang ditempuhnya, tetapi belum tentu menyadari bahwa cara berpikirnya sendiri dibentuk oleh kerangka yang tidak pernah sungguh-sungguh diperiksa. Persoalan inilah yang menjadi pintu masuk untuk membaca buku Membaca Ulang Serat Centhini — Melacak Waringin Sungsang, sebuah karya yang mengajak pembaca menelusuri hubungan antara sastra, filsafat, agama, pendidikan, sejarah, dan pembentukan pengetahuan dalam kebudayaan Nusantara.
Buku ini tidak cukup dibaca sebagai kajian terhadap Serat Centhini, salah satu khazanah sastra Jawa yang memuat beragam pengetahuan mengenai kehidupan manusia. Lebih dari itu, Serat Centhini ditempatkan sebagai jalan untuk mempertanyakan bagaimana suatu kebudayaan membangun pengertiannya tentang dunia, bagaimana pengetahuan disampaikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan bagaimana perubahan sejarah memengaruhi cara manusia membaca warisannya sendiri. Dengan demikian, perhatian buku ini tidak berhenti pada apa yang dikatakan sebuah teks, tetapi bergerak menuju persoalan yang lebih mendasar: bagaimana teks itu dibaca, melalui perangkat berpikir apa ia dipahami, dan sejauh mana perangkat tersebut justru membatasi kemungkinan pemaknaannya.
Salah satu persoalan yang mengemuka dalam buku ini adalah kritik terhadap pendidikan yang cenderung menyamakan penguasaan materi dengan terbentuknya kemampuan berpikir. Pendidikan dapat menghasilkan seseorang yang terampil menjawab pertanyaan, memahami terminologi, dan memenuhi tuntutan akademik, tetapi keberhasilan tersebut tidak dengan sendirinya menjamin bahwa ia mampu mempertanyakan asumsi yang mendasari pengetahuannya.
Melalui pembahasan pendidikan siwa-sisya, buku ini menghadirkan gagasan tentang hubungan guru dan murid yang tidak semata-mata didasarkan pada pemindahan informasi. Pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan manusia melalui dialog, pengalaman, pertanyaan, dan pergulatan intelektual. Pengetahuan tidak cukup diberikan sebagai sesuatu yang sudah selesai, tetapi perlu diolah sehingga menjadi bagian dari kemampuan seseorang untuk memahami kehidupan.
Kritik ini relevan ketika pendidikan semakin mudah terjebak dalam ukuran-ukuran administratif, mulai dari nilai, sertifikat, hingga pencapaian formal yang dapat dihitung. Persoalannya bukan bahwa ukuran tersebut sama sekali tidak diperlukan, melainkan bahwa ukuran yang seharusnya menjadi alat justru berpotensi menggantikan tujuan pendidikan itu sendiri.
Dalam pembacaan ini, keberhasilan pendidikan semestinya tidak hanya diukur melalui seberapa banyak pengetahuan yang dapat dikuasai seseorang, tetapi juga melalui kemampuannya mengenali keterbatasan pengetahuannya, menyusun pertanyaan yang tepat, dan bersedia mengoreksi kesimpulan ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan keyakinannya.
Gagasan waringin sungsang memberikan dimensi simbolis yang kuat bagi keseluruhan pembahasan. Gambaran tentang pohon yang berada dalam keadaan terbalik dapat dibaca sebagai metafora mengenai disorientasi manusia ketika sesuatu yang dianggap wajar ternyata menyimpan persoalan yang tidak disadari. Apa yang terlihat sebagai kemajuan mungkin menyembunyikan kemunduran, sedangkan sesuatu yang dianggap ketinggalan zaman mungkin menyimpan pengetahuan yang belum berhasil dipahami oleh manusia modern.
Pembalikan semacam ini bukan sekadar permainan simbol, melainkan cara untuk mengganggu kemapanan pikiran. Pembaca diajak berhenti sejenak sebelum menerima sesuatu sebagai kebenaran, kemudian memeriksa kembali dasar-dasar yang membuatnya tampak benar.
Di sinilah buku ini bersentuhan dengan pendekatan dekonstruksi. Sebuah konsep tidak diperlakukan sebagai kebenaran yang berdiri sendiri, melainkan diperiksa melalui konteks, hubungan dengan konsep lain, serta asumsi yang menopang keberadaannya. Pembaca tidak hanya bertanya tentang makna suatu pernyataan, tetapi juga tentang bagaimana makna itu terbentuk dan kemungkinan apa yang tertutup ketika satu penafsiran dianggap sebagai satu-satunya penafsiran yang sah.
Meskipun demikian, pembalikan tidak boleh dipahami sebagai kebiasaan untuk selalu menolak pendapat yang mapan. Sesuatu yang dianggap benar tidak otomatis salah hanya karena telah diterima secara luas. Sebaliknya, sesuatu yang dianggap terpinggirkan juga tidak otomatis lebih benar hanya karena berlawanan dengan arus utama. Pembalikan baru memiliki nilai intelektual ketika diikuti pemeriksaan bukti, konteks, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu daya tarik buku ini terletak pada usahanya memperluas cara membaca Serat Centhini. Karya tersebut tidak hanya diposisikan sebagai produk sastra, melainkan sebagai ruang pertemuan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, tradisi, hubungan sosial, pengalaman tubuh, dan pencarian rohani.
Pembacaan semacam ini penting karena karya sastra sering kali diperlakukan sebatas sumber hiburan, dokumen kebudayaan, atau kumpulan petuah yang dapat dikutip untuk memperkuat pendapat tertentu. Padahal, sebuah karya sastra juga dapat memperlihatkan bagaimana suatu masyarakat menyusun pengalaman menjadi pengetahuan, bagaimana gagasan disampaikan melalui cerita, dan bagaimana persoalan kehidupan dipahami melalui simbol serta bahasa.
Melalui pembacaan terhadap Serat Centhini dan kaitannya dengan Syair Tambangraras, perhatian juga diarahkan pada perubahan bentuk penyampaian pengetahuan. Perubahan bentuk tidak selalu berhenti pada persoalan teknis penulisan, sebab cara suatu karya disusun dan disampaikan turut memengaruhi bagaimana pembaca mendekatinya serta bagaimana maknanya diterima.
Dengan demikian, membaca naskah lama menuntut lebih dari sekadar menemukan pesan moral atau ajaran spiritual di dalamnya. Pembaca perlu memahami konteks kemunculan teks, memperhatikan bentuk bahasanya, dan menguji penafsiran melalui hubungan antara bagian-bagian karya. Tanpa disiplin tersebut, tradisi mudah direduksi menjadi pembenaran bagi keyakinan yang sudah dimiliki pembaca sebelumnya.
Dalam pembahasan mengenai shruti indriya rasa, buku ini menawarkan arah pembacaan yang menghubungkan proses menyimak, pengalaman indrawi, dan pengolahan rasa. Gagasan tersebut membuka kemungkinan untuk memahami pengetahuan bukan hanya sebagai kumpulan konsep yang tersusun secara abstrak, melainkan juga sebagai sesuatu yang berhubungan dengan cara manusia mengalami, menerima, dan mengolah kenyataan.
Pendekatan ini memberikan ruang bagi pengalaman manusia yang tidak selalu mudah dijelaskan melalui definisi formal. Bahasa, bunyi, suasana, pengalaman tubuh, dan penghayatan kebudayaan dapat menjadi bagian dari proses memahami sesuatu. Sebuah tembang, misalnya, tidak selalu dapat dipahami secara memadai hanya dengan menerjemahkan kata-katanya, sebab bentuk penyampaian dan pengalaman mendengarkannya turut memengaruhi pengertian yang muncul.
Namun, rasa tidak boleh disamakan begitu saja dengan perasaan subjektif yang kebal terhadap pemeriksaan. Penghayatan dapat menjadi titik awal untuk menemukan persoalan, tetapi penafsiran yang dihasilkan tetap perlu diuji melalui teks, konteks, dan argumentasi. Di sinilah tantangan konseptual buku ini: bagaimana menjelaskan hubungan antara pengalaman dan pengetahuan secara cukup terperinci sehingga nalar rasa tidak berhenti sebagai ungkapan filosofis yang menarik, tetapi dapat digunakan sebagai pendekatan pembacaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Buku ini juga mengangkat persoalan tentang hubungan pengetahuan dengan sejarah, ideologi, pendidikan, dan kolonialisme. Pertanyaan yang mendasarinya adalah sejauh mana cara masyarakat memahami dirinya sendiri dipengaruhi oleh kerangka pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan, tradisi akademik, dan relasi kekuasaan.
Persoalan ini penting karena suatu kebudayaan tidak selalu mewariskan seluruh pengetahuannya secara utuh. Sebagian tradisi dipelajari dan dikembangkan, sebagian lainnya mengalami perubahan bentuk, sedangkan sebagian lagi mungkin kehilangan tempat dalam sistem pendidikan dan kehidupan masyarakat. Karena itu, membaca kembali khazanah Nusantara dapat menjadi usaha untuk memeriksa apa yang diwariskan, apa yang berubah, dan apa yang tidak lagi memperoleh perhatian.
Akan tetapi, kritik terhadap dominasi pengetahuan modern perlu dibedakan dari anggapan bahwa seluruh pengetahuan tradisional pasti lebih unggul. Tradisi juga terbentuk dalam sejarah, memiliki keterbatasan, dan dapat mengandung relasi kekuasaan yang perlu diperiksa. Demikian pula, klaim mengenai pengaruh kolonialisme terhadap hilangnya atau berubahnya suatu sistem pengetahuan membutuhkan dukungan bukti sejarah yang spesifik.
Pada titik ini, buku tersebut akan semakin kuat apabila hubungan antara teks, perubahan sejarah, dan kekuasaan dijelaskan melalui bukti yang terperinci. Semangat membebaskan pemikiran Nusantara dari ketergantungan terhadap satu paradigma perlu disertai keterbukaan untuk menguji kembali kesimpulan yang dihasilkan oleh upaya pembebasan itu sendiri.
Kekuatan utama Membaca Ulang Serat Centhini — Melacak Waringin Sungsang terletak pada keberaniannya menggeser perhatian dari isi pengetahuan menuju cara pengetahuan dibentuk dan dipahami. Buku ini mempertemukan persoalan sastra, filsafat, agama, pendidikan, dan sejarah dalam satu medan pembacaan yang mendorong pembaca untuk tidak menerima kategori-kategori yang diwariskan secara otomatis.
Karya ini juga memiliki arti penting karena memperlakukan khazanah sastra Nusantara sebagai bahan pemikiran, bukan sekadar peninggalan budaya yang harus dikagumi. Tradisi ditempatkan sebagai sesuatu yang dapat dibaca ulang, ditafsirkan, dan diperdebatkan, sehingga hubungan dengan masa lalu tidak harus berbentuk penerimaan tanpa kritik ataupun penolakan tanpa pemahaman.
Meski demikian, keluasan tema dan kepadatan istilah konseptual dapat menjadi tantangan bagi pembaca. Hubungan antara sejumlah konsep filosofis, pembacaan teks, dan klaim sejarah perlu dijelaskan secara konsisten agar pembaca dapat membedakan mana temuan tekstual, mana penafsiran, dan mana hipotesis yang masih membutuhkan pembuktian. Penjelasan metode yang lebih operasional juga akan membantu pembaca memahami bagaimana pendekatan yang ditawarkan dapat diterapkan pada teks lain.
Catatan tersebut tidak menghilangkan arti penting buku ini. Sebaliknya, kritik justru menjadi bagian dari keseriusan membaca sebuah karya yang mengajak pembacanya memeriksa dasar-dasar pengetahuan. Buku yang berbicara tentang dekonstruksi seharusnya membuka ruang bagi pembacaan kritis terhadap gagasannya sendiri.
Pada akhirnya, Membaca Ulang Serat Centhini — Melacak Waringin Sungsang dapat dipahami sebagai ajakan untuk meninjau kembali hubungan manusia dengan pengetahuan yang dimilikinya. Persoalan mendasarnya bukan semata-mata apakah kita telah membaca banyak buku, menguasai teori, atau memahami warisan kebudayaan, melainkan apakah seluruh proses itu telah membuat kita lebih mampu mengenali asumsi sendiri dan memahami kenyataan secara lebih jernih.
Gagasan waringin sungsang mengingatkan bahwa arah yang kita anggap benar belum tentu bebas dari persoalan. Akan tetapi, untuk mengetahui apakah dunia memang terbalik, kita tidak cukup hanya membalik cara pandang. Kita perlu memeriksa dasar penilaian, menguji bukti, dan bersedia memperbaiki kesimpulan ketika menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.
Di situlah nilai penting buku ini: bukan pada kewajiban untuk menerima seluruh gagasannya, melainkan pada dorongannya agar pembaca mengembangkan kemampuan membaca yang lebih reflektif dan kritis. Serat Centhini menjadi pintu masuk untuk memahami tradisi, sedangkan pembacaan ulang menjadi jalan untuk memeriksa cara manusia membentuk pengertian tentang dunia.
Pertanyaan yang akhirnya tertinggal setelah buku ini dibaca adalah pertanyaan yang sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: apakah kita sungguh-sungguh sedang membaca dunia sebagaimana adanya, atau hanya membaca dunia melalui cara berpikir yang selama ini kita warisi tanpa pernah benar-benar memeriksanya?
Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada pembaca Serat Centhini, melainkan juga kepada siapa pun yang merasa telah memiliki pengetahuan. Sebab, belajar berpikir tidak selalu dimulai ketika kita menemukan jawaban baru, tetapi ketika kita mulai berani mempertanyakan cara kita selama ini mencari jawaban.
– Judul: Membaca Ulang Serat Centhini: Melacak Waringin Sungsang
– Penulis: Emmanuel Subangun
– Penerbit: Universitas Sanata Dharma dan Abhiseka Dipantara
– Penyunting: Dr. G. Budi Subanar, S.J.
– Cetakan: Pertama, Desember 2018
– Tebal: 183 halaman
– ISBN: 978-602-5607-55-4. (Red)