Dari Agora Klasik ke Era AI: Ketika Algoritma Mengambil Alih Seni Persuasi

waktu baca 12 menit
Sabtu, 17 Okt 2026 13:49 42 Redaksi

KOLOM | TD — Dulu, manusia meyakinkan manusia melalui kata-kata, karakter, dan argumentasi. Kini, kecerdasan artifisial dan algoritma platform digital ikut menentukan apa yang kita lihat, rasakan, percayai, bahkan pikirkan. Apakah retorika masih menjadi seni persuasi manusia, atau telah berubah menjadi mesin yang mengelola perhatian dan emosi kita?

Bayangkan seorang orator berdiri di tengah agora, ruang publik di Yunani Kuno. Di hadapannya, warga berkumpul untuk mendengarkan gagasan, memperdebatkan persoalan, dan menentukan sikap terhadap kehidupan bersama. Sang orator tidak memiliki algoritma untuk memilih audiens, tidak menggunakan kecerdasan artifisial untuk menyusun pidato, dan tidak bergantung pada sistem rekomendasi untuk memperluas pengaruhnya. Ia hanya memiliki kata-kata, pengetahuan, karakter, dan kemampuannya membaca suasana.

Di ruang itulah retorika menemukan salah satu akar sejarahnya: seni berbicara untuk meyakinkan orang lain.

Selama berabad-abad, retorika menjadi bagian penting dalam politik, pendidikan, hukum, dan kehidupan demokrasi. Seorang pemimpin meyakinkan rakyat, seorang pengacara membangun argumentasi di hadapan hakim, dan seorang intelektual mengajak masyarakat mempertanyakan keyakinan yang dianggap mapan. Persuasi berlangsung melalui hubungan antarmanusia, meskipun sejak awal tidak selalu digunakan untuk tujuan yang baik.

Namun, dunia komunikasi telah berubah secara mendasar. Agora kini tidak hanya berada di alun-alun atau ruang pertemuan. Ia menjelma menjadi media sosial, mesin pencari, platform video, dan berbagai ruang digital yang mempertemukan jutaan orang setiap saat.

Di ruang baru ini, manusia tidak lagi menjadi satu-satunya aktor yang menentukan bagaimana pesan dibuat, disebarkan, dan diterima. Algoritma memilih konten yang muncul di layar, kecerdasan artifisial mampu menghasilkan teks dan gambar yang meyakinkan, sementara platform mengatur arsitektur interaksi yang membentuk pengalaman pengguna.

Perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan penting: bagaimana seni persuasi bekerja ketika mesin ikut terlibat dalam membentuk opini publik?

Ketika karakter, emosi, dan logika memasuki dunia digital

Untuk memahami perubahan tersebut, kita perlu kembali kepada tiga unsur retorika yang dikenal melalui pemikiran Aristoteles: ethos, pathos, dan logos.

Ethos berkaitan dengan kredibilitas pembicara. Orang cenderung mempercayai seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan, integritas, dan reputasi baik. Pathos berhubungan dengan kemampuan membangkitkan emosi audiens. Sementara itu, logos menekankan kekuatan alasan dan argumentasi dalam mendukung suatu pendapat.

Ketiganya tidak hanya relevan dalam pidato klasik, tetapi juga hadir dalam komunikasi digital. Bedanya, cara ketiga unsur itu dibangun dan digunakan kini semakin dipengaruhi teknologi.

Di media sosial, misalnya, kredibilitas seseorang tidak selalu terbentuk melalui rekam jejak yang diketahui publik. Jumlah pengikut, tanda verifikasi, tampilan profesional, popularitas konten, dan rekomendasi platform dapat menciptakan kesan bahwa seseorang layak dipercaya. Padahal, popularitas tidak otomatis menunjukkan kompetensi, sebagaimana tampilan meyakinkan tidak menjamin kebenaran informasi.

Di sinilah muncul apa yang dapat disebut sebagai synthetic ethos, atau kredibilitas sintetik. Istilah ini menggambarkan kredibilitas yang dibentuk atau diperkuat melalui representasi digital dan mekanisme teknologi, bukan semata-mata melalui reputasi serta integritas personal.

Kecerdasan artifisial bahkan dapat menghasilkan sosok virtual, gambar realistis, video sintetis, dan narasi yang tampak autentik. Sebuah akun dapat terlihat profesional, memiliki gaya komunikasi yang konsisten, dan menyampaikan informasi dengan bahasa yang meyakinkan, meskipun identitas, keahlian, atau dasar faktual di baliknya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Persoalannya bukan bahwa semua kredibilitas digital merupakan kepalsuan. Teknologi juga dapat membantu verifikasi dan memperluas akses terhadap informasi yang tepercaya. Persoalan muncul ketika penampilan dan pengakuan sistem dianggap cukup untuk menggantikan pemeriksaan kritis.

Dengan kata lain, di era digital, kita perlu membedakan antara sesuatu yang tampak dapat dipercaya dan sesuatu yang memang layak dipercaya.

Emosi yang Dibaca Mesin

Perubahan berikutnya menyangkut pathos, yakni kemampuan memengaruhi emosi.

Dalam retorika klasik, seorang orator dapat mengamati wajah pendengarnya, menyesuaikan intonasi, memilih kata yang tepat, dan mengubah cara berbicara berdasarkan respons audiens. Kemampuan tersebut bergantung pada pengalaman, kepekaan, dan interaksi langsung.

Di ruang digital, sebagian proses itu dapat berlangsung melalui analisis data perilaku. Sistem platform dapat menggunakan riwayat interaksi, durasi menonton, klik, pencarian, dan berbagai sinyal lainnya untuk memperkirakan jenis konten yang menarik perhatian pengguna. Hasilnya dapat memengaruhi rekomendasi konten yang muncul berikutnya.

Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep affective algorithm, yaitu penggunaan sistem algoritmik untuk mengenali, memperkirakan, atau mengoptimalkan respons afektif pengguna.

Bayangkan seseorang yang beberapa kali menonton video tentang konflik politik. Sistem rekomendasi dapat memperkirakan bahwa konten serupa berpotensi menarik perhatiannya dan kemudian menampilkan lebih banyak video dengan tema yang berdekatan. Jika konten yang memicu kemarahan atau ketakutan menghasilkan interaksi tinggi, konten semacam itu berpotensi memperoleh distribusi lebih luas, bergantung pada cara kerja sistem yang digunakan.

Kita tidak perlu membayangkan sebuah mesin yang sepenuhnya memahami perasaan manusia. Algoritma tidak harus mengetahui secara mendalam apa yang dirasakan seseorang untuk dapat memprediksi perilakunya. Pola interaksi saja dapat digunakan untuk memperkirakan konten yang kemungkinan besar akan ditonton, disukai, atau dibagikan.

Di sinilah persoalan etis muncul. Ketika emosi menjadi sesuatu yang dapat dipetakan dan diprediksi, ia juga berpotensi dimanfaatkan sebagai instrumen persuasi.

Kemarahan dapat mendorong seseorang membagikan berita. Ketakutan dapat membuatnya terus mengikuti perkembangan suatu isu. Rasa bangga dapat memperkuat loyalitas kelompok, sedangkan kecemasan dapat meningkatkan ketertarikan terhadap konten yang menjanjikan kepastian.

Tentu saja, tidak semua konten emosional bersifat manipulatif. Emosi merupakan bagian wajar dari komunikasi manusia. Masalahnya muncul ketika pengelolaan emosi dilakukan secara sistematis demi mengejar keterlibatan pengguna, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas informasi dan kebebasan mengambil keputusan.

Ketika Kebenaran Bersaing dengan Relevansi

Perubahan ketiga berkaitan dengan logos, yaitu kekuatan argumentasi dan penalaran.

Dalam tradisi retorika, argumentasi yang baik semestinya memberikan alasan yang dapat diperiksa, menunjukkan hubungan yang masuk akal antara bukti dan kesimpulan, serta membuka ruang bagi sanggahan. Dalam praktiknya, retorika klasik pun tidak selalu berorientasi pada kebenaran. Argumentasi dapat digunakan untuk membela kepentingan, menutupi fakta, atau memenangkan perdebatan.

Namun, era algoritmik memperkenalkan persoalan baru: pesan dapat dioptimalkan berdasarkan kemampuannya menarik perhatian dan memprediksi respons pengguna.

Kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep predictive logic, yakni logika komunikasi yang menempatkan prediksi perilaku, relevansi, dan personalisasi sebagai pertimbangan utama dalam penyajian pesan.

Ketika seseorang membuka platform digital, ia tidak selalu melihat informasi yang paling penting bagi kepentingan publik. Ia cenderung melihat konten yang dipilih berdasarkan berbagai sinyal, seperti minat, aktivitas sebelumnya, popularitas, dan tujuan sistem rekomendasi.

Personalisasi memiliki manfaat. Pengguna dapat menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, mempelajari topik tertentu, atau menjangkau komunitas yang relevan. Namun, relevansi personal tidak identik dengan kebenaran.

Sebuah informasi bisa sangat menarik bagi seseorang, tetapi tidak akurat. Sebuah narasi bisa sesuai dengan keyakinan pengguna, tetapi mengabaikan bukti yang bertentangan. Sebuah video dapat terasa meyakinkan karena disampaikan secara emosional, meskipun argumennya lemah.

Masalah semakin rumit ketika kecerdasan artifisial digunakan untuk menghasilkan pesan dalam jumlah besar dan menyesuaikan penyampaiannya kepada kelompok audiens yang berbeda.

Dengan kemampuan tersebut, persuasi tidak lagi harus berlangsung melalui satu pidato yang disampaikan kepada banyak orang. Pesan dapat dirancang dalam beragam versi, menggunakan gaya bahasa berbeda, dan disesuaikan dengan kebutuhan atau kecenderungan audiens.

Pertanyaan pentingnya bukan apakah personalisasi harus ditolak, melainkan apa yang menjadi dasar pengoptimalannya. Apakah sistem membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih baik, atau hanya meningkatkan kemungkinan orang mengeklik, menonton, dan bereaksi?

Jika ukuran keberhasilan komunikasi hanya didasarkan pada keterlibatan, kebenaran dan tanggung jawab publik berisiko ditempatkan di urutan berikutnya.

Retorika dan Bisnis Pengawasan

Di balik perubahan cara persuasi bekerja, terdapat persoalan ekonomi politik yang lebih besar: bagaimana data perilaku manusia menjadi sumber nilai ekonomi.

Dalam model bisnis digital yang bertumpu pada pengumpulan dan pemanfaatan data, aktivitas pengguna dapat digunakan untuk memahami preferensi, memprediksi tindakan, dan menyesuaikan layanan maupun iklan. Perhatian manusia menjadi sesuatu yang diperebutkan, sementara perilaku digital menghasilkan data yang memiliki nilai komersial.

Kondisi ini berkaitan dengan konsep kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism), yang antara lain dipopulerkan oleh Shoshana Zuboff untuk menjelaskan model ekonomi yang memanfaatkan pengalaman manusia sebagai bahan bagi pengumpulan data, prediksi, dan intervensi perilaku.

Dalam konteks retorika, persoalannya menjadi semakin serius ketika teknologi persuasi terintegrasi dengan kepentingan komersial tersebut.

Pesan tidak hanya dirancang untuk meyakinkan, tetapi juga dapat dioptimalkan untuk mempertahankan perhatian, mendorong interaksi, dan menghasilkan keuntungan. Emosi, preferensi, dan kebiasaan pengguna menjadi bagian dari mekanisme yang membantu sistem menentukan konten apa yang berpotensi memberikan hasil terbaik.

Di sinilah muncul paradoks komunikasi digital. Platform memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk berbicara, berpendapat, dan membangun komunitas. Pada saat yang sama, akses terhadap perhatian publik semakin dimediasi oleh sistem yang aturan dan kepentingannya tidak selalu transparan.

Semua orang mungkin dapat mengunggah pendapat, tetapi tidak semua pendapat memperoleh peluang yang sama untuk terlihat. Sebuah isu dapat menjadi perbincangan luas, sementara isu lain yang sama pentingnya tidak pernah mencapai perhatian publik dalam skala serupa.

Dengan demikian, kekuasaan retoris tidak lagi hanya berkaitan dengan siapa yang memiliki kemampuan berbicara paling baik. Kekuasaan itu juga berkaitan dengan siapa yang dapat memengaruhi distribusi pesan, memahami mekanisme platform, mengakses data, dan mengoptimalkan sistem komunikasi.

Manusia, Algoritma, dan Platform: Lahirnya Agensi Hibrida

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi publik kini semakin melibatkan apa yang dapat disebut sebagai agensi hibrida.

Istilah ini merujuk pada situasi ketika proses komunikasi terbentuk melalui interaksi antara intensi manusia, kemampuan algoritma, dan arsitektur platform.

Manusia tetap menentukan banyak hal: tujuan komunikasi, kepentingan yang diperjuangkan, pesan yang hendak disampaikan, serta keputusan untuk menggunakan atau menyebarkan konten tertentu. AI dapat membantu menyusun argumen, menghasilkan teks, membuat gambar, menganalisis data, atau menyarankan bentuk penyampaian pesan. Platform, pada gilirannya, menyediakan lingkungan yang menentukan bagaimana pesan dipublikasikan, direkomendasikan, dan dipertemukan dengan audiens.

Ketiganya saling berhubungan, tetapi tidak memiliki kekuasaan yang sama.

Seorang pengguna dapat membuat konten yang menarik, tetapi jangkauannya tetap dipengaruhi mekanisme distribusi platform. AI dapat menghasilkan argumentasi yang tampak masuk akal, tetapi kualitasnya bergantung pada berbagai faktor, termasuk informasi yang digunakan dan proses pemeriksaan manusia. Platform dapat mempertemukan banyak orang, tetapi desain dan kebijakan sistemnya turut memengaruhi pola interaksi mereka.

Karena itu, ketika sebuah pesan menimbulkan dampak sosial, pertanyaan tentang tanggung jawab tidak selalu sederhana. Apakah tanggung jawab berada pada orang yang membuat pesan, pihak yang mengoperasikan AI, perusahaan yang mengembangkan platform, atau organisasi yang memanfaatkan teknologi tersebut?

Jawabannya bergantung pada peran, kendali, pengetahuan, dan keputusan masing-masing pihak. Namun, satu hal jelas: keterlibatan teknologi tidak seharusnya menjadi alasan bagi manusia maupun institusi untuk melepaskan tanggung jawab moral.

Agensi hibrida juga tidak berarti mesin telah menggantikan manusia sepenuhnya. Konsep ini justru membantu kita melihat bahwa tindakan komunikasi semakin dibentuk oleh hubungan antara keputusan manusia dan sistem teknis yang mengelilinginya.

Mengapa Kita Membutuhkan Literasi Retorika AI?

Dalam situasi tersebut, literasi digital saja belum tentu cukup. Masyarakat tidak hanya perlu mengetahui cara menggunakan teknologi, mengenali berita palsu, atau memeriksa sumber informasi. Kita juga perlu memahami bagaimana pesan dirancang untuk memengaruhi keyakinan, emosi, dan tindakan.

Inilah pentingnya literasi retorika AI.

Pertama, masyarakat perlu mengembangkan sikap kritis terhadap kredibilitas digital. Tanda verifikasi, jumlah pengikut, tampilan profesional, dan gaya bahasa yang meyakinkan tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk mempercayai suatu informasi. Sumber, bukti, konteks, dan rekam jejak tetap perlu diperiksa.

Kedua, kita perlu memahami bahwa konten yang muncul di layar bukanlah gambaran lengkap dari realitas. Sistem rekomendasi dapat membantu menemukan informasi, tetapi juga dapat membatasi paparan terhadap sudut pandang tertentu. Pengguna perlu membandingkan sumber, mencari perspektif alternatif, dan tidak hanya bergantung pada konten yang disajikan secara otomatis.

Ketiga, masyarakat perlu mengenali strategi persuasi berbasis emosi. Ketika suatu pesan sengaja membangkitkan kemarahan, ketakutan, atau kebencian, kita perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk memeriksa fakta sebelum bereaksi atau menyebarkannya.

Keempat, penggunaan AI harus disertai kesadaran tentang transparansi dan akuntabilitas. Siapa yang menghasilkan pesan? Apakah konten tersebut menggunakan materi sintetis? Apa dasar klaim yang disampaikan? Siapa yang bertanggung jawab jika informasi itu menyesatkan atau merugikan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika AI mampu menghasilkan konten yang menyerupai komunikasi manusia secara meyakinkan.

Pada akhirnya, literasi retorika AI bukanlah upaya menolak teknologi. Sebaliknya, literasi ini merupakan usaha agar masyarakat mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis, mempertimbangkan bukti, dan mengambil keputusan secara mandiri.

Menyelamatkan Ruang Publik di Era Algoritmik

Evolusi retorika dari agora klasik menuju era algoritmik dan AI memperlihatkan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian medium komunikasi.

Pada masa lalu, kekuatan persuasi terutama terlihat melalui kemampuan manusia membangun kredibilitas, menggugah emosi, dan menyusun argumentasi. Kini, ketiga unsur tersebut beroperasi dalam lingkungan yang juga dibentuk oleh data, kecerdasan artifisial, sistem rekomendasi, dan kepentingan ekonomi platform.

Kredibilitas dapat dibangun secara sintetik. Emosi dapat diperkirakan melalui pola perilaku. Pesan dapat dipersonalisasi berdasarkan prediksi. Sementara itu, distribusi informasi semakin bergantung pada arsitektur teknologi yang tidak selalu mudah dipahami publik.

Perubahan ini menuntut kita untuk memperluas cara mempelajari retorika. Kita tidak cukup hanya bertanya siapa yang berbicara, apa yang disampaikan, dan bagaimana audiens diyakinkan. Kita juga perlu mempertanyakan bagaimana pesan diproduksi, bagaimana algoritma memengaruhi jangkauannya, data apa yang digunakan, kepentingan siapa yang dilayani, serta bagaimana tanggung jawab etis ditegakkan.

Pada titik inilah persoalan retorika bertemu dengan masa depan demokrasi. Ruang publik yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar kebebasan untuk berbicara. Ia juga membutuhkan akses terhadap informasi yang dapat dipercaya, kesempatan untuk menguji argumentasi, keterbukaan terhadap perbedaan, dan perlindungan terhadap manipulasi.

Teknologi AI dapat membantu memperluas akses pengetahuan, memperkaya argumentasi, dan membuka kesempatan partisipasi bagi lebih banyak orang. Namun, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis. Ia bergantung pada cara teknologi dirancang, digunakan, diawasi, dan dipertanggungjawabkan.

Mungkin inilah pertanyaan paling mendasar yang perlu kita ajukan hari ini: ketika mesin semakin mampu meyakinkan manusia, siapa yang memastikan bahwa persuasi tetap berpihak pada kebenaran dan kebebasan berpikir?

Agora telah berpindah ke layar. Orator kini dapat hadir dalam bentuk manusia, akun anonim, atau representasi sintetis yang dihasilkan AI. Akan tetapi, kebutuhan mendasar masyarakat tidak berubah: kemampuan membedakan fakta dari manipulasi, argumentasi dari propaganda, dan kredibilitas dari sekadar penampilan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar era algoritmik bukanlah ketika mesin mampu berbicara seperti manusia. Tantangannya adalah ketika manusia berhenti mempertanyakan apa yang dikatakan mesin—dan mengapa pesan itu ditampilkan kepada mereka.

Sebab, dalam dunia yang semakin dikuasai algoritma, kemampuan berpikir kritis bukan sekadar keterampilan komunikasi. Ia merupakan salah satu syarat untuk mempertahankan kebebasan manusia. (*)

LAINNYA