Kurikulum Rizki dalam Rumah Tangga Muslim

waktu baca 3 minutes
Kamis, 22 Jan 2026 18:18 0 Nazwa

OPINI | TD — Rizki adalah sesuatu yang Allah anugerahkan kepada seluruh makhluk-Nya tanpa kecuali. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan dimensi. Ada rizki yang bersifat materi, seperti harta, makanan, dan kesehatan. Ada pula rizki nonmateri yang sering kali luput disadari, seperti ilmu, ketenangan batin, kasih sayang, serta hidayah. Dalam bahasa Arab, rizki bermakna pemberian atau karunia, yang menegaskan bahwa sejatinya semua yang kita miliki bersumber dari Allah SWT.

Al-Qur’an mengingatkan hal ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 3, “…dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka.” Ayat ini menegaskan bahwa rizki bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagikan dan dimanfaatkan sesuai kehendak-Nya. Dalam kehidupan berkeluarga, konsep rizki setidaknya mengarah pada dua tujuan utama: pertama, mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan; dan kedua, memberi kemanfaatan bagi sesama manusia.

Jalan Mendatangkan Rizki yang Berkah

Rizki yang berkah tidak hadir secara kebetulan. Ia lahir dari sikap hidup dan nilai-nilai yang dijalankan dengan kesadaran penuh. Beberapa komponen penting dalam mendatangkan rizki antara lain:

  • Pertama, meluruskan niat dengan keikhlasan yang mendalam. Segala usaha hendaknya diniatkan sebagai ibadah, disertai komitmen untuk menjauhi hal-hal yang diharamkan.
  • Kedua, berusaha dengan cara yang benar dan halal, sebab Allah hanya memberkahi usaha yang baik.
  • Ketiga, menjalankan usaha dengan penuh kesadaran akan ridha Allah, bukan semata-mata mengejar hasil.
  • Keempat, senantiasa mendekatkan diri kepada Allah melalui rasa syukur, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak istighfar.
  • Kelima, menggunakan rizki dengan benar, di antaranya melalui zakat dan sedekah, sebagai wujud tanggung jawab sosial dan spiritual.

Penghalang Lancarnya Rizki

Sebaliknya, ada pula sikap dan kebiasaan yang dapat menjadi penghalang datangnya rizki atau menghilangkan keberkahannya. Di antaranya adalah terlalu sering mengeluh tanpa disertai rasa syukur, menjauh dari Allah dan meninggalkan perintah-Nya, serta menunda-nunda shalat. Rumah yang sepi dari bacaan Al-Qur’an juga kerap menjadi sebab hilangnya ketenangan.

Selain itu, sifat bakhil terhadap keluarga maupun orang lain, mencari nafkah dengan unsur syubhat, serta perilaku saling menyakiti dan berbuat zalim turut menghalangi keberkahan rizki. Hubungan yang tidak harmonis dengan kedua orang tua dan kebiasaan menyia-nyiakan waktu Subuh—bahkan menjadikannya waktu tidur—juga termasuk penghalang yang sering diremehkan.

Rizki Halal dan Ketahanan Keluarga

Pada hakikatnya, rizki yang halal membawa ketenangan bagi diri dan keluarga. Ia menumbuhkan rasa cukup, lapang dada, serta kemudahan dalam beribadah. Sebaliknya, harta yang haram kerap melahirkan kegelisahan, konflik batin, dan menjauhkan seseorang dari Allah. Karena itu, Allah mengingatkan dalam Surah At-Tahrim ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.”

Ayat ini menegaskan bahwa mencari rizki bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan bagian dari tanggung jawab menjaga keselamatan spiritual keluarga.

Semoga kita semua mampu berusaha mencari rizki yang baik dan halal, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berbagi dengan sesama.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Penulis: DR. Zulkifli, MA. (*)

LAINNYA