Noershofy Sya’ban Triannisa. (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Konflik antara Iran dan Israel yang kembali memanas pada tahun 2026 menjadi salah satu isu geopolitik paling mencolok di dunia saat ini. Perang ini tidak lagi sekadar pertikaian dua negara di Timur Tengah, tetapi sudah berkembang menjadi konflik yang melibatkan kepentingan kekuatan besar dunia, termasuk Amerika Serikat. Situasi ini membuat konflik semakin kompleks dan berdampak jauh melampaui batas wilayah kedua negara.
Ketegangan lama antara Iran dan Israel akhirnya kembali meledak setelah serangan militer besar-besaran terhadap fasilitas strategis Iran. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Serangan balasan tersebut memperpanjang rantai kekerasan dan menunjukkan bahwa konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Konflik ini juga melibatkan banyak pihak. Amerika Serikat secara terbuka menjadi sekutu Israel, sementara kelompok seperti Hezbollah ikut masuk dalam dinamika konflik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan banyak aktor ini menjadikan konflik bukan lagi sekadar perselisihan bilateral, melainkan bagian dari rivalitas geopolitik yang lebih luas.
Jika dilihat secara geografis, pusat konflik memang berada di kawasan Timur Tengah, terutama di wilayah Iran, Israel, Lebanon, dan sekitar Teluk Persia. Namun, dampaknya terasa secara global. Ketegangan di wilayah ini memengaruhi jalur perdagangan internasional dan pasokan energi dunia. Karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi minyak terbesar, ketidakstabilan di sana turut memengaruhi harga energi dan perekonomian banyak negara.
Salah satu akar utama konflik ini adalah ketegangan terkait program nuklir Iran. Israel menilai bahwa program tersebut berpotensi mengancam keamanan mereka. Di sisi lain, perebutan pengaruh di Timur Tengah serta minimnya rasa saling percaya antara kedua negara turut memperparah keadaan. Meskipun berbagai upaya diplomasi pernah dilakukan, solusi yang dihasilkan tidak pernah bertahan lama. Akhirnya, kekuatan militer kembali menjadi pilihan utama.
Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan secara politik dan ekonomi, tetapi juga sangat besar dari sisi kemanusiaan. Banyak warga sipil menjadi korban, infrastruktur hancur, dan kehidupan masyarakat terganggu. Anak-anak kehilangan tempat tinggal, keluarga kehilangan anggota mereka, dan rasa aman semakin sulit ditemukan. Dari sisi ekonomi global, konflik ini juga memicu kenaikan harga minyak dan memperbesar ketidakpastian ekonomi dunia.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa dalam banyak kasus, kepentingan politik sering kali lebih diutamakan dibandingkan nilai kemanusiaan. Serangan demi serangan mungkin dianggap sebagai strategi untuk memperkuat posisi tawar, tetapi pada kenyataannya hanya memperluas penderitaan dan memperpanjang konflik. Siklus kekerasan terus berulang: serangan dibalas dengan serangan, dan ketegangan semakin sulit dikendalikan.
Salah satu persoalan terbesar dalam konflik ini adalah tidak adanya solusi jangka panjang yang efektif. Gencatan senjata yang sesekali terjadi hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan. Ini menunjukkan bahwa konflik bukan hanya tentang keamanan, tetapi juga menyangkut kepentingan kekuasaan, pengaruh politik, dan dominasi kawasan.
Pada akhirnya, pihak yang paling dirugikan bukanlah para pengambil keputusan politik, melainkan masyarakat sipil yang tidak memiliki kendali atas konflik ini. Mereka harus menanggung dampak terbesar, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga ketidakpastian masa depan. Hal ini menjadi pengingat bahwa perang selalu membawa penderitaan, terlepas dari alasan yang dikemukakan.
Konflik Iran–Israel adalah gambaran nyata bagaimana politik global dapat berdampak langsung pada kehidupan manusia. Selama kepentingan politik masih lebih dominan dibandingkan kemanusiaan, perdamaian akan sulit terwujud. Jika diplomasi tidak benar-benar diutamakan dan kepercayaan tidak dibangun kembali, konflik serupa hanya akan terus berulang di masa depan.
Penulis: Noershofy Sya’ban Triannisa
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA). (*)